Rabu, 28 Januari 2026

Hadapi Terorisme, Ketum PPP: MUI Perlu Segera Fasilitasi Pertemuan Nasional

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy (Ist)

JAKARTA- Bulan Ramadhan adalah saat yang baik untuk melakukan rekonsiliasi semua elemen bangsa ini terutama bagi umat Islam untuk bersatu kembali memperkuat komitmen sebagai bangsa dan negara Indonesia. Teror bom di Kampung Melayu adalah kenyataan yang harus dihadapi bersama sehingga tidak terulang lagi. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy kepada Bergelora.com Sabtu (27/5).

“Sebaiknya MUI (Majelis Ulama Indonesia) segera memfasilitasi pertemuan seluruh ormas Islam terdaftar dan semua paham  yang perlahan berkembang tapi mulai banyak diminati meski belum terdaftar,” ujarnya.

Menurutnya harus segera dilakukan diskusi-diskusi terbatas ditingkat nasional yang dihadiri oleh semua pihak.

“Hasil rekonsiliasinya dituangkan dan reproduksi dalam bentuk tulisan dan dikirimkan ke seluruh kalangan terkait,” jelasnya.

Sebelumnya menurutnya, Jaringan teroris yang mengatasnamakan Islam, dinilai gagal memahami makna ayat-ayat dalam Al Quran. Tak mengherankan bila pada akhirnya para teroris menggunakan ‘mahzab’ kekerasan.

“Mereka mengartikan siapapun yang tidak berhukum dengan hukum Allah SWT, maka termasuk golongan orang-orang kafir,” kata Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan M. Romahurmuziy saat memberikan kuliah umum ‘Politik Islam di Tengah Perubahan’ di Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya, Jumat (26/5).

Mereka lalu membawa pemikiran tersebut ke Indonesia, yang tidak menggunakan hukum Islam. Karena Indonesia bukan negara Islam dan pemerintahnya tidak menggunakan hukum Allah, lalu mereka menganggap pemerintah berhukum dengan hukum thagut.

“Karena dianggap berhukum dengan hukum thagut, maka dianggap sebagai musuh Islam. Di situlah terjadi penyederhanaan pemahaman yang dianut dan masih disebarkan dan direproduksi ke berbagai sel teroris di Indonesia,” ujarnya.

Untuk itu, dia berharap agar umat Islam betul-betul paham posisinya dalam konteks NKRI. Sebab bila tidak, maka tanpa disadari justru hanya akan mengembangkan paham yang gagal.

“Karena memang gagal memahami sebuah paham, akhirnya mereka melakukan aksi teror dan menimbulkan korban jiwa. Padahal, tindakan itu adalah tindakan anti agama, melawan kemanusiaan dan puncak dari intoleransi yang dilakukan untuk menimbulkan ketakutan kepada bangsa Indonesia,” tandasnya.

Kejadian tersebut juga mengukuhkan kenyataan bahwa sel-sel terorisme masih aktif dan terus bereproduksi di Indonesia. Menurutnya, melawan kekerasan semata-mata dengan kekerasan, hanya akan menambah amunisi perlawananan teroris.

“Adapun bom bunuh diri tersebut adalah tindakan orang-orang yang anti agama dan pelakunya mati sia-sia karena menzhalimi dirinya sendiri,” kecamnya. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru