Wawancara

JAKARTA- Indonesia membuktikan sebagai negara yang toleran terhadap pertumbuhan agama-agama. Hal ini disampaikan oleh calon wakil presiden, Jusuf Kalla dalam wawancara dengan Web Warouw dari Bergelora.com ditengah diskusi dengan Perkumpulan Indonesia Timur di Jakarta Senin (9/6) Di bawah ini  wawancara lengkap dengan Jusuf Kalla.

Bagaimana kehidupan beragama di Indonesia?

Indonesia punya 14 hari raya resmi, 12 diantaranya adalah hari raya agama. Islam ada  Idul Fitri, idul Adha, Isra Miraj. Kristen, natal dan paskah dirayakan. Hindu dirayakan. Bahkan Konghucu pun yang hanya dua persen dari jumlah penduduk, imlek kita jadikan hari raya nasional.

Tidak ada negara setoleransi Indonesia. Coba saja anda lihat ada nggak Idul Fitri di Thailand atau di Myanmar? Di kedua negara itu hanya hari raya Buddha saja yang dirayakan. Padahal jumlah presentase penduduk Buddha di Myanmar sama dengan Islam 88 persen di Indonesia, tapi di Indonesia semua hari raya agama diperingati. Di Pilipina baru tahun 2012, Idul Fitri menjadi hari libur.

Apakah semua agama setara di Indonesia?

Dari 33 propinsi, 8 diantaranya dipimpin oleh gubernur non-Islam. Itu hampir 30 persen. Pada jaman Orde Baru, hampir semua jabatan penting bidang ekonomi di kabinet dipegang orang Kristen dan Katholik mulai dari Menko, Menkeu, Gubernur BI sampai Panglima TNI.Toh tidak ada yang keberatan. Semuanya mendukung.

Tidak ada diskriminasi?

Jadi tidak ada diskriminasi sama sekali antara umat beragama. Apa yang kita jalankan ini tidak terjadi di Pilipina, India, Pakistan, Thailand dan Myanmar yang memiliki mayoritas agama-agama tertentu. Kita harus bersyukur dengan kebhinnekaan, kita berbeda tapi tidak diskriminatif. Kita menjalankan berdasarkan prestasi.

Bagaimana dengan rumah ibadah?

Di Indonesia penduduk Islamnya sekitar 200-an juta orang dari 245 juta total penduduk. Orang Islam memiliki 250 ribu mesjid dan 550 ribu langgar dan musola. Jadi totalnya 800 ribu. Itu artinya setiap 250 umat Islam ada satu rumah ibadah. Itu terbanyak di dunia. Tidak akan dijumpai di negara lain.

Bagaimana dengan Gereja?

Agama Kristen juga begitu. Gereja Kristen dan Katholik pada tahun 2004 ada 50 ribu gereja. Sekarang mungkin sudah 60 ribuan. Itu dengan penduduk 30 juta orang. Artinya setiap penduduk ada satu rumah ibadah. Dan jika ditambah dengan gereja yang kecil-kecil yang jumlahnya 150 ribu, berarti setiap 220 orang ada satu gereja. Pertumbuhan gereja di Indonesia tertinggi di dunia. Karena jumlah komunitas gereja mencapai 300-an denominasi. Di Kelapa Gading saja ada 200-an Gereja. Ini membuktikan pluralisme terhebat.

Jadi perbandingannya bagaimana?

Perlu juga diingat bahwa pertumbuhan gereja lebih pesat daripada mesjid. Dalam kurun waktu 27 tahun dari tahun 1977-2004, pertumbuhan gereja sebanyak 131 persen, sementara mesjid 64 persen. Jadi jangan terlalu dipermasalahkan jika ada satu gereja bermasalah. Lihatlah pertumbuhannya yang lain. Ini coba kita bayangkan dengan luar negeri seperti di Amerika dan eropa, rumah ibadahnya banyak di jual menjadi tempat komersial.

Bagaimana masalah antar agama?

Pertumbuhan rumah ibadah di Indonesia sangat pesat karena keberagaman  kita yang sangat tinggi. Inilah yang memberikan kita kekuatan sebenarnya, bahwa Indonesia merupakan satu bangsa yang sangat plural sekaligus sama kuatnya diantara masing-masing agama. Intinya sekarang adalah bagaimana kita menyatukan kekuatan ini. Itu hanya bisa dilakukan dengan stabilitas. Stabilitas hanya bisa dicapai dengan perdamaian. Bahwa ada masalah-masalah, itu kita akui. Tapi marilah kita atasi bersama. Saling sinergi semua kekuatan bangsa.

Mengapa agama bisa membuat konflik?

Itu karena agama adalah cara yang paling mudah untukk membangun solidaritas. Beda dengan politik habisnya dipolitik. Kalau agama bisa kemana-mana. Contoh kasus Ambon dan Poso itu bukan masalah agama. Itu masalah ketidak adilan politik dan tidak ada stabilitas dibidang ekonomi  akibat harga cengkeh yang turun karena monopoli yang menyebabkan penduduk asli  yang sebagian besar beragama Kristen dan bekerja sebagai petani cengkeh pendapatannya menurun.

Lalu masuk pendatang Bugis dan Buton yang beragama Islam berdagang dan mereka lebih makmur maka terjadilah ketimpangan dibidang ekonomi yang diperparah dengan kondisi politik the winner take all. Agama hanya belakangan saja karena digunakan sebagai solidaritas untuk berjuang saja, karena agama memang paling gampang membangun itu.

Mengapa solidaritas agama gampang dibangun?

Karena tujuan akhir atau dasar kita beragama adalah akherat. Ujung adari akherat adalah sorga. Pasti kita semua ingin masuk surga. Tiba-tiba ada pimpinan agama yang menawarkan surga terlalu murah, dengan mengatakan jika anda melakukan hal tersebut berarti anda di jalan yang benar dan mati langsung masuk surga. Jadi antara perang sabil di pihak Islam dan perang salib di pihak Kristen. Ada pihak yang mengajarkan bahwa membunuh orang, membakar mesjid dan gereja, maka dia bisa masuk surga. Coba cek sama teman-teman di Poso dan Ambon. Tidak ada yang bicara agama sebelumnya. Tiba-tiba muncul karena agama sudah dipakai sebagai alat untuk membangun solidaritas.

Bagaimana Mengatasinya?

Maka saya selesaikan Ambon dan Poso, tinggal balik logikanya dengan mengatakan : Kalian semua masuk neraka, jangan harap ada yang masuk surga. Tunjukkan satu ayat dalam Al-Quran maupun Injil bahwa seseorang yang membunuh sesamanya tanpa salah itu akan masuk surga. Maka mereka berpikir ulang. Karena selama ini ajaran agamanya keliru.

Add comment

Security code
Refresh