Minggu, 17 Mei 2026

KORBAN AS TRAGIS BANGET NIH…! Krisis Di Inggris, Anak-anak Terpaksa Kunyah Karet, Pekerja Seks Bertambah

JAKARTA – Kepala Sekolah di seluruh Inggris melaporkan anak-anak kelaparan hingga rela mengunyah karet. Tidak sedikit dari mereka memilih ke taman bermain saat jam makan siang karena tidak mampu membeli makan.

Banyak sekolah di Inggris sudah melihat tingkatan kasus memilukan pada anak-anak yang kelaparan. Satu sekolah di Lewisham, London Tenggara, memberi tahu ada anak yang berpura-pura makan dari kotak makan kosong karena tidak ingin teman-temannya tahu bahwa tidak ada makanan di rumahnya.

“Kami mendengar tentang anak-anak yang sangat lapar sehingga mereka makan karet di sekolah. Anak-anak datang belum makan apa pun sejak makan siang sehari sebelumnya. Pemerintah harus melakukan sesuatu,” kata Kepala Eksekutif Chefs in Schools, Naomi Duncan dikutip dari The Guardian, Senin (26/9/2022).

Di Inggris, murid berhak atas makanan gratis dari sekolah bagi yang orang tuanya berpenghasilan kurang dari 7.400 pound sterling atau Rp 120,78 juta (kurs Rp 16.322) per tahun. Menurut organisasi amal Child Poverty Action Group, masih ada 800.000 anak miskin yang tidak masuk daftar tersebut.

Sebuah kelompok masyarakat yang mengirimkan paket makanan darurat, Oxford Mutual Aid mengaku harus memangkas hari pengirimannya karena ratusan sukarelawan tidak dapat mengatasi peningkatan permintaan bantuan.

“Kami berjuang untuk memenuhi permintaan. Setiap hari saya mendengar tingkat kesusahan yang dialami orang-orang. Setiap hari saya berbicara dengan keluarga yang ketakutan karena tidak tahu harus ke mana,” ujar Koordinator Muireann Meehan Speed.

Pendiri Launch Foods, Craig Johnson mengatakan orang-orang berbicara tentang krisis mendekat. Badan amal di Glasgow itu menyediakan makan siang gratis untuk 300 anak sekolah setiap hari.

Selain itu, banyak warga Inggris yang memilih menjadi pekerja seks komersial (PSK), pun menghemat biaya makanan mereka agar tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Berdasarkan laporan Money Advice Trust, estimasi 20 persen orang dewasa Inggris menunggak pembayaran satu atau lebih tagihan rumah tangga. Estimasi itu setara dengan 10,9 juta orang.

Tak hanya itu, laporan ini menemukan bahwa 5,6 juta orang susah makan selama tiga bulan terakhir akibat kenaikan biaya hidup di Inggris, dikutip dari The Guardian.

Masyarakat memilih tak membeli makan, hanya makan satu kali sekali, atau bahkan tak makan sama sekali dalam beberapa hari. Ini dilakukan agar mereka bisa membayar tagihan listrik rumah tangga.

Selain itu, hampir delapan juta orang telah menjual barang personal atau barang rumah tangga mereka demi bisa membayar tagihan.

Di sisi lain, semakin banyak perempuan Inggris bekerja sebagai pekerja seks komersial. Berdasarkan pemberitaan Sky News, telepon ke English Collective of Prostitutes naik hingga sepertiga pada musim panas tahun ini.

Organisasi tersebut merupakan gerakan bawah tanah untuk pekerja seks di Inggris. Mereka memberikan cara agar perempuan yang bekerja di sektor tersebut dapat menjaga dirinya tetap aman dan bekerja sesuai hukum.

“Kenaikan biaya hidup mendorong banyak perempuan saat ini bekerja di bidang seksual dengan berbagai jalan, entah di jalanan atau secara online,” kata juru bicara lembaga tersebut, Niki Adams.

“Kita melihat masyarakat bekerja di ranah itu karena putus asa. Itu membuat mereka kurang bisa melindungi diri sendiri dari kekerasan dan eksploitasi,” lanjutnya.

Adams menilai tak hanya membuat sejumlah perempuan baru memilih bekerja seks, krisis juga menyebabkan masyarakat yang sudah lepas dari pekerjaan itu kembali lagi.

“Mereka didorong ke [sektor] tersebut karena entah mereka kehilangan pekerjaan ‘lurus’ mereka akibat Covid-19, atau itu tidak menutupi apa yang mereka butuhkan untuk hidup,” katanya.

Pekerja Seks Bertambah di Inggris

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, tak hanya Adams, CEO lembaga pendukung pekerja seks MASH, Annie Emery, mengakui lebih banyak perempuan menghubunginya untuk menjadi PSK demi bisa hidup dan mendapatkan tempat tinggal.
Emery menilai pandemi Covid-19 memang memperburuk kehidupan perempuan yang sudah berada dalam situasi sulit.

“Saat Covid-19 melanda, kami melihat kenaikan angka perempuan yang kehilangan pemasukan mereka hanya dalam waktu semalam, membutuhkan paket pangan darurat, yang diusir dari tempat tinggalnya, atau tak dapat melakukan isolasi,” ujar Emery

Ia kemudian berkata, “MASH berdiri selama 30 tahun dan kami khawatir kami mulai kembali berhubungan dengan perempuan yang sebenarnya sudah lepas dari bidang pekerja seks bertahun-tahun lalu.”

“Jelas bahwa kesulitan finansial mereka membuat perempuan memiliki opsi yang terbatas.”

Sebagaimana dilansir NPR, krisis biaya hidup di Inggris dimulai sejak akhir 2021, didorong oleh inflasi tinggi dan kondisi politik dunia. Pasokan gas di negara itu semakin mahal, salah satunya disebabkan oleh terhambatnya suplai akibat perang Rusia-Ukraina.

Padahal, warga Inggris mengandalkan gas untuk menyalakan listrik dan memanaskan rumah mereka, terlebih kala musim dingin. (Enrico N. Abdielli)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles