Wawancara

Penulis bersama Novi (Ist)Penulis bersama Novi (Ist)Oleh:  Petrus H. Haryanto*

Tempat tidur dalam ruangan itu satu demi satu mulai ditempati pasien. Di samping tempat tidur terdapat mesin hemodialisa. Ada yang terletak di sebelah kiri, ada yang terletak sebelah kanan. Jarak satu tempat tidur dengan lainnya sekitar satu setengah meter. Mungkin ada 30 mesin hemodialisa di ruangan ini. Kalau satu hari ada dua shift, maka klinik hemodialisa ini mampu melakukan proses cuci darah maksimum 60 orang.

 

Hampir semua pasien sudah menempati tempat tidurnya dan siap tangannya ditusuk jarum oleh suster, tanda dimulai proses cuci darah. Tapi tidak dengan perempuan berjilbab bernama Novi, dia masih berjalan kesana-kemari menghampiri pasien-pasien lain yang sudah berbaring.

“Pak mau beli krupuk kulit? Ada resol juga,” ucapnya dengan nada merayu.

Kalau suster sudah berteriak memanggil namanya dan memintanya untuk segera berbaring di tempat tidur,  dia baru akan menghentikan aktivitas  berjualannya. Setelah dia berbaring dan darahnya sudah masuk ke mesin hemodialisa dan masuk lagi ke tubuhnya, kini giliran pendamping pasien yang menghampiri dirinya. Lemari di samping tempat tidurnya dia manfatkan untuk menaruh barang dagangannya.

“Krupuk kulitnya masih Nov?,” Tanya Bu Ngadiman

 “Masih Bude. Sekalian bihunnya Bude. Enak lo,”

Bu Ngadiman hanya mengambil krupuk kulit. Harganya sebungkus plastik Rp 8 ribu. Pembeli hanya mengambil makanan tanpa perlu membayar dulu. Saat cuci darah Novi tak mungkin melayani pengembalian karena akan kerepotan sekali. Nanti setelah selesai cuci darah Novi akan datangi satu persatu yang mengambil makanan di lemarinya. Novi pasti selesai lebih dulu karena dia hanya 4 jam cuci darahnya.

Aku jadi teringat akan “Sogo Jongkok”. Istilah ini pernah popular awal tahun 2000-an, ketika Parkir Timur Senayan saat itu masih boleh untuk berjualan. Para pembeli dan penjual dalam bertransaksi dengan posisi jongkok. Sedangkan Novi berjualan dalam posisi tidur dan menjalani proses cuci darah. Mungkin tidak salah kalau kita sebut “Sogo Tidur”.

Pukul empat pagi, disaat kebanyakan orang masih tidur pulas, perempuan ini sudah bangun. bergegas ke dapur dan membuat adonan kue. Aneka kue ia buat di pagi hari itu. Pukul enam pagi ia tinggalkan sejenak dapurnya. Lantas dia bergegas pergi ke Bukit Duri sendirian dengan mengendarai motor. Kontrakan sederhanannya sendiri berada di daerah Pal Batu, Menteng Dalam. Dari sana dia kulakan krupuk kulit.

Sekitar pukul sembilan, kue baru selesai dibuat. Kemudian dia bergegas meluncur ke arah Jatipadang tempat dia cuci darah dengan motor bututnya. Belakang motor dan depan jok motor dipenuhi tas plastik hitam. Isinya kue yang dia buat dan krupuk kulit. Persis simbok-simbok di kota Yogyakarta yang mau berjualan ke pasar tradisional.

Baginya, jalan ini harus dia lakoni. Seminggu tiga kali dia melakukan cuci darah. Dia tidak mungkin bekerja di sektor formal. Dia tidak menyia-nyiakan waktu 4 jam hanya untuk cuci darah. Dia manfaatkan untuk mencari uang.

Kandasnya Harapan

Novi Saat masih sehat (Ist)Novi Saat masih sehat (Ist)Sudah lima hari ini aku dirawat di rumah sakit. Belum ada tanda-tanda akan dioperasi.  Selain cuci darah, hari lainnya aku hanya tidur dan makan. Dokter bedah vaskularnya baru hari ini melakukan visit ke saya. Ternyata tidak semulus yang saya bayangkan bisa langsung melakukan operasi cimono graft. Kata dokter Akhmadu, ahli bedah vaskular lulusan Jepang, terlebih dahulu akan dilakukan tindakaan melancarkan sumbatan di pembuluh darah leher.

Padahal agar dapat dirawat di RSCM, aku harus menunggu  selama dua bulan. Sebuah penantian yang sangat lama. Tetapi,  setelah dirawat,  ternyata banyak waktu yang terbuang percuma. Dokter tidak segera menangani aku. Tentu saja berimbas kepada pasien lainnya yang sedang antri. Mereka menjadi terhambat masuk karena kamar penuh. Apalagi yang mengalami hal ini bukan hanya aku saja. Hampir semua pasien di kamar ini harus menunggu terlalu lama sebelum dioperasi. Bahkan ada yang hampir satu bulan hanya tidur dan makan saja.

"Siang pak Hari," sapa Novi.

"Ee Novi. Dari Poli Ginjal ya kamu?," .

"Ya nih. Sekalian ambil obat. Karena hujan, sekalian mampir kemari. Gimana? Kapan operasinya," tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepala. Novi sudah bisa menebak apa jawabanku. Seraya sudah memaklumi apa yang akan terjadi di sini. Ini adalah kunjugannya yang kedua kali selama aku dirawat. Poli Ginjal Hipertensi dengan Gedung A di mana aku dirawat tidak terlalu jauh.

Kulihat wajahnya kecapean. Seminggu lalu justru dia yang dirawat di sini. Aku sempat membezuknya karena kebetulan juga berobat ke Poli Ginjal Hipertensi.

Tanpa ragu dia tidur di bed sebelahku, yang kebetulan kosong karena belum ada pasien yang menempatinya. "Semoga tidak ada suster yang melihatku tidur di sini. Badanku capek sekali. Aku perlu meluruskan tubuhku," ucapnya saat seluruh tubuhnya sudah berbaring di tempat tidur kosong itu.

Entah kenapa aku tiba-tiba menanyakan tentang kondisi anaknya. "Anakmu sama siapa di kampung?," tanyaku yang membuat dia terusik dari rebahannya.

Sejenak dia menengok ke aku. Kedua tangannya diletakan di bawah kepalanya. Mungkin dia kepingin lebih rileks lagi. Setelah mengatur nafasnya dia baru menjawab. "Anak ku bersama kakak ku di desa. Awalnya bersama neneknya. Setelah nenek meninggal, kakak ku meminta ijin untuk merawatnya karena sudah terlanjur menyanyangi putraku," ungkapnya.

"Gimana kok anakmu bisa ikut neneknya," tanyaku lebih lanjut.

Pertanyaanku yang kedua ini pun tidak langsung dijawab. Bahkan kulihat sinar matanya menunjukan keraguan  untuk menjawab. Novi menarik nafas panjang lagi dan menjawabnya dengan pelan dan ragu. "Ceritanya panjang Pak Hari. Itulah garis perjalanan hidupku," ucapnya dengan sedih.

Kini sorot matanya menatap ke atap kamar. Ia berusaha mengingat masa lalunya itu. "Aku menikah di usia 20 tahun. Sayang, suamiku usianya masih muda juga. Sukanya nge-band, tidak mau bekerja. Ketika anak kami sudah menginjak usia sekolah, aku nekad pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah," ungkapnya.

"Wah, gimana reaksi suamimu? Dia nggak marah kau tinggal?," .

"Dia sih cuwek saja. Dan lama-lama aku yang mengajukan cerai. Itulah kenapa anak ku ikut neneknya dan kakak ku. Aku tinggal karena ingin  merubah nasif di Jakarta,".

Novi benar-benar mulai merintis dari bawah. Dia menumpang  tidur di rumah kakaknya, di daerah Mega Kuningan. Dia melamar bekerja menjadi penjaga stan yang menjual es jus buah di ITC Kuningan. Kata Novi para pelanggannya bos konter hp (hand phone). "Saya ditawari menjadi penjaga konter hp. Langsung saya sanggupi walau saya tidak paham seluk beluk hp," ujarnya dengan tertawa kecil.

Dari sana, Novi semakin mahir dan pendapatannya bertambah. Kehidupan gaul anak remaja kota mulai ia jalani. Novi rajin nge-gym. Di tempat itu ia berkenalan dengan warga negara India yang sedang bekerja di Indonesia. Mereka berdua mempunyai hobi jogging. Mereka berdua sering jogging bareng. Lantas mereka berpacaran.

"Saya menikah sirih dengannya. Hidup saya berubah drastis. Saya tinggal di apartemen. Bahkan saya dibikinkan konter hp. Benar-benar saya menikmati menjadi orang kaya, dan mempunyai suami yang sayang padaku," ungkapnya dengan wajah memerah.

Konter HP Novi cukup laris. Dengan menjadi pemilik konter membuat dia lebih leluasa menekuni hobinya. Waktu luangnya cukup banyak. Novi mengikuti kursus yoga. Sempat beberapa bulan dia menjalaninya. Novi kepingin melanjutkan kursus pelatihan Yoga. Dia bercita-cita mendapat sertifikat instruktur yoga."Gajinya banyak pak Hari. Di daerah Mega Kuningan banyak orang asingnya,".

ayang cita-citannya harus kandas. Sebelum dia membayar program itu, ia keburu sakit."Aku sesak luar biasa. Tensiku 240. Aku dilarikan ke RS Medistra. Di sana aku dirawat. Ya Tuhan, aku terpukul sekali karena ternyata aku harus cuci darah. Sungguh aku tidak bisa menerimanya. Aku merasa melakukan pola hidup sehat, baik olah -raga dan melakukan yoga. Hipertensi itu telah membinasakan kehidupan saya," ucapnya dengan penuh penyesalan.

 

 

Novi sebatang kara tinggal di Jakarta. Hanya suaminya yang menemaninya. Sakitnya membuat dia sering drop. Suaminya setia mengantar Novi cuci darah. Tapi sering Novi dihadapkan pada persoalan kalau keluarga suaminya di India meminta suaminya untuk pulang. Di sana sudah disediakan jodoh untuk segera dikawinkan. "Kalau sudah begini kami berdua menangis. Kadang saya putus asa dan merelakan dia pulang. Aku cukup sadar diri karena dengan penyakitku tidak mungkin memberikan keturunan buatnya," keluhnya.

Terkadang hidup tidak dapat diprediksi. Sedang terkena musibah,  musibah lain datang menyusul. Karena Novi sakit membuat dia tidak terlalu ketat mengontrol konter hp-nya. Karyawannya mulai melakukan tindakan tidak terpuji. Karyawannya mengatakan kalau ada yang mengambil hp tapi bayarnya nanti. Tapi tetap tidak bisa dibuktikan setelah berkali-kali ditegor. Lama kelamaan pendapatan usahanya turun. Dan ketika  waktu sewa toko jantuh tempo  ia tidak bisa memenuhi. "Bayangkan Pak Hari aku harus membayar sewa toko sebesar Rp 50 juta. Duit tidak sampai segitu. Maka toko aku tutup. Usahaku langsung bangkrut," ungkapnya dengan mata basah.

Tidak cukup itu saja cobaannya. Hal yang ditakutinya terjadi. Suaminya meminta ijin pulang sementara ke India. Kotrak kerja dengan kantornya berakhir. "Aku menangis sejadi-jadinya. Sepanjang hari aku menangis. Suami ku juga tak kuasa menahan tangis,".

Genap dua tahun sang suami tercinta mendampinginya Novi dalam keadaan sakit. Novi punya firasat suaminya tidak akan balik lagi. Awal-awalnya, sang suami masih memberi kabar dan mengiriminya uang. Bahkan kontrakannya sudah dibayar lunas untuk satu tahun, walau sudah tidak di apartemen lagi.

Menginjak satu tahun sudah tidak ada kabar berita lagi. Bagai disambar petir, dia mendampat kabar kalau suaminya sudah menikah lagi. "Aku menangis histeris. Sepanjang hari aku menangis. Tuhan masih sayang kepadaku. Aku tersadarkan. Kuambil air untuk wudhu. Kemudian aku melakukan Sholat Tahajud. Hatiku menjadi tenang," ucapnya kali ini dengan tangisnya yang telah pecah.

Kubiarkan dia menangis. Mungkin dengan begitu bisa menenangkan hatinya. Entah sudah berapa tisu yang dia sapu ke matanya.

Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Tidak perlu kamu terus menangisinya. Yang penting kau sudah tidak sebatang kara lagi. Kamu sekarang mempunyai Mas Nanang. Dia akan mengawinimu kan?," tanyaku untuk memecah suasana sunyi.

"Ya pak Hari. Kami nunggu ada uang. Sekarang kami sedang giat mencari uang dan menabung,".

"Kamu kapan jadian sama Nanang?,".

"Sudah lebih dari setahun. Dia teman kecilku di Tegal. Waktu aku cuci darah di desa, dia menemaniku. Sama-sama kerja di Jakarta lantas dia mencari saya. Dia sering memberi perhatian ke aku. Kami lalu jadian. Dia yang menyarankan sisa uang yang kumiliki untuk dibelikan grobak. Dan kami berdua mempunyai bisnis berjualam kue. Itu penghasilan yang menghidupi kami," ungkapnnya.

 

 

Tak terasa sore sudah menghampiri. Hujan juga sudah reda. Novi segera pamit pulang. Aku nitip salam buat teman-teman JKC (Jakarta Kidney Center). Besuk dia akan cuci darah di sana.

Novi telah pergi dari ruangan ini. Tapi pikiranku masih terbayang kepadanya. Beruntung dia mempunyai Nanang. Aku tidak bisa membayangkan bila dia hidup sebatang kara di Jakarta dengan sakitnya. Aku jadi teringat seorang perempuan yang sebatang kara, tak ada sanak saudara. Betapa payahnya dia melakukan cuci darah. Sendirian tanpa ada yang mengantar, padahal fisiknya sudah menurun. Berangkat dan pulang hanya mengandalkan ambulance gratis milik Pemda DKI. Dan ketika meninggal, mayatnya baru diketahui tetangganya setelah tiga hari kemudian.

Seperti kemarin, ketika Nanang bekerja, Novi mengubungi aku. Dia sesak nafas dan muntah darah. Tak ada tetangganya yang bisa antar dia ke UGD rumah sakit terdekat. Aku tidak tahu dengan siapa dia ke RSCM. Akhirnya dirawat di ICU.

Ketika aku bezuk, ternyata Nanang yang mendampinginya. Dia rela menjaga Novi selama dirawat. Walau untuk itu dia rela di-PHK. Dia baru bekerja selama sebulan di sebuah klinik pijat refleksi.

Semoga cita-cita mulia mereka berdua untuk segera menikah dapat terwujud.  

*Penulis adalah Sekretaris Jenderal Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).

Add comment

Security code
Refresh