Rabu, 29 April 2026

In Memoriam Radjimo S. Wijono, Sahabat dan Mentor Yang Baik

Sejarawan Bonnie Triana dan Radjimo saat riset arsip di kantor Arsip Nasional RI 2005 menelusuri kisah Tasripin, orang kaya Semarang pada abad 19. (Ist)

Seorang organiser telah pergi Jumat (17/1), dikenang oleh banyak kawan-kawan mudanya. Radjimo ‘Mamo’ Wijono salah satu penggerak mahasiswa dan buruh di Semarang melawan kediktaktoran Orde Baru. Sejarawan Bonnie Triana mengenangnya dalam akun Facebooknya dan dikutip untuk pembaca Bergelora.com (Redaksi)

 

Oleh: Bonnie Triyana

SAAT menerima kabar kepergian Radjimo S Wijono pagi tadi, berulang kali saya pastikan bahwa kabar itu benar adanya. Tanpa pikir panjang lagi saya bergegas berangkat ke Serang bersama Mas Budi Setiyono dan M.f. Mukthi, melayat ke rumah duka.

Setibanya di rumah duka, saya melihat tubuh kaku terbujur ditutupi kain batik. Wajahnya diselubungi kain putih, saya tak kuasa membukanya. Saya tak sanggup melihat wajah sahabat yang selama bertahun-tahun bergiat bersama sejak awal saya kuliah di Semarang membeku tanpa senyum seperti biasanya. Saya hanya menunduk, mengenang kembali semua yang pernah kami lakukan.

Tetiba saja saya terseret kenangan semasa di Semarang. Mas Momo, begitu kami memanggilnya, bersama saya dan Kustam Ekajalu nekat berangkat ke Jakarta untuk sebuah kegiatan mahasiswa. Kami tak punya ongkos banyak. Seingat saya hanya Rp. 150 ribu untuk bertiga. Itu termasuk untuk makan. Karena satu-satunya kereta tersisa ke Jakarta kelas Argo, maka kami nekat naik dari Stasiun Tawang. Bermodal status mahasiswa yang saat itu – mungkin – karena era awal reformasi cukup disegani (kite pikir…) cuek saja naik kereta eksekutif dengan tarif per orang – saat itu – Rp.150 ribu.

Setelah kami bertiga naik kereta, Mas Momo dan Kustam masuk langsung ke gerbong, duduk layaknya penumpang legal bertiket. Seperti biasa, saya bertugas jadi juru loby, negoisasi dengan kondektur. Ketika kondektur datang, dia tagih tiket kami. Saya buru-buru mengajaknya ngobrol.

“Pak, kami mahasiswa ada kegiatan mendadak di Jakarta, kami ketinggalan kereta ekonomi dan bisnis, sedangkan kami tak punya uang banyak. Kalau kami bayar Rp. 100 ribu bertiga dan tak perlu duduk gimana?” kata saya menego.

“Wah dik, jangankan 100 ribu untuk tiga orang, 100 ribu per orang pun saya ndak berani. Ini kereta Argo, penumpang ndak boleh duduk keleleran,” kata Pak Kondektur menampik tawaran saya.

Akhirnya dia menawarkan agar kami turun di stasiun Pekalongan saja. Sebetulnya kereta tak berhenti di sana, tapi dia bisa hentikan untuk menurunkan kami. Dengan kata lain, kami diusir… hehehe…

“Nanti di Pekalongan ada kereta ekonomi, kalian naik itu saja,” kata Pak Kondektur.

Akhirnya setelah kurang dari 30 menit merasakan duduk di gerbong orang kaya, kami turun di stasiun Pekalongan. Tak ada yang turun kecuali kami, mahasiswa gembel ini. Waktu itu Mas Momo sudah hampir lulus kuliah, sedang menyusun skripsi. Saya dan Kustam mahasiswa tahun kedua.

Di Pekalongan kami beli tiket ekonomi. Kalau tak salah itu kereta Gaya Baru dari Surabaya. Kami lega karena masih bisa melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Di dalam gerbong kelas ekonomi manusia tumplek silang sengkarut. Kami bertiga duduk lesehan beralaskan koran di bawah, tak kebagian kursi. Karena kereta ekonomi harus berhenti di setiap stasiun, termasuk stasiun kecil, maka perjalanan malam itu terasa sangat lama. Saya letih, ngantuk. Kami bertiga tidur begitu saja di bawah lantai kereta. Kaki saya menyentuh kepala Kustam, kaki Mas Momo juga kena kepala saya. Bukan kami saja, tapi semua orang yang tak kebagian kursi malam itu tidur di lantai. Tubuh kami tersusun rapi seperti ikan pindang di bakul dagangan. Tapi toh kami tidur nyenyak.

Jam 7 pagi kereta tiba di Stasiun Senen. Setelah pergi ke WC umum untuk membasuh wajah, kami sarapan dan buru-buru ke lokasi acara. Dalam situasi apapun Mas Momo selalu santai dan merasa tak ada beban. “Wis tho ah.. santai wae… dilakoni rak wis..” katanya dalam dialek Semarang.

Radjimo anak kampung Lamper, Semarang. Masuk kuliah jurusan Sejarah Universitas Diponegoro pada 1994. Semasa mahasiswa aktif dalam gerakan politik menentang rezim Soeharto. Dia tercatat sebagai anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang kerap kali harus main kucing-kucingan dengan aparat penguasa menghindari razia dan penangkapan. Sejak rumahnya dijadikan tempat pertemuan SMID merancang aksi demonstrasi buruh, dia jadi buruan intel. 

Suatu kali dia bercerita pada saya bagaimana dia dikejar-kejar tentara usai aksi demo yang dibubarkan. Dia lari dikejar sampai masuk kampung, diuber-uber sampai ke gang-gang kecil dan diteriaki maling supaya warga ikut mengepungnya. Untung saja selamat. Apa resepnya: “aku pake kaos dobel, waktu dikejar ganti baju,” katanya mengenang. Sering pula cerita itu dituturkan saat kami bertandang ke rumah Rukardi Achmadi, kawan seperjuangan Radjimo yang kini jadi petinggi di harian Suara Merdeka.

Saya mulai berkenalan dengannya sejak hari pertama masuk kuliah. Walaupun beda angkatan 4 tahun lebih muda, persahabatan kami tak berjarak. Dia menjadi kawan diskusi saya dan mungkin orang yang selalu memotivasi saya dalam berbagai kegiatan. Pada 1998, tak lama setelah Soeharto lengser, Radjimo bersama tiga senior saya Budi Setiyono, Budi Winarno dan Abdullah Ali Aljufry mendirikan organisasi nirlaba Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah (Mesiass). Organisasi ini fokus pada kegiatan menulis ulang sejarah Indonesia, khususnya periode 1965-1966 yang pada masa Soeharto banyak diputarbalikan.

Tak lama setelah berdiri, Radjimo lah yang merekomendasikan nama saya kepada Budi Setiyono untuk bergabung ke Mesiass. Sejak saat itu saya aktif bergiat di lembaga nirlaba yang menumpang berkantor di perpustakaan Widya Mitra yang dikelola oleh Ibu Widjajanti Dharmowijono dan Mas Satrio Seno Prakoso. Tak hanya melakukan penelitian dan penulisan, kami pun menyelenggarakan diskusi-diskusi publik dengan mengundang para penyintas peristiwa 1965 untuk bicara, mengutarakan apa yang mereka alami semasa Orde Baru. Tak jarang acara itu mendapatkan gangguan dari apparat keamanan yang menilai kegiatan tersebut berbau-bau komunis. Ada kalanya saat diskusi, separuh dari peserta yang hadir tampangnya seperti intel semua. Paling tidak begitu perasaan was-was kami. Namun seperti biasa Mas Momo selalu bilang, “Wis tho.. santai wae…paling wong-wong kuwi mung gur nyatet-nyatet wae.” Ya udah deh.. santai aja…paling orang-orang itu Cuma nyatet-nyatet doang, demikian Mas Momo menenangkan.

Setelah lulus, Mas Momo bekerja serabutan, mulai dari jaga warnet sampai dengan menerima orderan riset. Karier intelektualnya mulai beranjak ajeg saat proposal penelitiannya terpilih untuk menerima dana dari LIPI dan NIOD. Waktu itu dia meneliti permukiman zaman kolonial di Semarang, belakangan diterbikan menjadi buku berjudul Modernitas dalam kampung : pengaruh kompleks perumahan Sompok terhadap pemukiman rakyat di Semarang abad ke-20.

Setelah menikah, dia memutuskan untuk tinggal di Serang, Banten, mengikuti istrinya yang orang Banten lulusan sastra Inggris, Undip lantas mengajar di Universitas Tirtayasa, Serang. Saat itu Mas Momo bekerja sebagai koordinator Indonesian People Forum (IPF) yang berkantor di Mampang, Jakarta Selatan. Di saat awal saya hijrah ke Jakarta, Mas Momo memberikan tumpangan kepada saya  untuk menginap di kantornya dan belakangan saya malah mengontrak di belakang kantornya di mana dia juga seringkali tinggal di kontrakan itu kalau sedang menginap di Jakarta.

Seiring waktu kami larut dalam kesibukan masing-masing. Dia sebagai peneliti, saya menjadi wartawan kemudian mendirikan Historia.ID. Kami tetap kontak. Mas Momo bahkan banyak membantu dalam penyelenggaraan Festival Seni Multatuli di Rangkasbitung. Dia aktif ikut serta sebagai komite panitia dan bersama saya juga teman-teman lainnya merancang konsep acara. Pertemuan terakhir dengannya terjadi September tahun kemarin dalam penyelenggaraan Festival Seni Multatuli yang kedua. Seperti biasa dia selalu santai, ceria dan kawan diskusi yang asyik.

Tapi hari ini tak ada lagi tawa dan senyum itu. Mas Momo menutup riwayat hidupnya pagi hari tadi karena serangan jantung. Anak sulungnya, Sirodj, kini kelas dua SMU, mengisahkan kalua ayahnya sempat terjatuh usai mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Namun masih kuat untuk sholat subuh dan kembali merasa membaik usai sholat. Tak lama kemudian serangan kedua datang. Nafasnya sesak dengan nyeri di dada kirinya. Keluarga dan tetangga buru-buru membawanya ke rumah sakit. Namun maut keburu menjemput tak lama tiba di rumah sakit. 

Seharian tadi saya mengikuti prosesi pemakamannya. Di komplek perumahan di mana dia tinggal, tampak Mas Momo meninggalkan banyak kebaikan. Dia memang aktif melatih anak-anak muda di sana untuk bermain bola. Ada banyak orang yang menyolati jenazahnya juga ketika mengantarnya ke pemakaman. Mas Momo wafat hari Jum’at, yang dipercaya sebagai pertanda baik.

Kalau saya harus mengenang Radjimo sebagai apa, saya hanya akan mengenanya sebagai manusia yang paling baik yang pernah saya kenal.Terlalu banyak kenangan saya dengannya dan mungkin terlalu panjang bila harus ditulis. Selamat jalan Mas Radjimo… terima kasih atas semuanya. Terima kasih….

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles