Selasa, 13 Januari 2026

KESERAKAHAN IMPERIALISME..! Trump Sebut Raksasa Minyak Bakal Investasi di Venezuela Rp 1.684 Triliun

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memanggil sejumlah perusahaan minyak besar AS ke Gedung Putih. Pertemuan itu dilakukan untuk membahas rencana investasi energi di Venezuela.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (10/1/2026) deretan bos-bos perusahaan minyak yang hadir di antaranya CEO Exxon Darren Woods, CEO ConocoPhillips Ryan Lance, dan Wakil Ketua Chevron Mark Nelson, hingga Eksekutif dari Halliburton, Valero dan Marathon

Trump mengatakan perusahaan minyak akan berinvestasi setidaknya US$ 100 miliar atau setara Rp 1.684 triliun (kurs Rp 16.842) untuk membangun kembali sektor energi di Venezuela. Sementara pemerintah AS akan memberikan keamanan dan perlindungan sehingga perusahaan AS dapat balik modal dan memperoleh keuntungan.

Untuk diketahui, Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, yaitu 303 miliar barel atau sekitar 17% dari total global, menurut Badan Informasi Energi AS. Namun sektor minyaknya berada dalam kondisi yang sangat buruk.

Menurut data dari perusahaan konsultan energi Kpler, produksi telah menurun dari puncaknya sekitar 3,5 juta barel per hari pada tahun 1990-an menjadi hanya sekitar 800.000 barel per hari saat ini. Rystad Energy memperkirakan akan membutuhkan biaya lebih dari US$ 180 miliar hingga tahun 2040 agar produksi Venezuela mencapai 3 juta barel per hari.

Venezuela akan Serahkan Minyak hingga 50 Juta Barel ke AS

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (11/1), Donald Trump menyatakan Venezuela akan memberikan 30 juta hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat. Minyak ini nantinya akan dijual dengan harga pasar, namun seluruh hasilnya akan dikendalikan oleh pemerintah AS.

Melansir CNN internasional, Kamis (8/1/2026), dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut otoritas sementara Venezuela sepakat menyerahkan 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang terkena sanksi. Hasil penjualan minyak tersebut akan digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.

Trump pun langsung menginstruksikan Menteri Energi Chris Wright untuk mengeksekusi rencana tersebut. Rencananya, puluhan juta barel minyak itu akan diangkut kapal-kapal tangki dan dibawa langsung ke dermaga pembongkaran di wilayah Amerika Serikat.

Seorang pejabat senior pemerintah menyebut minyak itu sebenarnya sudah siap diangkut. Sebagian besar sudah berada di atas kapal dan tinggal diarahkan menuju fasilitas penyulingan di kawasan Teluk AS.

Meskipun angka 50 juta barel terlihat jumbo, nyatanya AS menghabiskan sekitar 20 juta barel minyak per hari. Jumlah ini akan berdampak pada penurunan harga minyak mentah. Usai pengumuman Trump, harga minyak AS turun sekitar US$ 1 per barel atau hampir 2% menjadi US$ 56.

Namun, dampak tersebut diperkirakan tidak menyasar ke harga bensin di AS. Sebagai gambaran, pada 2022 lalu Joe Biden pernah merilis 180 juta barel minyak dari cadangan strategis. Namun, menurut data Departemen Keuangan AS, langkah itu hanya memangkas harga bensin sekitar 13-31 sen per galon saja dalam waktu empat bulan.

Penjualan jutaan barel minyak ini berpotensi meraup pendapatan yang besar. Dengan harga minyak Venezuela saat ini di kisaran US$55 per barel, total pendapatan yang bisa diraup AS mencapai US$1,65 miliar hingga $2,75 miliar atau setara Rp 27,55 triliun hingga Rp 45,92 triliun (kurs Rp 16.700).

Raksasa Minyak Global Rebutan Minyak Venezuela

Raksasa minyak dunia, seperti Chevron hingga perusahaan trading global Vitol dan Trafigura bersaing merebutkan kesepakatan dari pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengekspor minyak mentah dari Venezuela. Persaingan ini mencerminkan tingginya minat industri minyak global untuk mengakses stok dan produksi minyak mentah di Venezuela.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump menuntut akses penuh ke sektor minyak Venezuela, tak lama usai penangkapan Nicolas Maduro pada Sabtu pekan lalu. Kini, AS memegang kendali penuh atas penjualan dan pendapatan minyak dari Venezuela.

Dikutip dari Reuters, Jumat (9/1/2026) Pejabat AS menyebut Trump akan mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak negara itu untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Di sisi lain, Vitol, Trafigura, Chevron, dan perusahaan minyak besar lainnya akan bergabung dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat, membahas peran mereka dalam industri minyak Venezuela ke depannya.

Sebelumnya, perusahaan-perusahaan ini dilaporkan telah melakukan lobi intensif kepada pemerintah AS untuk mengamankan perjanjian ekspor minyak Venezuela yang diperkirakan sangat menguntungkan. Mereka memperebutkan kontrak awal hingga 50 juta barel minyak yang telah menumpuk di gudang penyimpanan milik perusahaan minyak negara, PDVSA. Penumpukan stok ini terjadi di tengah embargo minyak ketat yang juga melibatkan penyitaan empat kapal tanker.

Pihak PDVSA menyatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung pada pekan ini, meski tidak memberikan detail lebih lanjut. Mitra ventura bersama utamanya, Chevron, berada di posisi yang sangat kuat untuk menegosiasikan perluasan izin operasinya. Mengingat Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih bertahan di Venezuela.

Menurut sumber, Chevron kemungkinan memperdagangkan sebagian produksi PDVSA. Pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Chevron harus bersaing dengan perusahaan asing lainnya.

Di sisi lain, PDVSA berharap kesepakatan ini melibatkan mitra lama dan mantan pelanggan mereka. Tujuannya jelas agar Venezuela bisa melunasi utang, meningkatkan produksi yang sempat jeblok, dan mendapat harga yang adil di pasar dunia.

Departemen Energi AS sudah mulai bergerak. Mereka tengah menjalin komunikasi dengan para pemasar komoditas dan pihak perbankan untuk menyiapkan dukungan finansial bagi penjualan minyak mentah dan bahan bakar Venezuela. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru