Minggu, 1 Februari 2026

Tepat…! Perempuan Jadi Kunci Utama Pembangunan Nasional

Salah satu pendiri GPSP, GKR Hemas yang juga hadir dalam ToT Training yang diselenggarakan Yayasan GPSP (Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan) di Jakarta 26-28 Januari ini dihadiri 16 perwakilan remaja dari pelbagai daerah. (Ist)

JAKARTA – Kunci utama pembangunan nasional tidak hanya terletak di atas pundak laki-laki. Perempuan juga punya tugas dan peran yang sama. Karena itu, peningkatan kualitas bagi para perempuan Indonesia merupakan sebuah keharusan.

Menurut Ketua Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP) Linda Agum Gumelar, jumlah perempuan dan laki-laki di Indonesia hampir sama banyaknya. Dari total 100 perempuan, ada 66 orang berusia produktif. Sementara dari 100 laki-laki, ada 65 di antaranya berusia produktif.

“Potensi sumber daya manusia tersebut dapat menjadi modal utama pembangunan, bila mereka memiliki kualitas yang baik,” kata Linda Gumelar saat membuka Training of Trainer(TOT) bertajuk ‘Peningkatan Kapasitas Perempuan untuk Percepatan Kesetaraan Gender’, Jumat (26/1) di Jakarta.

Linda menambahkan perempuan saat ini punya kesempatan besar untuk berkiprah di segala bidang. Namun, untuk meraih posisi tersebut, masyarakat harus memiliki pemahaman utuh mengenai kesetaraan gender.

“Dengan itu, maka perlakuan diskriminatif terhadap perempuan dapat diperkecil, sehingga perempuan dapat memanfaatkan kesempatan dan peluang yang telah diberikan,” ujar mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tersebut.

“Hal ini sejalan bahwa pemberdayaan perempuan merupakansalah satu dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Global (SDGs) periode 2016-2030, untuk meningkatkan kesejahteraan secara merata,” tambahnya.

Bagi Linda, untuk menjadi seorang pemimpin, perempuan tak boleh hanya memperhatikan kewenangan formal semata. Kewenangan informal berupa pengaruh (influence) juga sama pentingnya. Alasannya, masalah dan tantangan yang ada di masyarakat tidak hanya bersifat teknis, lalu dapat diselesaikan melalui kewenangan formal. Masalah dan tantangan yang bersifat adaptif butuh sebuah kewenangan informal.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, sementara itu, salah satu pendiri GPSP, GKR Hemas yang juga hadir dalam ToT, mengharapkan hasil ToT untuk ditindaklanjuti sehingga akan banyak remaja yang terlibat dan paham tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Hal ini, dikatakan Hemas, karena GPSP akan terus-menerus dan serius mendorong perempuan agar mumpuni dan dapat berpartisipasi di segala bidang. (Kanya E. Graciella)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru