PALU- Posko Menangkan Pancasila (PMP) Sulteng dan Nasional bersama serikat buruh yang tergabung dalam Posko Menangkan Pancasila, pada Pukul 15.10, Jumat (25/1) mendatangi Kantor Polda Sulteng guna melaporkan akun penyebar Hoax terkait aksi Pekerja Tambang di PT IMIP di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
PMP tiba didampingi oleh pengacara Serikat Buruh Adi Prianto, S.H, Kordinator Posko Menangkan Pancasila. Kepada media dijelaskan tujuan mereka ke Mapolda Sulteng guna melaporkan akun yang sudah menyebarkan informasi bohong terkait aksi demonstrasi yang dilakukan oleh pekerja pada tanggal Kamis (24/1) di PT IMIP Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.
“Pada akun yang kami laporkan, mereka menarasikan sebuah aksi demonstrasi dengan tidak sesuai fakta dilapangan. Kami menganggap penyesatan informasi seperti itu justru sengaja menyulut konflik sosial ditengah masyarakat. Terlebih lagi informasi yang disebar justru memanfaatkan gerakan perjuangan buruh PT.IMIP, padahal isu penting yang mereka suarakan adalah UMSK 20%. Bukan bentrokan antara TKA dan TK Lokal,” ujarnya.
Adapun pemilik akun yang kami laporkan menurut Kordinator PMP Sulteng masing-masing berprofesi sebagai Akademisi, Kontraktor, mantan aktivis mahasiswa tahun 1998 dan Mantan Staf Kementrian ESDM.
“Langkah ini kami ambil untuk meredam terjadinya konflik sosial ditengah masyarakat akibat informasi bohong yang sudah terlanjur tersebar ditengah-tengah masyarakat, sekaligus memberi pelajaran kepada kita semua, bahwa sebagai warga negara yang baik kita harus bijak dalam bersosial media, mengedepankan kebenaran informasi sebelum asyik membagikan tanpa ada filterisasi sedikitpun,” ujarnya.
Penyebar Video Hoax
Beredarnya video yang mengatakan tentang aksi TKA China di PT IMIP Morowali oleh puluhan ribu oleh Kamis (24/1). Video itu merupakan penyesatan informasi alias hoax yang sengaja dilakukan oleh orang-orang yang selama ini memang selalu memecah belah dengan mengipas-kipas isu SARA.
“Video yang beredar itu merupakan aksi Buruh PT.IMIP yang sedang berlangsung di areal perusahaan, dengan membawa Tuntutan Naikan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK) sebesar 20% dan Pembangunan fasilitas yang layak bagi keselamatan pekerja,” hal ini ditegaskan oleh Azman Asgar, Sp, Ketua Posko Menangkan Pancasila Sulawesi Tengah kepada Bergelora.com di Morowali.
.
Jikalau pun ada isu yang mengatakan itu adalah TKA yang keluar dari persembunyiannya, tidak lain itu merupakan usaha untuk mempolitisasi aksi yang dilaksanakan oleh para pekerja.
“Saat ini memang ada upaya jahat sekelompok orang yang dari dulu menghembus-hembuskan pekerja asal China di Morowali. Pemogokan kemarin juga dimanfaatkan mereka untuk terus menghembuskan sentimen SARA. Aparat keamanan harus segera mengejar dan menangkap kelompok kelompok rasis ini,” tegasnya.
Azman Asgar menegaskan bahwa sentimen SARA yang terus beredar sampai saat ini jelas jelas bertentangan dengan tujuan perjuangan buruh dan menantang Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 yang telah menyatukan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan.
“Seluruh rakyat harus melawan kelompok-kelompok rasis yang selalu berupaya memecah belah. Dukung Polisi untuk meringkus para benalu politik yang mengambil keuntungan dari sentimen SARA,” tegasnya. (Bob)

