Selasa, 13 Januari 2026

MANTAP NIH..! Rakyat Bersenjata Buru Warga AS, Trump Rencanakan Serangan Kedua ke Venezuela 

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan bahwa ia membatalkan gelombang serangan kedua terhadap Venezuela karena sifat kooperatif rezim di Caracas saat ini. Dalam tulisannya di Truth Social, Trump mengatakan pembebasan tahanan politik Venezuela adalah “isyarat yang sangat penting dan cerdas.”

“AS dan Venezuela bekerja sama dengan baik, terutama dalam hal membangun kembali, dalam bentuk yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih modern, infrastruktur minyak dan gas mereka,” kata Trump, sebagaimana dikutip Newsweek, Sabtu (10/1/2026).

“Karena kerja sama ini, saya telah membatalkan Gelombang Serangan kedua yang sebelumnya diharapkan, yang tampaknya tidak akan diperlukan, namun, semua kapal akan tetap berada di tempatnya untuk tujuan keselamatan dan keamanan.” ujar Trump dikutip Bergelora.com di Jakarta, Minggu (11/1).

Hal ini terjadi setelah setidaknya 24 petugas keamanan Venezuela tewas pekan lalu dalam serangan militer AS, yang diberi kode nama Operasi Absolute, untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilla Flores. Maduro dan Flores telah didakwa di AS atas tuduhan perdagangan narkoba federal, di mana mereka telah menyatakan tidak bersalah.

Adapun pernyataan Trump ini datang di tengah meningkatnya ketegangan antara AS, Venezuela, dan negara-negara lain di Amerika Tengah dan Selatan sejak operasi militer AS pekan lalu.

Sejak itu Trump mengancam akan melancarkan serangan darat terhadap kartel narkoba di Meksiko, dan mengatakan bahwa AS dapat melancarkan operasi militer di Kolombia.

Jorge Rodríguez, kepala Majelis Nasional Venezuela dan saudara dari Presiden Interim Delcy Rodríguez, mengatakan bahwa otoritas Venezuela telah membebaskan “sejumlah besar” warga negara asing dari penjara pada hari Kamis.

Trump mengatakan bahwa langkah itu adalah tanda bahwa Venezuela “mencari perdamaian.” AS telah berulang kali menyerukan pembebasan tahanan politik di Venezuela.

Trump juga mengatakan bahwa pemerintahannya akan menjalankan Venezuela untuk masa mendatang. Trump mengatakan kepada The New York Times pada Kamis bahwa “hanya waktu yang akan menentukan” berapa lama pemerintahannya akan mengendalikan negara tersebut. Dia menambahkan bahwa kapal-kapal AS akan tetap berada di sana untuk tujuan keselamatan dan keamanan.

“Setidaknya US$100 miliar akan diinvestasikan oleh perusahaan minyak besar, yang semuanya akan saya temui hari ini di Gedung Putih,” kata Trump.

Sementara itu, kemampuan Trump untuk melancarkan serangan lebih lanjut mungkin akan segera dibatasi setelah Senat memberikan suara 52-47 untuk memajukan Resolusi Kekuatan Perang, yang berarti AS tidak dapat dikirim ke konflik bersenjata tanpa persetujuan Kongres. Lima anggota Partai Republik memberikan suara bersama Demokrat pada hari Kamis, sehingga akan ada pemungutan suara selanjutnya untuk pengesahan akhir.

Mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mengatakan kepada Newsweek pada hari Rabu bahwa Trump sedang melegitimasi kembali rezim Maduro.

“Dia tidak memahami kepercayaan yang diberikan rakyat Venezuela kepada Machado, dan sekarang oposisi sedang didiskreditkan oleh Amerika Serikat sendiri. Jika hasilnya adalah sistem otoriter yang sama tanpa figur pemimpin, itu akan berakhir sangat buruk.”

Trump mengatakan dia akan bertemu dengan pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado minggu depan.

“Saya berharap dapat menyapanya,” katanya kepada Fox News.

Rakyat Bersenjata Buru Warga AS

Sementara itu dilaporkan situasi di Venezuela tidak menentu dan membahayakan nyawa warga Amerika Serikat yang berada di negara itu. Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keamanan yang meminta warga AS segera meninggalkan Venezuela karena alasan keamanan.

Kantor berita AFP, Minggu (11/1/2026), melaporkan, peringatan dikeluarkan karena ada laporan tentang kelompok bersenjata bernama Colectivos yang merazia kendaraan-kendaraan untuk mencari warga AS di pos-pos pemeriksaan. Kedutaan Besar AS di Kolombia juga mengeluarkan peringatan agar warga AS tidak bepergian ke Venezuela.

”Penerbangan internasional komersial sudah beroperasi lagi, warga negara AS di Venezuela harus segera meninggalkan negara tersebut. Ada laporan tentang kelompok bersenjata Colectivos yang memasang penghalang jalan dan memeriksa kendaraan untuk mencari warga AS atau yang mendukung AS,” sebut situs Kedutaan Besar AS di Venezuela, Sabtu (10/1/2026).

Venezuela memiliki tingkat peringatan perjalanan tertinggi, yakni Level 4: Jangan Bepergian karena risiko serius bagi warga AS. Risiko itu termasuk penahanan yang tidak sah, penyiksaan dalam tahanan, terorisme, penculikan, penegakan hukum lokal yang sewenang-wenang, kejahatan, kerusuhan sipil, dan infrastruktur kesehatan yang buruk.

Pada Maret 2019, Departemen Luar Negeri AS pernah menarik semua personel diplomatik dari Kedubes AS di Caracas dan menangguhkan operasionalnya. Semua layanan konsuler di Venezuela, baik rutin maupun darurat, juga ditangguhkan.

Venezuela dijadwalkan berbicara dengan perwakilan AS di Caracas tentang pemulihan hubungan diplomatik yang terputus sejak 2019. Pemerintahan Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez memulai proses diplomatik dengan AS untuk membuka kembali misi diplomatik di kedua negara.

Tahanan Politik

Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan kedua ke Venezuela karena Venezuela sudah membebaskan tahanan politik. Hingga Sabtu, ada 18 orang yang dibebaskan. Trump menganggap pembebasan tahanan sebagai isyarat perdamaian.

Pembebasan ratusan tahanan politik di Venezuela itu tuntutan lama dari kelompok hak asasi manusia (HAM), badan-badan internasional, dan tokoh-tokoh oposisi. Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Maria Corina Machado termasuk yang menuntut pembebasan tahanan. Penahanan aktivis selama ini dilakukan untuk menekan perbedaan pendapat.

Kelompok HAM lokal, Foro Penal, memperkirakan ada 811 tahanan politik, 80 orang di antaranya warga negara asing. Ada dua warga AS dan lima warga Spanyol, termasuk aktivis HAM Spanyol-Venezuela, Rocio San Miguel.

Ada pula mantan kandidat presiden oposisi Venezuela, Enrique Marquez. Tidak ada daftar resmi berapa tahanan yang akan dibebaskan dan siapa saja mereka.

Tokoh oposisi politik yang ditahan setelah pemilihan presiden 2024 dan masih dipenjara adalah mantan anggota parlemen Freddy Superlano; mantan Gubernur Juan Pablo Guanipa; pengacara Machado, Perkins Rocha; dan menantu calon presiden oposisi, Edmundo González.

”Ketika mendengar berita itu, saya menangis,” kata Dilsia Caro (50), yang menunggu pembebasan suaminya, Noel Flores. Flores dipenjara karena mengkritik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Di luar penjara berkumpul puluhan orang dari keluarga para tahanan. Mereka sudah menunggu 36 jam.

Saat Diógenes Angulo meninggalkan penjara di San Francisco de Yare setelah satu tahun lima bulan mendekam di balik jeruji besi, keluarganya tampak terkejut. Ia ditahan dua hari sebelum pemilihan presiden 2024 setelah mengunggah video demonstrasi oposisi di Barinas, negara bagian asal mendiang Presiden Hugo Chávez. ”Syukurlah, saya bisa kembali ke keluarga,” ujarnya.

Menyusul Venezuela, Nikaragua membebaskan puluhan tahanan politik sehari setelah AS menuntut pembebasan sekitar 60 tahanan. Pemerintahan Presiden Nikaragua Daniel Ortega mengumumkan pembebasan para tahanan tanpa mengonfirmasi jumlah pasti orang yang dibebaskan atau apakah mereka ditahan karena alasan politik.

Tidak jelas apakah mereka yang dibebaskan akan dibatasi pada tahanan rumah. Sebuah lembaga HAM yang melacak tahanan politik di Nikaragua mengidentifikasi 19 orang yang dibebaskan pada Sabtu. Pemimpin oposisi yang juta ketua gerakan politik UNAMOS dan mantan tahanan, Ana Margarita Vijil, mengatakan, mereka yang dibebaskan adalah tahanan politik.

Cabut Sanksi

Di Washington, AS menyatakan akan mencabut sanksi tambahan AS terhadap Venezuela paling cepat pekan depan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan, pencabutan sanksi ini untuk memfasilitasi penjualan minyak.

Namun, belum diketahui tepatnya sanksi yang akan dicabut. Bessent akan bertemu dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia untuk membahas keterlibatan kedua lembaga itu dengan Venezuela.

Sampai saat ini setidaknya terdapat 5 miliar dolar AS aset moneter Hak Penarikan Khusus IMF (SDR) Venezuela yang dibekukan. Uang itu bisa dipakai untuk membangun kembali perekonomian Venezuela.

Dalam foto arsip yang diambil pada 30 April 2009, tampak sebagian dari kilang minyak di kota Moron, Venezuela. Produksi minyak Venezuela turun pada Mei 2020 menjadi 570.000 barel per hari, menurut Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang merupakan penurunan ke level lebih dari tujuh dekade lalu.

Departemen Keuangan AS sedang mengkaji perubahan yang akan memfasilitasi pengembalian hasil penjualan minyak yang sebagian besar disimpan di kapal ke Venezuela. ”Kami mencabut sanksi terhadap minyak yang akan dijual,” kata Bessent.

Sanksi AS melarang bank internasional dan kreditor lainnya untuk terlibat dengan Pemerintah Venezuela tanpa izin. Lembaga-lembaga tersebut menyebut hal ini sebagai penghalang bagi restrukturisasi utang Venezuela senilai 150 miliar dolar AS yang kompleks. Padahal, ini menjadi kunci kembalinya modal swasta ke Venezuela.

Trump, Jumat, menandatangani perintah eksekutif yang memblokir pengadilan atau kreditor untuk menyita pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di rekening Departemen Keuangan AS. Ia mengatakan, uang ini harus dilindungi untuk membantu Venezuela menciptakan perdamaian, kemakmuran, dan stabilitas.

Saat ini Venezuela tidak dapat mengakses aset SDR. SDR terdiri dari dolar AS, euro, yen, pound sterling, dan yuan China. Pada 2025, Departemen Keuangan AS pernah mendukung jalur pertukaran senilai 20 miliar dolar AS untuk Argentina, sebagian dengan SDR Argentina, untuk menstabilkan peso dan membantu partai Presiden Argentina Javier Milei memenangi pemilihan parlemen.

Dana Moneter Internasional belum terlibat dengan Venezuela selama lebih dari 20 tahun. IMF terakhir kali menilai perekonomian Venezuela pada 2004. Venezuela melunasi pinjaman terakhirnya dari Bank Dunia pada 2007 ketika Chavez menyatakan Venezuela tidak perlu lagi meminta pendanaan ke AS. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru