Rabu, 28 Januari 2026

Bom Kampung Melayu, Hendardi: Teror Jelas Menyasar Polri

Teror Bom Kampung Melayu, Jakarta, Rabu (24/5) (Ist)

JAKARTA- Serangan bom bunuh diri yang mengakibatkan 3 orang anggota Polri meninggal dan 5 warga sipil luka-luka, merupakan teror keji yang harus menjadi penghimpun energi dan pemupuk semangat setiap elemen bangsa untuk meningkatkan kewaspadaan nasional dan immunitas generasi bangsa dari virus ekstremisme yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuan. Demikian Hendardi, Ketua  SETARA Institute kepada Bergelora.com di Jalarta, Kamis (25/5).

Teror tersebut secara nyata menurutnya menyasar anggota Polri yang sedang bertugas, yang oleh kelompok teroris dianggap sebagai target utama karena kegigihan Polri dalam memberantas terorisme dan jejaring gerakannya.

“SETARA Institute menyampaikan duka cita atas meninggalnya 3 anggota Polri dan berbela sungkawa atas 5 korban luka-luka,” ujarnya.

Meskipun sasaran utama adalah Polri, katanya aksi teror selalu ditujukan untuk menebarkan ketakutan pada semua orang. Karena itu setiap elemen bangsa harus menunjukkan bahwa kita “tidak” takut dengan teror, dan percaya aparat keamanan akan mampu mengatasi bersama elemen bangsa lainnya.

“Paralel dengan penegakan hukum pidana terorisme, perlawanan terhadap aksi terorisme, harus dimulai dari elemen-elemen yang paling kecil seperti keluarga, lingkungan, sekolah, dan lain-lain dengan meningkatkan ketahanan keluarga, ketahanan sekolah, dan ketahanan sosial sehingga kita memiki kepekaan atas segala potensi aksi-aksi destruktif yang keji itu,” katanya.

“Terorisme adalah puncak dari intoleransi yang bermula dari pikiran-pikiran intoleran dan bertransformasi menjadi tindakan intoleran-radikal dan berujung pada tindakan teror. Oleh karena itu tindak pidana terorisme harus diatasi secara komprehensif dari hulu ke hilir. Karena hulu terorisme adalah intoleransi, maka aneka tindak pidana yang kontributif mempercepat transformasi intoleransi menuju terorisme merupakan bagian penindakan yang juga harus memperoleh prioritas penegak hukum,” ujarnya.

Rentetan Teror

Bom di terminal Kampung Melayu terjadi setelah rentetan teror ISIS di Manchester, Inggris, Senin (22/5) dan kemudian diikuti pengambil alihan kota Marawi, Mindanao, Filipina Selatan, Selasa (23/5). Serangan bom itu dilakukan bersamaan dengan diselenggarakannya pawai obor diberbagai jalan ibukota menyambut kedatangan bulan suci Ramadan.

Bom pertama meledak di dekat toilet halte Transjakarta Terminal Bus Kampung Melayu. Bom kedua meledak di tempat parkir motor yang berjarak 4 meter dari halte.

Bom pertama membuat tubuh pelaku bom bunuh diri tercerai-berai. Sedangkan bom kedua yang berselang lima menit membuat beberapa warga yang ada di tempat parkir roboh. Termasuk polisi anggota Unit 1 Peleton 4 Polda Metro Jaya yang baru saja melakukan pengamanan pawai obor.

Simon Natanael, 21, seorang saksi mata kepada media, menjelaskan bahwa suasana halte Transjakarta saat itu sedang ramai. Penumpang berdiri berdesak-desakan di depan pintu halte menunggu bus.

Ketika itu sesosok pria menggunakan jaket hitam berjalan menuju pintu halte. Ketika berada tepat di depan pintu, dia meledakkan bom yang ada dalam jaketnya. Blaaar….!

“Pas bom itu sudah diledakkan, ada seorang ibu yang terluka,” kata Simon. “Tubuh pelaku terpecah belah. Bagian kepala terpental ke dalam halte. Satu tangan dan tubuhnya terlempar ke jalan,” lanjutnya.

Melihat hal tersebut, petugas kepolisian di sana bergegas melakukan pertolongan. Namun, selang beberapa menit kemudian, ledakan bom kembali terjadi. Bom di tempat parkir sepeda motor itu berdaya ledak lebih besar daripada yang pertama. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru