Selasa, 13 Januari 2026

SUDAH SIAP BELUM..? DPR: Gaza-Venezuela adalah Peringatan Keras, Tak Ada Negara yang Aman

JAKARTA- Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mengatakan, langkah Amerika Serikat (AS) menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro merupakan peringatan keras bahwa tak ada negara yang benar-benar aman. Sukamta menilai, tindakan AS itu juga menandakan bahwa hukum internasional telah mati sehingga bukan tidak mungkin akan ada negara-negara lain yang bisa bernasib seperti Venezuela atau Palestina yang diserang negara lain. Baca berita tanpa iklan.

“Gaza dan Venezuela adalah peringatan keras: ketika hukum internasional mati, tidak ada negara yang benar-benar aman. Yang ada hanya negara yang kuat hari ini, dan negara yang akan menjadi korban esok hari,” kata Sukamta dikutip Bergelora.com di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Menurut Sukamta, serangan ke Venezuela membuktikan bhwa negara-negara kuat akan terus berbuat sepihak tanpa bersalah.

Serangan tersebut juga dinilai menjadi tanda pengkhiantan dari negara-negara barat yang selama ini mengusung nilai-nilai hak asasi manusia dan demokrasi.

“Jika kepala negara yang sah dapat ditangkap melalui operasi militer tanpa mandat internasional, maka kedaulatan negara telah mati secara de facto. Dunia kembali ke era might makes right, tetapi dengan legitimasi semu berbasis narasi keamanan dan demokrasi,” kata Sukamta.

“Ironisnya, negara yang paling vokal berbicara soal rule of law justru menjadi aktor utama yang mengosongkan makna hukum tersebut. Dari genosida Gaza hingga invasi ke Venezuela mendorong dunia ke fase post-normative world order,” imbuh dia.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pun memperkirakan negara-negara menengah akan berlomba memperkuat militer dan mencari pelindung geopolitik yang kuat berkaca dari serangan AS.

Sementara itu, kata Sukamta, bagi Indonesia dan negara-negara Global South, diam bukan sikap netral, di mana diam adalah pilihan politik yang mungkin menguntungkan status quo.

“Pertanyaannya kini sederhana namun berat, apakah kita menerima dunia tanpa hukum, atau ikut membangun ulang tatanan global yang adil?”ujar dia.

Diberitakan, pasukan AS menangkap Maduro dan istrinya pada Sabtu (3/1/2025) dini hari lalu. AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Prsiden AS Donald Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru