Rabu, 28 Januari 2026

Setelah Merebut Marawi, ISIS Penggal Kepala Polisi Filipina & Sandera Pastor

Pendukung ISIS di Marawi, Mindanao Selatan, Filipina (Ist)

JAKARTA – Serangan terhadap rumah Isnilon Hapilon, pemimpin loyalis ISIS Filipina, memicu balas dendam. Ratusan loyalis ISIS anak buah Hapilon menyerbu Kota Marawi. Seorang polisi dipenggal dan warga Kristen termasuk pastor dijadikan sandera.

“Seperti biasa, ISIS memenggal kepala. Kali ini kepala polisi lokal yang jadi korban. ISIS sendiri sudah berada di atas kepala kita. Naik pesawat dari Manado ke kota Davao, Mindanao tak sampai sejam. Jarak Davao ke Marawi hanya 256 km. Sementara,” demikian Sarinah, seorang aktivis perburuhan kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (25/5)

Ia menyesali  penegak hukum Indonesia  sangat lamban mengusut aliran dana dari kelompok pendukukung ISIS asal Indonesia ke Suriah yang bisa jadi bukti untuk diproses secara hukum. 

“Apa karena banyak pejabat politik sudah lama berlangganan jasa pengamanan dari mereka? Sementara itu, gerakan melawan kelompok-kelompok itu masih bergantung figur elit politik.

Kelompok yang berhasil merebut kota Marawi itu sejatinya merupakan kelompok bersenjata Maute, namun telah bersumpah setia kepada kelompok Islamic State (ISIS) di Timur Tengah. Serbuan terhadap Kota Marawi itu membuat Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer di wilayah Filipina selatan tersebut.

Serbuan lebih dari 100 loyalis ISIS terhadap Kota Marawi telah menewaskan 21 orang dan seorang polisi Filipina dieksekusi penggal. Serbuan itu membuat Marawi di Kepulauan Mindanaoi menjadi kota horor, di mana pertempuran pecah selama berjam-jam.

”Kepala polisi di Malabang dalam perjalanan pulang, dia dicegat di sebuah pos pemeriksaan yang diduduki oleh teroris dan saya pikir mereka memenggalnya saat itu juga,” kata Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Pendukung ISIS di Basilan, Mindanao Selatan, Filipina (Ist)

Kelompok teroris itu juga menyerang Gereja Katedral Our Lady Help dan menculik staf gereja termasuk Pastor Chito Suganob serta jemaat.

”Mereka mengancam akan membunuh para sandera. Pada saat penangkapannya, Pastor Chito sedang menjalankan pelayanannya sebagai imam,” kata Uskup Agung Filipina Socrates Villegas dalam sebuah pernyataan, yang dikutip dari Phil Star, Kamis (25/5).

”Dia bukan pasukan. Dia tidak membawa senjata. Dia bukan ancaman bagi siapa pun. Penangkapannya dan rekan-rekannya melanggar setiap norma yang beradab,” kecam Uskup Filipina ini.

Juru bicara militer nasional Filipina Kolonel Edgard Arevalo mengatakan 13 tentara pemerintah tewas bersama dengan 13 militan loyalis ISIS.

Duterte mengumumkan status darurat militer di kawasan Mindanao setelah pulang dari kunjungan ke Moskow, Rusia. ”Kami dalam keadaan darurat,” katanya kepada wartawan. Dia bersumpah akan menghadapi militan dengan keras.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, sementara itu, beberapa foto yang menyebar di media sosial menunjukkan bahwa kelompok bersenjata Maute mengibarkan bendera-bendera hitam ala ISIS di atas sebuah bangunan di tengah kota. (Irene Gayatri)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru