Indonesia memiliki sesuatu yang berharga untuk dibagikan kepada dunia. Bukan sekedar menjaga Borobudur tak lapuk dimakan usia, kita juga perlu pastikan bahwa pesan-pesan di balik reliefnya terus dibaca, dicerna dan menginspirasi karakter bangsa.
Oleh: Dr. Fidelis Diponegoro *
RAMAINYA polemik penyelenggaraan konser Andrea Bocelli di Borobudur semoga menyadarkan kita bahwa Candi Borobudur bukan sekadar lokasi pertunjukan, melainkan warisan peradaban dengan nilai sejarah, spiritualitas, dan kebudayaannya jauh melampaui gemerlap panggung hiburan._
Ada kalanya sebuah polemik justru menjadi sebuah jeda dan kesempatan untuk merenungkan kembali apa sesungguhnya makna dan hal paling berharga dari suatu peristiwa. Tentang polemik konser Andrea Bocelli di kawasan Candi Borobudur, saya tidak tertarik membahas siapa Andrea Bocelli dan bagaimana resistensi terhadap kehadirannya.
Lebih mendalam dari itu, peristiwa tersebut seharusnya mengingatkan kita tentang apa yang sungguh bermakna dari Borobudur dan bagaimana seharusnya warisan istimewa itu dikelola?
Polemik tersebut seharusnya menjadi momentum untuk merenungkan kembali bagaimana kita memaknai dan mempromosikan warisan peradaban bangsa. Konser musik kelas dunia tentu memikat perhatian internasional, menggerakkan pariwisata, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Namun sesungguhnya Borobudur memiliki nilai yang jauh melampaui fungsinya sebagai tempat konser. Ia adalah mahakarya peradaban Nusantara, sumber ajaran kebijakan, dan warisan sejarah yang menyimpan pesan-pesan luhur lintas bangsa dan lintas generasi.
Borobudur bukan sekadar background indah untuk sebuah pertunjukan. Relief-reliefnya menyimpan kisah ajaran tentang kehidupan, kebijaksanaan, perjuangan, moralitas, dan perjalanan manusia menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan. Nilai-nilai tersebut tidak terbatas pada satu bangsa atau keyakinan tertentu.
Justru di situlah letak kekuatan Borobudur : pesan-pesan universal dari peradaban masa lampau yang tetap relevan untuk menjawab tantangan kemanusiaan masa kini. Karena itu dashboard Borobudur semestinya tidak berhenti pada jumlah kunjungan wisatawan, dampak ekonomi tetapi juga seberapa luas nilai-nilai luhur tersebut tersebar luas.
Begitu menginjakkan kaki di Borobudur, kita sudah disambut singa kembar Hiri & Ottapa yang mengajarkan tentang rasa malu berbuat tidak baik dan rasa takut pada akibat perbuatan tak baik. Lalu pada dinding candi tercatat ada 2.672 panel relief, meliputi 1.212 panel relief dekoratif, dan 1.460 panel relief naratif (cerita). Terdapat lebih dari 400 cerita tentang satwa bijak, pertapa, kerajaan dan perjalanan kehidupan. Setiap kisah itu bermakna.
Saya sendiri pernah mencoba mengenalkan kisah relief Borobudur hingga ke Bratislava, Slovakia dalam suatu delegasi budaya (September 2024). Pengalaman tersebut menyiratkan potensi besar warisan budaya Indonesia untuk diapresiasi masyarakat internasional. Kisah tentang kebijaksanaan, perjuangan, kepedulian, dan kehidupan manusia dapat menjangkau mereka melalui dialog budaya, pendidikan, publikasi, maupun berbagai media komunikasi. Borobudur memiliki kekuatan untuk menjadi duta nilai-nilai universal Indonesia di panggung dunia.
Sayangnya, promosi warisan budaya kerap lebih mudah diukur melalui jumlah wisatawan, besarnya acara, popularitas artis yang hadir, atau nilai ekonomi yang dihasilkan. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Kita perlu bergerak dari sekadar memasarkan Borobudur sebagai destinasi menuju upaya menjadikan Borobudur sebagai sumber inspirasi peradaban dunia.
Setiap relief perlu dapat diceritakan kembali dengan bahasa yang mudah dipahami generasi muda dan masyarakat internasional. Teknologi digital, film dokumenter, buku populer, pameran keliling, program pendidikan, hingga kerja sama dengan lembaga kebudayaan luar negeri dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan pesan-pesan tersebut.
Dalam hal ini, pemerintah dan pengelola kawasan Borobudur perlu mengambil peran yang lebih strategis. Promosi tidak cukup dilakukan secara sporadis atau hanya ketika ada acara besar. Diperlukan program jangka panjang yang terencana, dengan narasi utama yang kuat, packaging berbagai bahasa, kemitraan internasional, serta indikator keberhasilan yang tidak hanya mengukur kunjungan fisik, tetapi juga sejauh mana masyarakat dunia mengenal dan memahami nilai-nilai Borobudur.
Pengalaman memperkenalkan kisah relief di Slovakia, misalnya, dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan diplomasi budaya yang lebih sistematis. Borobudur seharusnya hadir dalam ruang pendidikan, forum kebudayaan, museum, dan percakapan global mengenai nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam konteks polemik konser Andrea Bocelli, kita perlu bersikap proporsional. Menghadirkan artis kelas dunia bukan sesuatu yang keliru. Namun, setiap kegiatan di kawasan warisan budaya harus pertimbangkan kesesuaian fungsi, ketentuan perizinan, kelestarian situs sejarah budaya.
Dan jika kegiatan dinilai tidak tepat untuk diselenggarakan di lokasi tersebut, keputusan untuk membatalkan atau memindahkannya perlu ditempuh dengan prosedur jelas dan adil. Borobudur tidak boleh semata-mata dijadikan panggung peristiwa untuk memikat perhatian dunia. Justru dunia perlu diajak untuk makin mengenalnya karena nilai peradaban Borobudur itu sendiri sungguh tak ternilai.
Perlu menjadi kesadaran bersama bahwa tanggung jawab menjaga dan mengangkat Borobudur tidak hanya berada di tangan pemerintah, pengelola, atau komunitas pelestari. Masyarakat juga dapat berperan dengan menceritakan kembali kisah-kisah relief, mengenalkannya kepada generasi muda, serta membangun narasi yang positif dan mencerahkan tentang warisan budaya Indonesia. Inisiatif masyarakat itu perlu diperkuat oleh strategi negara yang konsisten agar dampaknya meluas dan berkelanjutan.
Kita harus memastikan bahwa Borobudur tidak hanya dikenal sebagai tempat yang pernah dikunjungi atau menjadi lokasi acara spektakuler, melainkan juga sebagai kiblat peradaban, sumber kebijaksanaan yang perlu terus lestari dalam kesadaran masyarakat dunia, apalagi Nusantara.
Pertunjukan konser itu hanya beberapa jam, namun nilai suatu wisdom peradaban bisa berabad-abad bertahan. Karena itu, momentum polemik ini semestinya mendorong kita untuk memperjelas prioritas: menjadikan Borobudur bukan sekadar komoditas pariwisata atau tempat penyelenggaraan event, melainkan pusat penyebarluasan nilai-nilai luhur universal yang bersumber dari warisan leluhur.
Indonesia memiliki sesuatu yang berharga untuk dibagikan kepada dunia. Bukan sekedar menjaga Borobudur tak lapuk dimakan usia, kita juga perlu pastikan bahwa pesan-pesan di balik reliefnya terus dibaca, dicerna dan menginspirasi karakter bangsa.
Borobudur jauh lebih bernilai ketimbang sekadar panggung konser, ia adalah kekayaan warisan peradaban yang harus dijaga dan digaungkan ke dunia dan tentunya bangsa sendiri terutama.
——-
*Penulis Dr. Fidelis Diponegoro, alumni S3 Kajian Budaya & Media UGM

