Sabtu, 31 Januari 2026

GOTONG GOYONGLAH..! Amran Minta Petani Aceh Dilibatkan Perbaiki Sawah dan Dibayar

JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, meminta jajarannya melibatkan petani di Muara Baru, Aceh Utara dalam perbaikan sawah dan jaringan irigasi yang terdampak banjir bandang. Perintah itu Amran sampaikan saat meninjau proses perbaikan sawah di gampong Pinto Makmur, Muara Baru, Aceh Utara.

Mulanya, Amran mendapatkan penjelasan terkait luas lahan sawah yang direhabilitasi dari anak buahnya, Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP), Hermanto.

Di gampong Pinto Makmur, luas lahan yang sedang direhabilitasi mencapai 200 hektare.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto saat meninjau proses rehabilitasi sawah yang rusak akibat banjir bandang di Aceh Utara, Kamis (15/1/2026). (Ist)

Mendengar ini, Amran meminta agar perbaikan itu dikerjakan secara swakelola oleh para petani yang sawahnya terdampak.

“Jadi swakelola, jadi padat karya. Jadi ini enggak kemana mana enggak usah pakai kontraktor besar apalagi kecil-kecil gini,” kata Amran di lokasi, Kamis (15/1/2026).

Setelah diterjang banjir, saluran irigasi dan sawah tertimbun lumpur.

Sedimen di saluran air itu lalu dikeruk menggunakan eskavator. Namun, penggunaan alat berat belum cukup sehingga harus juga dikerjakan secara manual.

Di lokasi, puluhan petani memang terlibat dalam perbaikan jaringan irigasi dan lahan persawahan. Salah satunya adalah Muslim Abdullah (60). Ia mengatakan para petani di Pinto Makmur sudah mengerjakan perbaikan lahan dan irigasi selama sekitar 5 hari terakhir. Para petani dibayar Rp 120.000 per hari oleh pemerintah untuk membersihkan saluran irigasi, membuat gakangan sawah dan lainnya.

Foto udara kerusakan area persawahan warga pasca bencana Desa Pasir, Kecamatan Tripe Jaya, Gayo Lues, Aceh, Sabtu (20/12/2025). Berdasarkan data pos Komando tanggap darurat bencana Aceh menerangkan sebanyak 1.866 hektar lahan persawahan yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Gayo Lues rusak akibat tertimbun lumpur pasca bencana hidrometeorologi akhir November lalu. (Ist)

“Rp 120.000 satu hari,” ujar Muslim saat diitemui di sawah.

Menurut Muslim, pekerjaan dari pemerintah ini sangat membantu karena seluruh lahan pertaniannya yang sudah siap panen diterjang banjir bandang dan terkubur lumpur pada akhir November lalu.

Selain itu, beras dan bahan pangannya di rumah juga rusak terendam banjir. Uang hasil perbaikan sawah itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

“Memang kalau dapat uang (beli) beras saja. Kalau ikan-ikan (lauk) tidak kita pikirkan dulu lah,” ujar Muslim getir.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), total sawah rusak ringan-sedang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 69.240 hektare. Rinciannya, 32.652 di Aceh, 32.964 hektare di Sumatera Utara, dan 3.624 hektare di Sumatera Barat.

Kementan menargetkan, perbaikan sawah ringan-sedang tahap I pada Januari hingga Februari 2026 dengan luas lahan 13.708 hektare. Rinciannya, 6.530 hektare, Sumatera Uatara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare.

Sebelumnya, dalam Rapat Kerja di Komisi IV DPR RI, Amran melaporkan sebanyak 107,4 ribu hektar sawah rusak alibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera.

Rinciannya, sawah rusak ringan mencapai 56,1 ribu hektare, rusak sedang mencapai 22,2 ribu hektare, dan rusak berat 29,1 ribu hektare.

Dari seluruh luasan lahan terdampak, sebanyak 44,6 ribu hektare areal tanam padi dan jagung gagal panen. Kerusakan itu tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ia kemudian menjelaskan, luasan sawah yang perlu diperbaiki mencapai lebih dari 100.000 hektare.

“Total target lahan yang akan direhabilitasi mencapai lebih dari 100.000 hektare,” ujar Amran di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/1/2026). (Enrico N. Abdielli)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru