Wawancara

DR.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) (Ist)DR.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) (Ist)JAKARTA- Hari ini, Jumat 23 Desember 2016, tepat dua bulan (60 hari) Mantan Menteri Kesehatan, DR.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) tinggal di dalam Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih memperpanjang penahanan dirinya, dengan alasan sampai saat ini tidak ditemukan bukti atas tuduhan korupsi pada dirinya. Bergelora.com memuat surat ketiga Menteri Kesehatan yang pernah menggratiskan biaya kesehatan seluruh rakyat Indonesia ini kepada Dr. Eva Sri Diana, Sp.P, seorang Dokter Spesialis Paru bekerja di Rumah Sakit Pasar Rebo Jakarta Timur, aktif memimpin organisasi Dokter Indonesia Bersatu (DIB)

Dear Eva,

Surat ini ibu tulis di malam hari, ketika ibu bangun dari tidur yang tidak terlalu pulas. Kalau tidak ngantuk ngapain dipaksa untuk tidur? Pola hidup ibu disini sangat berbeda Eva dengan sewaktu Ibu diluar sana.

Disini benar-benar “waktu” itu milik kita. Tidak ada yang menyaingi, Eva. Waktu dan kita adalah satu, tidak ada yang menyela. Apakah itu dering telepon, dering whatsapp, apakah itu musik, apakah itu urusan dengan asisten rumah tangga, apalagi urusan pekerjaan dan urusan pasien.

Saat ini sebenarnya belum terlalu malam, karena ibu tidur jam 21.00 dan sekarang jam 24.00. Untuk sholat malam masih terlalu dini, mengaji Al-Kahfi sudah berkali-kali hari ini.

Oh iya, sekarang ibu sedang menghafal surat Al-Kahfi, Eva..

Mana bisa hal ini kita lakukan di luar sana yang selalu sibuk melulu..

Sebetulnya, Tuhan menyadarkan ibu Eva..

Eva, betapa berharganya waktu bila kita ingat hidup ini bukan hanya di dunia saja.

Ketika manusia diberi kebebasan maka mereka akan memilih kepuasan di dunia tanpa ingat urusan akhirat..

Begitu kebebasan memilih itu dibatasi. Maka, tergantung dari manusianya apakah yang akan mereka cari. Ada kalanya, Tuhan membatasi kebebasan kita, bukan di dalam penjara Eva. Tapi dengan kekayaan yang melimpah, dengan kemiskinan yang menyakitkan..

Kadang kebebasan manusia dirampas oleh Tuhan, bukan di dalam penjara, tapi di dalam “kekuasaan” yang menyilaukan. Contohnya, banyak penguasa yang tidak bebas memilih kebijakan yang rohmatanlilalaamiin..

Maka menjadi pemimpin tidak mudah, Eva. Karena selain tanggung jawabnya langsung kepada Allah SWT, juga harus berjuang untuk benar-benar merdeka dari segala ketakutan sehingga pemimpin bisa dengan bebas memerdekakan rakyatnya menjadi manusia yang bermartabat

Ah.. Ibu ngelantur..

Malam-malam begini masih saja mengingat bagaimana rakyat ini menjadi sejahtera. Setidaknya ibu berdoa Eva, mudah-mudahan Allah SWT mengkaruniai bangsa dan negeri kita tercinta ini dengan rahmat dan hidayah yang melimpah.

Eva..

Kapan kamu datang lagi?

Sudahkah surat ibu yang kedua di upload sehingga sahabat-sahabat ibu bisa membacanya? Mudah-mudahan mereka rindu dengan tulisan ibu seperti ibu merindukan mereka.

Eva..

Ibu meneruskan tulisan ini setelah pagi hadir kembali. Setiap hari seperti ini ibu selalu terbangun di pagi hari, dan masih seperti kemarin..

Kepada siapa ibu bisa berbicara bahwa tuduhan penyidik KPK itu tidak benar? Pasti tidak ada yang percaya ya, karena ibu sudah ditahan disini. Yang pasti, Allah SWT tahu bagaimana sebenarnya dan terserah Dia, bagaimana nasib ibu selanjutnya.

Rasanya memang menyakitkan Eva dituduh sesuatu yang tidak pernah Ibu lakukan. Inilah fitnah yang tidak terelakkan. Semuanya bisa direkayasa..

Ingat enggak sama Pak Antasari, Eva?

Semua orang tahu dia difitnah tapi tak seorang pun yang bisa menolongnya. Tuhan selalu punya rencana yang kita tidak tahu.

Mudah-mudahan skenario Tuhan adalah skenario yang menyenangkan di dunia dan di akhirat. Buat ibu, itu saja harapan ibu.

Semua manusia di dunia sebenaranya hanya sekedar menjalani skenario yang sudah Tuhan rencanakan. Namun, masih saja banyak yang sombong ya seolah-olah apa yang diperoleh karena semata-mata kehebatan dirinya.

Eva,

Sudah hampur dua bulan ibu mendekam disini, namun baru dua kali ibu di periksa KPK. Padahal gunanya ditahan kan agar mempermudah pemeriksaan bukan? Ibu tidak mengerti kenapa ibu dibiarkan saja disini dan tidak bisa apa-apa. Inilah ketidakadilan di negeri kita, Eva.

Ada tersangka yang harus ditahan, ada tersangka yang tidak ditahan. Semuanya ada alasannya masing-masing. Sesuai dengan keinginan penguasa yang berwenang bukan sesuai aturan atau undang-undang.

Payah deeeeeeehhhh..

Biar saja. Siapapun yang mengambil hak orang lain pasti ada karmanya. Mereka mengambil hak-hak ibu. Mudah-mudahan kelak mereka akan mengalaminya yang lebih pahit. Kalau bukan dia ya mungkin anak-nya. Tuhan tidak pernah tidur.

Ah tidak perlu sakit hati, karena hanya akan menyakiti hati kita sendiri. Apapun yang harus kita lalui, mudah-mudahan Tuhan meridhoi.

Eva..

Seperti biasanya ibu ingin bercerita padamu tentang apa yang ibu lihat. Tentu saja mengenai kemanusiaan..

Di surat ibu yang lalu ibu pernah cerita bahwa ibu dibantu oleh anak muda untuk mengurus kamar. Dia bernama Lily..

Pada suatu hari, Lily tampak sangat bersedih, matanya sembab, terlihat habis menangis.

Lily, perempuan 30 tahun yang mempunyai paras yang cukup menarik, senyumnya hampir tidak pernah meninggalkan bibirnya yang kecil.

Ibu sapa dia, “Ada apa Lily? Kok matamu sembab? Habis menangis?”

Dia menjawab, ” Iya ibu, saya sangat rindu dengan anak saya yang kecil, dia diasuh sepupu saya sekarang. Dia akan datang besok pagi.”

“Oh..” Ibu hanya bisa menggumam dan rasanya seperti hilang semua yang ibu fikirkan hingga kehabisan kata-kata.

Ibu tahu dia sudah 6 bulan disini, pasti sudah selama itu dia berpisah dengan anaknya yang ketika ditinggal akan berulang tahun yang ke-3. Ibu tidak tahu mengapa dia di penjara disini.

Tiba-tiba dia duduk bersimpuh di depan ibu sambil berlinang air mata.

“Sudahlah Lily, bukankah besok pagi dia akan datang?” Ibu berusaha menghibur dia.

“Eh Lily, kenapa sih kamu disini?” Ibu langsung bertanya.

Sambil menghapus air matanya dia menjawab sambil mengulurkan senyum kecutnya, “Iya ibu. Saya belum pernah cerita ke ibu mengapa saya disini, yang jelas saya bukan penipu, saya tidak melakukan kejahatan-kejahatan seperti itu. Tapi, bolehkah saya bercerita dari awal ibu?’

“Oh.. Boleh boleh” ibu penasaran.

Akhirnya dia bercerita..

“Saya seorang sarjana yang bekerja di perusahaan kecil dengan gaji yang tidak banyak. Suami saya juga seorang sarjana yang bekerja di bank. Anak saya ada dua, semuanya perempuan, anak saya yang sulung sangat hiperaktif, kata dokter menderita ADHD. Saya kira ibu faham bahwa anak ADHD itu membutuhkan biaya yang banyak untuk perawatan. Dengan pendapatan kami berdua, kami merasa cukup walaupun pas-pasan.

Pada suatu hari suami saya di PHK ibu. Bagaikan perahu kecil yang terombang-ambing badai di tengah lautan, keuangan rumah tangga kami hancur lebur. Suami berusaha mati-matian mencari pekerjaan tetapi tidak berhasil sedangkan kebutuhan kami terus berjalan.

Akhirnya suami saya mengusulkan suatu cara untuk mendapatkan uang dengan cara yang cukup mengagetkan saya, yaitu  dengan memperagakan hubungan suami istri dengan di tonton orang-orang tertentu dan mereka harus membayar dengan harga yang kami tetapkan.

Tadinya sangat malu,  tetapi kemudian saya lama-lama terbiasa.

Lama kelamaan, keuangan rumah tangga kami pun tenang. Pada suatu saat, ada tamu yang memesan dan mulailah kami melakukannya. Sebelum berlangsung pertunjukkan itu, tiba-tiba tamu itu menodongkan senjata api nya dengan mengatakan bahwa mereka adalah polisi yang menggerebek kami. Mereka langsung menangkap saya dan suami saya dan kami langsung ditahan oleh polisi.

Betapa malunya kami. Berita kami menjadi berita di koran-koran dan televisi. Saya dan suami tidak sempat pulang sampai sekarang. Setelah dibawa ke polisi, perkara kami segera disidangkan dengan pasal pornografi. Saya dan suami sama-sama dihukum 1 tahun 4 bulan..”

Lily mengakhiri ceritanya dengan mengambil nafas dalam sambil menghapus air matanya yang terus mengalir mengikuti ceritanya.

Ibu langsung terbelalak, tertegun, hati ibu rasanya tidak karuan. Ibu melihat sosok perempuan yang terperangkap dalam situasi yang sulit dan tidak ada pilihan lain. Seorang ibu yang tidak ingin anaknya menderita. Seorang ibu yang ingin anaknya hidup dengan cukup. Tapi justru suami yang seharusnya menjadi tumpuan harapan, justru memanfaatkan istrinya dalam suatu dilema yang tidak manusiawi.

Menurut ibu, Lily adalah korban KDRT suaminya. Dia terpaksa melakukannya karena posisinya lemah. Tapi pengadilan memutuskan suami istri itu dipenjara dua-duanya secara terpisah.

Coba bayangkan anak-anaknya, Eva!! Pagi-pagi ibu dan bapaknya pergi bekerja lalu kemudian tidak pulang sampai detik ini.

Aduh Eva, ibu rasanya marah sekali. Tidak pada tempatnya si Lily dihukum yang sama dengan suaminya. Dia adalah korban dari suaminya sendiri dan dia punya anak yang berkebutuhan khusus. Kok KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia-red) tidak ikut campur ya? Padahal ada baiknya pengadilan mempertimbangkan kondisi anaknya tersebut.

Lily akan selesai hukumannya bulan April 2017 nanti.

Ibu bertanya kepada dia, “Lily, apa yang kamu lakukan bila kamu bebas nanti?”

Dia berfikir dan matanya menerawang jauh, “Yang jelas saya tidak akan mengulang hal itu lagi ibu, saya tahu itu dosa. Sekarang saya disini mulai rajin sholat dan mempelajari agama dengan benar. Tapi, bagaimana saya mencari uang untuk anak saya belum terbayang ibu. Kalau menjadi pegawai lagi, saya kira tidak ada yang mau menerima saya. Doakan saya ya ibu agar mampu mengembangkan usaha saya yang dulu saya tekuni diluar pekerjaan kantor saya.”

Hati ibu seperti terkelupas sebagian. Rasanya ngilu. Betapa ngerinya bila lapangan kerja tidak tersedia cukup bagi rakyat di negeri ini. Ternyata tragedi yang terjadi karena kurangnya lapangan kerja, bukan hanya terjadi pada pengiriman TKI ke luar negeri. Tetapi tragedi ini juga terjadi di dalam negeri.

Kembali lagi ibu berfikir bagaimana negara ini harus fokus mensejahterakan rakyatnya dengan pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja bagi rakyat harus segera terpenuhi. (Web Warouw)

 

Add comment

Security code
Refresh