Minggu, 1 Februari 2026

Obituari Pemuda Ari: The Spirit Carries On!

Pemuda Ari (Arie Ariyanto) (Almarhum) (Ist)

JAKARTA- Maaf Kawan,–aku tak sempat menengokmu saat kau sakit. Tak sempat juga mengantar kepergianmu.  Untuk itu kami bikin tulisan ini untuk mengingatmu Kawan Pemuda Ari (Arie Ariyanto),– bahwa kau boleh pergi, tapi biarlah semangat dan keceriaanmu tetap bersama kami. Terimalah kenangan kami sebagai penghormatan terakhir buatmu, kompatriot Pemuda Ari!

Aku masih ingat ketika dua hari sebelum kepergianmu, Kawan Vijai sampaikan pesanmu hanya ingin bertemu Kawan Andi Arief dan Kawan Faisol Reza. Setelah beberapa hari kemudian, Yuli Marlianti mengabarkan kepergianmu,–yang menggetarkan otakku,– menyesal. Semasa hidup, kita berdua tak pernah dekat dalam kolektif kerja.  Tapi semua kawan tetap mengingatmu dalam suka dan duka, dalam jengkel dan gembira,–bersama gerakan massa rakyat yang kita bangun sama-sama dan terus bertumbuh alamiah dan liar.

Sereida Tambunan, pengurus KBRD (Keluarga Besar Rakyat Demokratik) yang sekarang jadi wakil rakyat di DKI Jakarta mengenangmu.

“Pemuda Ari, kawan yang gigih dan baik. Hatinya tulus dan ikhlas.”

Hamzah, si pengendali hujan juga tetap mengingatmu.

“Yang kuingat Ari pemuda yang optimis, ceria dan tidak suka merepotkan orang lain.”

Vijai menyimpan pengalaman khusus denganmu yang sangat berarti bagi masa depannya.

Orang tua Arie Ariyanto hadir saat mengenang Pemuda Ari di Yogyakarta beberapa waktu lalu (Ist)

“Dia yang kasih ongkos aku ke Purwokerto 2 hari sebelum menikah.  Waktu itu aku berangkat berdua sama Hamcrut (Hamzah). Aku cuma punya uang Rp 150 ribu. Tanpa kuminta dia kasih Rp 100 ribu buat ongkos. Aku ga punya kemeja putih buat daleman Jas pinjaman dari Ceci. Karena dikasih ongkos itu di Purwokerto aku bisa beli kemeja. Dia ringan tangan membantu kawan. Orang yang tak pernah kelihatan bersedih, periang,”.

Kau tentu gak lupa sama Binbin yang masih bertugas di KPP PRD, Tebet bersama Jabo dan Rizki. Baginya, kau adalah contoh yang baik bagi generasi milineal yang akan terjun ke dunia politik. Ia masih ingat jejak perjuanganmu.

“Hal yang paling utama dari pemuda Ari adalah dedikasinya yang tinggi terhadap tugas-tugas yang diberikan Partai (PRD) kepadanya. Tak ada kata menyerah dari pemuda Ari saat menjalankan tugas-tugas partai.”

Binbin masih ingat saat membangun front politik SEGERA (Solidaritas Gerakan Rakyat Aceh) sebuah front yang memperjuangkan rakyat Aceh untuk merebut demokrasi yang saat itu dibajak oleh rejim Megawati dengan kebijakan DOM (Daerah Operasi Militer) nya. Sebagai ketua SEGERA, Pemuda Ari mampu mengkonsolidasikan masyarakat Aceh yang berada di Jakarta untuk berani melakukan perlawanan.

Tak cukup disitu kenang Binbin. Pemuda Ari pun meluaskan arena perjuangan dengan melibatkan kawan-kawan Papua yang mengalami nasib tak jauh beda dengan rakyat Aceh. Diapun menginisiasi front yang menyatukan masyarakat Aceh dan Papua dengan membentuk SAP (Solidaritas Aceh Papua)

“Sebagai seorang pribadi, pemuda Ari adalah kawan yang menyenangkan. Tak pernah mengeluh dalam perjuangan dan selalu membawa kegembiraan dalam kolektif kerja. Pergaulannya supel mudah diterima baik oleh kawan-kawan lama maupun orang yang baru dikenalnya. Lawanpun segan dengannya,” papar Binbin.

Soal keberanian? Menurut Binbin kau tak perlu diragukan. Namun selalu kau mengedepankan diplomasi

Ternyata kau jago masak. Apapun bisa kau olah jadi makanan rupanya.

“Pernah ke rumahnya aku ditangkapin ular dan biawak buat kesehatan katanya. Ngolah jantung pisang juga jago. Sampai kawan-kawan menyangka Ari punya duit banyak karena kita bisa merasa makan daging,–ternyata jantung pisang diolahnya,”

Ada pengalaman lucu yang diingat Binbin darimu.

“Waktu aku sama Samsul buat kaos buat anak-anak. Ari ngotot pengen jadi modelnya. Kita bilang ngga bisa ri, Ini hanya buat anak-anak. Masak kaos anak-anak modelnya kau. Setelah perdebatan panjang akhirnya kita ngalahlah. Tentunya setelah nyogok sebungkus rokok. Jadilah dia model kaos buat anak-anak. Gambar dan tulisan dikaos juga sesuai mau dia,” kenang Binbin.

Dalam kerja politik dan ideologi menurut Binbin, kita perlu belajar dari Pemuda Ari,–yang selalu berusaha konsisten dengan teori-teori perjuangan.

“Rumus politik dia nggak kaku. Yang penting ada material pasti bisa dicocokinnya sama program partai, maka jadilah front. Misal soal Front Anti Kenaikan BBM. Mau dikanan sekalipun kalau sama-sama nolak kenaikan BBM ya namanya sekutu. Walau sudah ditolak Partai,– dia tetep aja jalan. Kata dia, santai saja kawan seknas (sekretaris nasional), yang nolak-nolak itu kan nggak di lapangan,” kenang Binbin.

Asal Usul Pemuda Ari

Aku masih bertanya-tanya asal usul dirimu. Aku sendiri mengenalmu pertama kali saat kau pimpin KPK (Komite Pimpinan Kota) PRD Yogyakarta. Aku barusan tiba di sekretariat partai,–lupa dimana dan kapan tepatnya. Yang ku ingat Sore itu sekretariat tiba-tiba dikepung segerombolan orang dengan motor dan melempar molotov bertubi-tubi. Api menyala di ruangan tamu. Kau ajak pimpin kami kawan untuk melawan mengusir gerombolan tak dikenal itu. Setelah reda, aku baru tahu, kaulah pimpinan partai di Yogyakarta. Kau bawa kami evakuasi malam itu. 

Sopril Amir, kawan lamamu juga mulai merangkai kenangan awal mengenalmu yang sering datang ke kosnya.

“Di Blimbingsari, depan Perpustakaan Fisipol (atau malah lebih awal ya, di Terban? saat itu memang kos bareng Yussac dan Cak Narto). Dia (Ari) diajak loper koran revolusioner, Miskam,– tetangga atau malah keluarganya satu desa. Kalau mulainya di Blimbingsari, Nurkhoiron komisioner Komnasham mestinya juga ingat, karena kos di situ juga. Di Terban itu kayaknya 93, Blimbingsari 95-an,” jelasnya di grup WA Paguyuban Darah Juang.

Sejak awal menurut Sopril, kau memang penuh semangat dan rajin bertanya. Suka mengikuti obrolan politik di kos, terutama ketika ada Yussac dan Jito, yang sekarang jadi pejabat UGM mampir.

“Tidak berapa lama, ia sudah melangkah maju dengan bangga memberitahukan bahwa baru saja bergabung dengan PRD. Sejak itu, dia jarang mampir, dengan alasan sibuk dengan kegiatan bersama PRD.

Nining, si pelukis revolusioner mencoba mengingat awal-awal keterlibatanmu dalam gerakan yang kita bangun.

“Pas sering datang ke kos di Blimbingsari atau Terban, dia sudah STM atau belum ya? Tadi malam ada yang cerita ketika sekretariat PRD di Jatimulyo, Arie datang habis daftar sekolah, pulangnya langsung daftar masuk PRD untuk jadi anggota, namun  ditolak (Astaga!!!-aku) karena belum 17 tahun dan belum punya KTP. Tapi yang jelas tahap awal pendidikan politiknya ya kalian (Sopril, Miskam, Jito, Narto dan Yussac) itu berarti ya!,” kata Nining di grup WA Paguyuban Darah Juang.

Kawan-kawan terus merangkai ingatan jejak sejarahmu kawan. Nining coba mengingat-ingat.

“Waktu daftar PRD kayaknya tahun 1999, pas PRD jadi peserta Pemilu. Nah, pas dikurpol Bung Sopril dan kawan-kawan itu berarti Ari masih kecil banget ya…Dia kelahiran 1980. Artinya, pas main di Terban umur 13, di Blimbingsari umur 15-an…

Ajianto Dwi Nugroho juga meningat-ingat paruh waktu awal keterlibatan dirimu.

“Sebelum 99 jaman PRD kae ari wis melu demo-demo Ning,” Aji mencoba mengingat.

Sopril akhirnya meralat ingatannya kembali.

“Kalau begitu ketemu awalnya bukan di Terban, tapi Blimbingsari, 95-96, dia itu banyak belajarnya ke Yussac, yang memang suka memantik diskusi dan ceramah. Kalau aku dan lainnya lebih sebagai penanggap omongan Yussac. Kurpol resmi dan intensif kayaknya pas dia ke PRD. Meski sekali pun dia belum bisa jadi anggota,” sanggahnya di grup.

Nining menyela,” Eh, tapi ada yang ga pas ya, kalo tahun 99 berarti dia udah 19 tahun. Apa dia ditolak hanya karena belum punya KTP ya? Tadi malam yang cerita Surya, bojone Tony Cikru. Dia yang kasih formulir pendaftarannya dan yang menolak dengan alasan demikian.”

Kawan-kawan terus mengingat-ingat dirimu kawan! Bahkan Wibowo Arif alias Jemekpun.

“Waktu daftar PRD yang terima Samsul dan Hendro Tuhan. Di Jetis!” tegasnya mengguncang grup Paguyuban Darah Juang

Aji Bool berusaha mereview ingatannya.

“Pas aku jenguk di rumahnya dia cerita awalnya sering sama Yussac dikasih buku Raymond Wiliam. Dia juga sama miskam, Saudaranya yang sekarang sedang sakit juga.

Nining akhirnya meyakini, ”Berarti benang merah asal muasal Pemuda Ari bisa terhubung dengan kawan-kawan sudah mulai jelas sekarang.”

Kawan, kenangan kami ini memang jauh dari cukup apalagi sempurna. Biarlah kami terus mengingatmu dalam setiap langkah perjuangan kami. Tulisan ini kami tutup sambil mendengar pesan sebuah lagu,–“The Spirit Carries On” dari Dream Teather.

Sekarang,– selamat jalan dan beristirahatlah dari lelahmu. Salam kami buat semua kawan dan kompatriot yang sudah mendahului kami disana. Rakyat Pasti Menang! (Web Warouw)

PS: Ini kami kirim 2 Link Lagu untukmu agar kau selalu ingat kami disini: https://www.youtube.com/watch?v=-J6PPkKBXoU dan https://www.youtube.com/watch?v=mquySD7MC4c

 

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru