MEDAN – Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais mengancam akan menggerakkan people power jika hasil pemilu diwarnai kecurangan. Ketua Partai Kebangkitan Nasional Ulama Sumatera Utara berpendapat strategi tersebut sudah usang dan sudah lama di tinggalkan kaum pergerakan. Hal ini ditegaskan Ikhyar Velayati, Ketua Tahfiz Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) Sumatera Utara, Muhammad Ikhyar Velayati Harahap kepada Bergelora.com di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (6/4).
“Isu people power atau boikot pemilu dengan alasan terjadi kecurangan pemilu adalah strategi usang yang sudah lama ditinggalkan oleh gerakan pro demokrasi dan kaum demokrat,” demikain tegasnya.
Kenapa demikian, menurutnya karena Indonesia paska reformasi telah menganut sistem demokrasi secara konsisten. Demokrasi sudah menjalankan Multi Partai, kebebasan berpendapat dan berorganisasi, pemilihan langsung di legislatif, kepala daerah, pilpres dan juga bahkan dalam penentuan pejabat publik (Test and propertest). Netralitas aparat TNI/Polri juga sudah teruji di mata publik.
“Selain itu di dunia internasional khususnya di negara berkembang dan timur tengah, gelombang demokratisasi juga massif dan sudah selesai. Saat ini dunia internasional fokus pada kerjasama ekonomi serta persaingan bebas. Gerakan gerakan yang mencoba melakukan delegitimasi di negara yang menganut sistem demokrasi tidak akan mendapat dukungan dunia internasional,” sambung Ikhyar yang juga di kenal sebagai Kordinator Forum Aktifis 98 Sumatera Utara.
Ikhyar mengatakan justru trend gerakan kekerasan dan mobilisasi massa di gunakan oleh kelompok fundamentalis dan trans nasional seperti ISIS, Al Qaeda dan HTI telah menjadi musuh negara-negara dan gerakan demokratis diseluruh dunia.
“Justru saat ini trend gerakan kekerasan serta mobilisasi dengan tameng agama untuk mendelegitimasi negara demokrasi di lakukan oleh kelompok kelompok yang menggunakan agama sebagai tameng gerakan dengan isu khilafah, misalnya ISIS, Al Qaeda dan HTI,” tegasnya.
Jika dicermati menurutnya, fenomena pilpres 2019 jadi anomali. Kelompok gerakan fundamentalis agama yang tidak percaya intitusi dan sitem demokrasi karena di anggap sistem Thogut (Setan) tetapi saat ini paling bersemangat berkampanye dengan militan memperjuangkan pasangan salah satu capres di basis basis umat islam.
“Hal ini mereka sudah lakukan sejak Pilkada DKI Jakarta 2018. Sejak mereka terlibat secara penuh dalam momentum pilkada dan pilpres, terjadi ketegangan politik sesama umat islam di akar rumput yang akan mengancam Ukhuwah Islamiah dan NKRI,” jelas ikhyar
Ikhyar menambahkan Sebenarnya momentum demokrasi dalam pilpres 2019 bagi kelompok fundamentalis tersebut hanya untuk mendelegitimasi negara NKRI dan Pancasila yang menjadi fondasi Proklamasi 1945.
“Momentum suksesi pilpres 2019 bagi kelompok fundamentalis tersebut hanya untuk mendelegitimasi negara dan Pancasila. Suksesi pilpres di gunakan untuk mendelegitimasi sistem dan bentuk negara lewat delegitimasi pemilu. Sejatinya mereka tidak percaya pemilu. Jadi ada simbiosis mutualisme dengan kekuatan politik yang bertarung dalam pilpres,“ bebernya.
Kelompok fundamentalis menurutnya ingin agar terjadi delegitimasi pemilu yang berdampak pada delegitimasi negara dan sistem negara Pancasila. Sementara kelompok Nasionalis dalam kubu Prabowo-Sandi mengambil sikap pragmatis untuk ingin berkuasa.
“Sehingga mereka menjadikan isu kecurangan pemilu dan boikot pemilu untuk menggerus suara Petahana sehingga bisa menang dalam pilpres 2019. Koalisi pilpres yang tergabung dalam oposisi ini sebenarnya ‘Satu Bantal Lain Mimpi Basah’. Yang satu mimpi Khilafah sementara satunya lagi bermimpi ingin berkuasa,” tegasnya.
Namun Ikhyar Velayati memastikan bahwa rakyat Indonesia sangat sadar untuk mempertahankan negara NKRI berazas Pancasila yang di proklamasikan oleh Soekarno dan Hatta di tahun 1945.
“Tenang saja coy, mereka blok nasionalis dan blok khilafah di tubuh pendukung Prabowo-Sandi hanya bisa bermimpi. Karena rakyat Indonesia disemua pelosok negeri akan melawan, mengalahkan mereka di kotak suara pemilihan nantinya. Mimpi mereka akan buyar setelah melihat kenyataan objektif 17 April nanti,” tegasnya (Joko P.)
.

