JAKARTA- Sikap Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai politik hari Senin, 22 Mei 2017 lalu adalah tidak tepat dan cenderung politis. Di dalam negara demokrasi, TNI adalah alat pertahanan negara yang dipersiapkan, dididik, serta dilatih untuk menghadapi perang. Demikian Al Araf, Direktur Imparsial dalam rilisnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (25/5).
“Karena itu, Panglima TNI seharusnya fokus membangun tentara yang profesional dan bukan malah datang ke Rapimnas partai politik dan membacakan puisi yang memiliki makna politis,” tegasnya
Menurutnya, dalam negara demokrasi, Panglima TNI seharusnya fokus untuk menjalankan tugasnya sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang TNI (Pasal 15 UU No. 34 Tahun 2004) yaitu antara lain: 1. melaksanakan kebijakan pertahanan negara; 2. menyelenggarakan strategi militer dan melaksanakan operasi militer; 3. menyelenggarakan penggunaan kekuatan TNI bagi kepentingan operasi militer; 4. menyelenggarakan pembinaan kekuatan TNI serta memelihara kesiagaan operasional; 5. memberikan pertimbangan kepada Menteri Pertahanan dalam hal penetapan kebijakan pertahanan negara.
“Dalam konteks itu, kehadiran Panglima TNI dalam Rapimnas Partai politik yang diikuti dengan pembacaan puisi tidak sejalan dengan tugas dan fungsi Panglima TNI sebagaimana diatur oleh undang-undang,” tegasnya.
Menurut pandangan Imparsial katan, sebenarnya beberapa kali langkah Panglima terlihat politis dan tidak sejalan dengan UU TNI. Seperti contohnya melakukan komplain terkait masalah anggaran pertahanan yang berujung konflik dengan Kementerian Pertahanan serta adanya kehendak Panglima yang ingin memulihkan hak politik TNI.
“Kami menilai bahwa Presiden penting untuk mempertimbangkan pergantian Panglima TNI demi penyegaran dan reorganisasi TNI. Sudah saatnya posisi Panglima TNI diletakkan sebagai jabatan yang sesuai dengan UU TNI yang menjalankan fungsi dan tugas sesuai undang-undang untuk menciptakan tentara yang profesional,” tegasnya.
Penjelasan Puisi Panglima
Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto angkat bicara terkait puisi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat jadi pembicara di Rapimnas Partai Golkar di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Wuryanto menyatakan, saat itu Panglima TNI hanya membacakan potongan puisi untuk memberikan gambaran tentang kebangsaan sesuai tema kepada peserta Rapimnas Golkar.
“Video puisi tersebut dipublikasikan Puspen TNI melalui website www.tni.mil.id,” ujar Wuryanto melalui pesan tertulis, Rabu (24/5).
Dia menambahkan, pihaknya merasa perlu memberikan penjelasan untuk menghindari kesimpangsiuran kabar yang beredar, khususnya di media sosial.
“Untuk menghindari salah persepsi pembacaan puisi tersebut,” ucap dia.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi pembicara dalam Rapimnas Partai Golkar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Di sela memberikan materi, Gatot sempat membacakan puisi.
Puisi tersebut berjudul “Tapi Bukan Kami” karya Denny JA. Melalui puisi ini, Gatot mengingatkan masih ada ketidakadilan sosial.
“Lihatlah aneka barang, dijualbelikan orang. Oh makmurnya, tapi bukan kami punya. Desa semakin kaya tapi bukan kami punya. Kota semakin kaya tapi bukan kami punya,” kata Gatot menyampaikan penggalan puisi, Selasa (23/5).
Mantan KSAD itu kemudian menjelaskan makna dari puisi yang dibacakan itu. Menurut dia, puisi itu merupakan potret tangisan masyarakat dari suatu wilayah.
“Ini tangisan suatu wilayah, dulu dihuni Melayu di Singapura, sekarang menjadi seperti ini (sambil memperlihatkan slide tentang pengungsi). Kalau kita tak waspada, suatu saat bapak ibu sekalian, anak cucunya tidak lagi tinggal di sini. Gampangnya, kita ke Jakarta semua teratur rapi, punya Betawi di sana?” kata Panglima TNI Gatot Nurmantyo.
‘Tapi Bukan Kami Punya’
Berikut puisi lengkap ‘Tapi Bukan Kami Punya’ yang dibacakan Gatot Nurmantyo :
Sungguh Jaka tak mengerti
Mengapa ia dipanggil ke sini.
Dilihatnya Garuda Pancasila
Tertempel di dinding dengan gagah.
Dari mata burung Garuda
Ia melihat dirinya
Dari dada burung Garuda
Ia melihat desa
Dari kaki burung Garuda
Ia melihat kota
Dari kepala burung Garuda
Ia melihat Indonesia
Lihatlah hidup di desa
Sangat subur tanahnya
Sangat luas sawahnya
Tapi bukan kami punya
Lihat padi menguning
Menghiasi bumi sekeliling
Desa yang kaya raya
Tapi bukan kami punya
Lihatlah hidup di kota
Pasar swalayan tertata
Ramai pasarnya
Tapi bukan kami punya
Lihatlah aneka barang
Dijual belikan orang
Oh makmurnya
Tapi bukan kami punya
(Calvin G. Eben-Haezer)

