Selasa, 28 Juli 2026

JANGAN SALAH PILIH..! InFast Bestari Soroti Mundurnya Gubernur Perry Warjiyo: Gubernur BI Mendatang Sebaiknya Pro Growth

JAKARTA- Mundurnya Perry Warjiyo dari Gubernur BI adalah signal positif bahwa perubahan haluan ekonomi fiskal Pemerintahan Prabowo akan ditopang oleh koordinasi yang semakin baik dari otoritas moneter. Diharapkan Gubernur BI mendatang adalah otoritas moneter yang lebih pro kepada growth, bukan sekedar menjaga inflasi namun mengorbankan pertumbuhan daya beli masyarakat. Hal ini siungkap Gede Sandra ekonom InFast Bestari dukutip Bergelora.com di Jakaeta, Selasa (28/7)

“Kita tahu bahwa periode menjabat dari Perry Warjiyo, 2018-2026 juga bersamaan dengan periode kejatuhan kelas menengah di Indonesia. Pada tahun 2018, kelas menengah masih sekitar 23 persen dari polulasi, namun kini jumlahnya terus menyusut hingga tinggal 17 persen,* ujarnya dijutip Bergwlora.com di Jakarta , Selasa (28/7).

Padahal kunci dari pertumbuhan ekonomi tinggi menurutnya adalah kelas menengah yang gemuk. Karena bila dibandingkan dengan negara-negara lain jumlah kelas menengah di Indonesia (17 persen) tergolong yang terkecil.

“Seperti contohnya Thailand (40 persen), Vietnam (30 persen), Brazil (28 persen), India (20 persen), dan Amerika Serikat (43 persen),” paparnya.

Negara-negara kawasan Asia Timur yang sukses mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi juga memiliki struktur kelas menengah yang besar, seperti China (50 persen), Jepang (55 persen), Korea Selatan (61 persen), dan Taiwan (31 persen).

Masalah Independensi BI dan Kurs Rupiah

Ia mengatakan, pasar tidak perlu khawatir terkait makin kurang independensi bank sentral Indonesia dengan naiknya Gubernur Bank Indonesia yang baru ke depan.

“Karena toh dibanding negara-negara tersebut, tingkat independensi bank sentral Indonesia masih yang tertinggi (skor 0-1,. makin independen makin mendekati 1),” ujarnya.

Bila menggunakan data dari CBIE Index, ukuran indepenensi bank-bank sentral sedunia di 155 negara, tingkat independensi Bank Indonesia pada tahun 2023 adalah sebesar 0,758. Masih lebih independen dari bank sentral Amerika Serikat, The FED (0,614), bank sentral Thailand (0,435), Vietnam (0,301), India (0,595), China (0,659), Jepang (0,366), Korea Selatan (0,679), dan Taiwan (0,454).

Sehingga kekhawatiran adanya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah juga dapat diredam.

“Karena masalah independensi bank sentral sepertinya tidak berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi, besarnya kelas menengah suatu negara” ujarnya. (Calvin G. Eben-Haezer)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles