JAKARTA – Gelar kuliah mulai kehilangan perannya sebagai penentu utama dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Perusahaan kini lebih mengutamakan bukti keterampilan yang dimiliki pelamar dibandingkan indikator tradisional, seperti indeks prestasi kumulatif (IPK) maupun nama perguruan tinggi.
Temuan tersebut terungkap dalam Laporan Dampak Micro Credentials 2026 yang diterbitkan Coursera.
Laporan itu menunjukkan 98 persen perusahaan di tujuh negara telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan untuk posisi entry level. Sebanyak 86 persen di antaranya mengaku menerapkan pendekatan tersebut secara luas.
“Sembilan puluh lima persen pihak pemberi kerja menyatakan bahwa micro credentials merupakan pembeda kunci antara kandidat, dan 87 persen menilainya sebagai hal yang sangat penting dalam pengambilan keputusan perekrutan, melampaui kriteria tradisional seperti IPK dan almamater,” tulis laporan tersebut.
Gaji Awal Lebih Tinggi
Perubahan pendekatan rekrutmen juga mulai memengaruhi kebijakan kompensasi perusahaan. Sebanyak 94 persen pemberi kerja menyatakan bersedia menawarkan gaji awal yang lebih tinggi kepada lulusan yang memiliki micro credentials.
Menurut Coursera, perusahaan semakin membutuhkan bukti keterampilan yang relevan dengan pekerjaan karena kebutuhan dunia kerja berubah semakin cepat.
Sebanyak 61 persen pemberi kerja memperkirakan lebih dari 30 persen keterampilan inti dalam pekerjaan akan berubah sebelum 2030.
“Data tersebut menunjukkan bahwa pihak pemberi kerja memprioritaskan bukti keterampilan di atas bukti ‘kelulusan’, dan menyoroti hal yang harus dipenuhi universitas, bukan hanya pendidikan, tetapi juga bukti terverifikasi atas keterampilan siap kerja,” tulis laporan tersebut.
Laporan tersebut menunjukkan perekrutan berbasis keterampilan memberi manfaat bagi perusahaan. Sebanyak 58 persen pemberi kerja menyatakan micro credentials secara signifikan mengurangi risiko perekrutan.
Kemudian, 73 persen menyebut pelamar yang memiliki micro credentials bergerak lebih cepat dalam proses rekrutmen. Dari sisi produktivitas, 92 persen perusahaan menyatakan karyawan entry level yang memiliki micro credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama. Sebanyak 73 persen juga menilai kelompok tersebut lebih cepat memperoleh promosi atau tanggung jawab yang lebih besar.
Laporan itu juga mencatat dampaknya terhadap lulusan. Sebanyak 87 persen lulusan yang memiliki micro credentials mengaku memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya dalam waktu 12 bulan setelah lulus. Sebanyak 83 persen lulusan yang telah bekerja menyatakan micro credentials berperan penting dalam memperoleh pekerjaan mereka. Indonesia
Ikut Berubah
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (6/7) dilaporkan, Perubahan pola rekrutmen juga terlihat di Indonesia. Sebanyak 100 persen pemberi kerja yang disurvei menyatakan telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan.
Sebanyak 97 persen mengaku menggunakan pendekatan tersebut secara luas untuk posisi entry level.
Selain itu, 96 persen perusahaan di Indonesia menyatakan karyawan entry level yang memiliki micro credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama. Sebanyak 97 persen lulusan juga mengaku memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya dalam waktu satu tahun setelah lulus.
Laporan tersebut juga mencatat 67 persen pimpinan perguruan tinggi di Indonesia menilai kampus yang tidak mengintegrasikan micro credentials ke dalam program pendidikan menghadapi risiko strategis pada tingkat sedang hingga tinggi.
Survei dalam laporan ini dilakukan Coursera bersama Rep Data pada Februari hingga Maret 2026. Survei melibatkan lebih dari 3.500 responden yang terdiri dari mahasiswa dan lulusan baru, pemberi kerja, serta pimpinan perguruan tinggi di Amerika Serikat, Inggris Raya, India, Arab Saudi, Meksiko, Indonesia, dan Filipina.
Di setiap negara, survei melibatkan sekitar 300 mahasiswa dan lulusan baru, 100 pemberi kerja, serta 100 pimpinan perguruan tinggi. Pengumpulan data dilakukan secara daring dan melalui wawancara telepon berbantuan komputer atau computer assisted telephone interviewing.
Laporan tersebut menyebut margin of error survei global sebesar plus minus 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Enrico N. Abdielli)

