Wawancara

Mantan Menteri Kesehatan, DR.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)  (Ist)Mantan Menteri Kesehatan, DR.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) (Ist)Ini adalah surat ketiga dari Mantan Menteri Kesehatan, DR.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dari Rutan Pondok Bambu yang dimuat Bergelora.com (Red)

Oleh : Dr. Eva Sri Diana, Sp.P*

Sudah dua bulan lamanya ibu tinggal di Rumah Tahanan. Sudah dua bulan pula ibu menanti kepastian nasib. Berkali-kali pemeriksaannya dibatalkan oleh KPK, berkali-kali juga ibu bingung, untuk apa ia ditahan berlama-lama jika sampai saat ini belum ada bukti tambahan yang menjeratnya.

Begitupun aku. Sudah berkali-kali mendapatkan surat dari ibu, aku tidak pernah bosan membaca dan menuliskannya kembali. Bagiku ini salah satu cara untuk mengalirkan ide-ide dan semangat perbaikan yang dimiliki ibu untuk negeri ini, agar terasa juga oleh pemuda-pemudi seperti aku yang mungkin sedang gelisah memikirkan nasib bangsanya.

Dear Eva,

Apa kabarmu? Semoga kamu selalu baik-baik saja, apapun kesibukanmu. Eh Eva, Teman sekamar ibu tambah satu, panggilannya Opung. Dia orang Batak. Aktivis di sebuah gereja karena anak-anak gereja sangat perhatian dengan dia. Orangnya baik dan lucu, ceritanya banyak.

Tadi sore pula, Jessica main ke kamar ibu untuk menengok Opung. Ingat kan Jessica? Si kopi Sianida? Ternyata dia seorang gadis kecil mungil, berkulit kuning langsat, berwajah ceria, dan senyum yang sangat manis di bibirnya.

Bicaranya lancar meluncur dari bibirnya yang tipis dan indah dengan selalu dibarengi dengan senyuman yang bersahaja. Kesan-kesan seram yang pernah dijadikan legenda di masyarakat sebagai “pembunuh berdarah dingin” sama sekali tidak tampak. Dia sangat ceria, penuh semangat, dan harapan.

Jessica yakin benar ketika menceritakan bahwa dia terdzalimi dengan tuduhan itu. Sekarang dia tenang di Blok D sambil menunggu kasasi. Dia mengatakan akan sering menengok Opung. Ibu melihat hubungan mereka sangat dekat. Seperti cucu dan Opungnya. Tadinya ibu kira Jessica adalah salah satu jemaat gereja juga, tapi ternyata dia beragama Budha. Mudah-mudahan Allah menolongnya jika memang benar-benar dia tidak bersalah.

Bukan hanya masalah Jessica. Di negeri kita saat ini agak sulit untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Mana yang tidak baik dan mana yang baik. Mana yang hitam dan mana yang putih. Semuanya tergantung dari penguasa yang berwenang untuk menentukan. Hanya orang-orang yang beriman dan diberi petunjuk Tuhan yang masih bisa membedakan mana yang salah dan mana yang tidak salah.

Kembali ke Jessica, bukankah kita juga ikut bingung ketika pengadilannya dilakukan terbuka? Bukannya menambah terang tetapi bahkan menambah bingung orang-orang awam yang mengikutinya. Kita semua mungkin mempertanyakan “apa  buktinya, bukan? Tetapi kalau bukan dia, siapa dong pembunuhnya?”

Ahh bisa-bisa menjadi satu buku lagi khusus membahas hal ini. Itulah pengadilan yang dibuat manusia. Tidak ada yang sempurna karena memang manusia bukan makhluk yang sempurna. Kalau difikir-fikir, cerita Jessica lebih rumit dari cerita di buku Agatha Christie yang tersohor itu ya...

Eva,

ketidak-adilan pengadilan itu adalah cerita yang sudah berabad-abad lamanya. Banyak kejadian yang ternyata salah vonis setelah puluhan bahkan ratusan tahun. Ingat gak dengan Galileo Galilei yang dihukum mati karena berbeda pendapat bahwa bumi itu bulat? Dia dianggap salah karena pendapat umum saat itu bumi berupa piring ceper yang bertepi, hehehe..

Eva,

kebenaran yang diciptakan manusia adalah nisbi, tergantung darimana kita memandangnya. Tapi kebenaran dari Allah SWT adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa kita ragukan lagi. Untunglah kita punya Allah SWT yang kita jadikan pegangan hidup selama-lamanya.

Eva, kemarin badan ibu terasa tidak enak, mungkin kecapean. Hari-hari itu ibu naik tangga dua kali, sacro-iliac ibu terasa kambuh dan badan rasanya tidak karuan. Beginilah kalau ibu sedang ngedrop. Tensi ibu pun masih 160/100 meskipun dengan obat teratur. Mungkin kelelahan atau stress yang terpendam, hehehe..

Ibu butuh tukang pijit dan konon ada yang bisa memijat secara profesional, namanya Mpok Nuri. Kebetulan dia ada di blok yang sama dengan klinik rutan jadi bisa dipanggil. Mpok Nuri sangat profesional, wajahnya sebenarnya cantik dengan titik-titik tahi lalat di wajahnya. Dia tampak lebih muda dari usianya yang 58 tahun, sehat dan ceria. Dia memijat saya, memang pijatannya jempolan seperti pemijat profesional yang saya pesan dari Go-Massage. Berbahasa jawa lagi, jadi rasanya lebih dekat.

Biasa, sambil memijat, selalu diselingi bercerita tentang apa saja. Ooh, dia pandai berdendang dari lagu dangdut sampai lagu rock, suaranya merdu sekali. Mpok Nuri terlihat bersemangat bila sedang memijat pasiennya karena itu berarti pendapatan yang tentu saja sangat diharapkan karena anaknya yang terkecil berumur 16 tahun.

Oh iya, dia juga harus membayar hutangnya ke ibu di kamar lain yang pernah meminjamkan uang kepadanya sebanyak 2 juta. Kenapa dia meminjam uang sebanyak itu? Ternyata dia tertipu oleh narapidana lain yang berjanji akan mengurus “remisi” nya.

Yaaah karena nafsu ingin pulangnya besar ya tipuan itu termakanlah oleh dia.  Dan tentunya narapidana yang menjanjikan itu, begitu bebas dari penjara telah ditunggu polisi untuk perkara penipuan yang lain. Ada-ada saja, di penjara masih ada tipu menipu juga.

Mpok Nuri masih terus berdendang, sambil ibu tanya-tanya Mpok Nuri: “Kamu itu cantik, tampak muda, suaranya bagus, kok terdampar disini?” Nenek dari 9 cucu dan ibu dari 8 anak tersebut tertawa sambil bercerita,

Dia adalah memang seorang tukang pijit di lingkungannya, di Jakarta Timur, di pinggir Kalimalang itu. Selain itu, dia juga penjual makanan matang, misalnya nasi uduk, goreng-gorengan, dll.  Tentu saja hidupnya di lingkungan yang agak kumuh, dimana satu rumah dengan rumah yang lainnya hampir tidak berjarak atau mempunyai pelataran  main untuk anak-anak.

Pada suatu hari, cucunya yang berumur lima dan enam tahun berlari-lari dan beteriak mengganggu tetangganya yang biasanya berjualan bir dan arak. Tetangganya itu, entah karena apa, marah sekali dengan kebisingan yang dilakukan dua bocah tersebut. Mungkin sedang pusing, mungkin sedang sakit gigi maka anak-anak kecil itu disumpahi dengan kata-kata kotor yang menyakitkan Mpok Nuri.

Tetangga itu berteriak: “anak setan” begitu bentaknya. Cucu-cucu itu segera disamperin Mpok Nuri dan diperingatkan agar tidak bikin bising, sambil dicubit katanya.

Tetapi namanya juga anak kecil, mereka kembali bikin bising tetangga mereka yang tadi marah-marah. Maka kembalilah tetangga itu menghardik, “Dasar anak setan, anak haraaaam!!”

Hal demikian terulang sampai tiga kali. Mpok Nuri tidak tahan lagi, cucunya yang lucu-lucu itu dikatakan sebagai anak haram, bahkan anak setan. Maka Mpok Nuri menghampiri tetangga yang menghardik cucunya itu. Katanya, Mpok Nuri mencoba menegur baik-baik “Bu jangan sembarangan ngomong gitu. Itu cucu-cucu saya anak orang baik-baik bu. Maaf kalau bikin bising.” Si tetangga bukannya minta maaf atau menerima maafnya, malah semakin tumpah kemarahannya dengan mengucapkan kata-kata kotor ke Mpok Nuri. Dan hilanglah kesabaran Mpok Nuri. Tanpa sadar, dicekiklah tetangga itu dan di seret ke salah satu sudut rumah dan dikunci dari dalam. Dihajarlah tetangga itu oleh Mpok Nuri. Meski tetangga itu lebih besar tubuhnya tetapi Mpok Nuri lebih berotot sehingga tetangga itu tidak berdaya, batu pun dipukulkan ke kepalanya oleh Mpok Nuri. Begitu ada darah mengalir dari kepala tetangganya itu barulah Mpok Nuri sadar, dan akhirnya Mpok Nuri berteriak minta tolong. Tetangganya yang lain datang dan berkumpul  untuk menolong orang tersebut yang luka parah. Mpok Nuri langsung ditangkap polisi yang datang karena Mpok Nuri dilaporkan oleh tetangga lainnya.

Mpok Nuri hanya pasrah saja. Bahkan dia menyesal mengapa telah menyakiti tetangganya sehingga tetangganya harus dirawat di rumah sakit. Jahitan di kepalanya sampai 90 jahitan (ibu tidak mengerti arti 90 jahitan, itu bahasa Mpok Nuri).

Penyesalan yang sudah tidak ada gunanya kecuali untuk memperbaiki diri karena vonis pengadilan memutuskan 18 bulan kurungan dan dia akan menghabiskan masanya di penjara hingga Agustus 2017.

Tuh ngerinya bila tidak bisa mengelola kemarahan, Eva. Ada-ada saja manusia berulah..

Coba kalau tetangga Mpok Nuri itu menjiwai Pancasila dengan baik, pasti kejadian itu tidak akan terjadi karena di dalam Pancasila terpancar kegotongroyongan yang nyata, tepo seliro antar sesama adalah sesuatu yang harus dirasakan semuanya. Dan tetangga adalah saudara terdekat yang harus disayangi dan dihargai. Aduh berharganya pertemanan antar sesama kita Eva. Karena bangsa Indonesia adalah lahir dari pertetanggaan di desa maupun di kota. Bagaimanapun kalau kita tidak saling menyayangi dan menghargai? Bisa-bisa bangsa ini hancur karena egoisme masing-masing kelompok yang punya kepentingan yang berbeda-beda. Ah jangan sampai Eva!! Bhinneka Tunggal Ika adalah buah tangan terindah dari founding father kita ketika memerdekakan bangsa ini agar hidup bersama-sama di wilayah kepulauan yang indah yang konon bernama NKRI.

Kisah ini menyalakan semangat ibu kembali untuk menghidupkan nilai berbangsa dan bernegara di hati ibu yang sedang kesepian dari keramaian kota.

Sudah ya, kisah ini ibu selesaikan.. Mudah-mudahan kamu datang besok siang..

Aku membacanya sambil menghela nafas. Setiap kali membaca surat ibu, ada saja pikiran yang membuat aku tidak bisa tidur memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Setiap kali itu pula, aku pun bergumam dan membayangkan, apa yang terjadi dengan negeri ku sepuluh tahun lagi, atau lima puluh tahun lagi? Masih seperti ini? Atau menjadi buruk? ataukah menjadi raksasa dunia baru seperti mimpiku sejak kecil? “Rabbana, rasanya tak mungkin Indonesia kuat bertahan sampai detik ini dengan orang-orang licik di dalamnya kecuali karena rahmat dan perlindungan ekstra yang Engkau berikan..”

*Penulis seorang Dokter Spesialis Paru bekerja di Rumah Sakit Pasar Rebo Jakarta Timur aktif memimpin organisasi Dokter Indonesia Bersatu (DIB)

 

Add comment

Security code
Refresh