JAKARTA- PT PLN Batam membantah isu yang menyebutkan bahwa insiden pemadaman listrik secara luas (blackout) di Pulau Batam dan Bintan pada Senin (12/10/2026) dipicu oleh proses pengujian operasional pusat data (data center).
Direktur Utama PT PLN Batam, Kwin Fo memastikan, kabar burung yang beredar di tengah masyarakat tersebut sepenuhnya tidak benar.
“Pemadaman meluas yang terjadi Senin (12/10/2026) di Pulau Batam dan Bintan sama sekali tidak ada sangkut paut dengan data center,” ujarnya, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Senin (19/10/2026).
“Informasi bahwa ada pengetesan atau commissioning untuk operasional data center, dan membutuhkan daya sangat besar, itu sama sekali tidak benar,” sambungnya.
Data Center Batam Belum Beroperasi Penuh
Kwin menjelaskan, saat ini ekosistem data center di Batam belum beroperasi penuh. Jika sudah mulai beroperasi, tingkat penggunaan listrik untuk data center juga diperkirakan belum melebihi 10 persen dari total kapasitas.
Saat ini, sistem kelistrikan Batam memiliki daya pasok 930 megawatt (MW) dengan beban sekitar 780 MW, sehingga masih mengantongi cadangan daya aman mendekati 20 persen. PLN Batam memproyeksikan, daya pasok akan ditingkatkan hingga 1.300 MW pada 2027 mendatang melalui pembangunan PLTG, PLTS, serta pemanfaatan Battery Energy Storage System (BESS).
Ada Kejanggalan, Penyebab Masih Diselidiki
Di sisi lain, penyebab pasti gangguan kelistrikan di Gardu Induk Sei Harapan yang memicu blackou tersebut kini tengah diselidiki oleh Bareskrim Polri bersama Polda Kepri.
Meskipun sebelumnya sempat diduga akibat intrusi hewan liar, PLN Batam menemukan sejumlah kejanggalan di lokasi kejadian sesaat setelah letupan percikan api terjadi.
Petugas tidak menemukan bangkai atau keberadaan hewan liar saat tiba di lokasi pada pukul 07.00 WIB, melainkan baru melihat seekor satwa terluka di bawah trafo pada pukul 10.30 WIB.
Selain itu, kawat pengaman berarus listrik di pagar gardu induk terdeteksi padam saat insiden terjadi. Kejanggalan lain terlihat dari posisi kamera pengawas (CCTV) di lokasi.
“Berdasarkan rekaman, kamera tersebut telah bergeser pada Minggu, sekitar pukul 18.43 WIB, sehari sebelum gangguan terjadi,” jelas Kwin Fo.
“Sehingga trafo yang mengalami percikan tidak lagi terlihat jelas dalam rekaman CCTV,” lanjutnya.
Pihak kepolisian saat ini masih mendalami seluruh bukti serta rekaman CCTV guna mengungkapkan penyebab pasti gangguan tersebut. (Web Warouw)

