JAKARTA – Prancis mendorong kelompok negara- negara maju dalam G7 untuk membangun kerja sama yang lebih erat bersama BRICS , menghadapi peningkatan fragmentasi global.
Hal ini disampaikan Presiden Emmanuel Macron saat menghadiri Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos. Sejak bulan Januari, Prancis mengambil alih kepresidenan bergilir G7.
Berbicara tentang agenda kelompok negara maju tersebut, Macron mengatakan, Paris ingin mengembalikan kerja sama yang efektif di dalam G7 sekaligus mengembangkan hubungan dengan dunia yang lebih luas.
Salah satu tujuannya adalah “membangun jembatan dan kerja sama dengan negara-negara berkembang, BRICS, dan G20,” ujarnya.
Didirikan pada tahun 2006, BRICS adalah kumpulan negara-negara berkembang yang menyumbang lebih dari seperempat ekonomi global dan hampir setengah dari populasi dunia.

Saat ini anggota BRICS mencapai sepuluh negara yakni Brasil, China, Mesir, Etiopia, India, Indonesia, Iran, Rusia, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab.
“Fragmenisasi dunia tidak akan masuk akal,” kata Macron, sembari menambahkan bahwa sudah saatnya bagi kekuatan besar untuk menunjukkan bahwa mereka masih mampu menghasilkan penilaian bersama tentang ekonomi global dan “berkomitmen pada tindakan nyata.”
Pada awal bulan ini, Macron sempat menyampaikan sentimen serupa dalam pidato tahunan kepada duta besar Prancis menjelang kunjungannya ke India pada Februari, yang akan menjabat sebagai presidensi BRICS tahun ini.
“G7 seharusnya bukan klub anti-China atau klub anti-BRICS,” kata Macron saat itu.
Namun Ia juga melayangkan kritik kepada Beijing karena tidak membuka pasarnya setara dengan level Uni Eropa dan karena barang China membanjiri Eropa dibandingkan investasi atau teknologi.
Ia juga menyerukan kepada Uni Eropa untuk “memperkuat instrumen pertahanan perdagangan” dalam konteks “meningkatnya perdagangan dan kelebihan kapasitas di Asia.”
Macron Ingin G7 Bangun Jembatan dengan BRICS

Sebelumnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (23/1) dilaporkan, Prancis ingin G7 membangun kerja sama yang lebih erat dengan BRICS untuk melawan “fragmentasi” global yang semakin meningkat.
Presiden Emmanuel Macron mengungkap hal itu di Forum Ekonomi Dunia di Davos pada hari Selasa.
Pada bulan Januari, Prancis mengambil alih kepresidenan bergilir G7. Berbicara tentang agenda kelompok tersebut, Macron mengatakan Paris ingin memulihkan kerja sama yang efektif di dalam G7 sekaligus mengembangkan hubungan dengan dunia yang lebih luas.
‘’Salah satu tujuannya adalah membangun jembatan dan… kerja sama dengan negara-negara berkembang, BRICS, dan G20,” katanya.
Didirikan pada tahun 2006, BRICS adalah organisasi antar pemerintah yang terdiri dari negara-negara yang secara bersama-sama mencakup lebih dari seperempat ekonomi global dan hampir setengah dari populasi dunia.
Saat ini, BRICS memiliki sepuluh anggota: Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, india, Iran, Rusia, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab.
“Fragmentasi dunia ini tidak akan masuk akal,” ujar Macron, menambahkan bahwa sudah saatnya bagi “kekuatan-kekuatan besar” untuk menunjukkan bahwa mereka masih mampu menghasilkan penilaian bersama tentang ekonomi global dan “berkomitmen pada tindakan konkret.”
Awal bulan ini, Macron menyampaikan sentimen serupa dalam pidato tahunannya kepada para duta besar Prancis menjelang kunjungannya ke India pada bulan Februari, yang akan memegang jabatan presiden BRICS tahun ini.
“G7 seharusnya bukan klub anti-China atau klub anti-BRICS,” katanya saat itu.
Namun, pada hari Selasa, ia mengkritik Beijing karena tidak membuka pasarnya pada tingkat yang dilakukan Uni Eropa dan karena membanjiri Eropa dengan barang-barang alih-alih investasi atau teknologi.
Ia juga menyerukan Uni Eropa untuk “memperkuat instrumen pertahanan perdagangannya” dalam konteks “meningkatnya ketegangan perdagangan dan kelebihan kapasitas Asia.” (web Warouw)

