JAKARTA– Sejumlah warga perumahan Green Lavender Sukamekar, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, kesal terhadap developer (pengembang) yang dinilai belum memberikan solusi dari banjir yang terus berulang di kawasan tersebut.
Warga bernama Jeki Juliadi (36), mengaku frustrasi lantaran banjir tak kunjung teratasi dan membuat warga kehilangan rasa aman di rumah sendiri.
“Kalau masih banjir terus, saya mau pindah. Dan kalau tidak ada kejelasan, ini jadikan lumbung air saja, biar jadi kampung mati sekalian,” ujar Jeki, Jumat (23/1/2026).
Jeki menuturkan, hingga kini belum ada langkah konkret dari pihak developer untuk menyelesaikan persoalan banjir yang berdampak pada ribuan orang di perumahan tersebut.
Menurut dia, warga selama ini hanya diminta bersabar, sementara janji perbaikan tak kunjung terealisasi.
“Selama ini tanggapan developer katanya sabar. Kalau tidak suka silakan pindah. Katanya mau bikin drainase, tapi sampai saat ini tidak ada,” kata dia.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Muhammad Jaelani (38). Ia menyebut banjir yang terjadi kali ini merupakan yang terparah dan menjadi banjir susulan kedua dalam waktu berdekatan.
“Kondisi di Perumahan Green Lavender Sukamekar ini sangat parah. Tanggal 19 kemarin sudah surut, ini banjir lagi dan tambah parah,” ujar Jaelani.
Warga mulai mempertimbangkan langkah lanjutan untuk menuntut solusi jangka panjang.
Bahkan, para ibu rumah tangga di perumahan tersebut berencana mendatangi pihak pengembang secara langsung.
“Ibu-ibu sudah mau bergerak ke developer. Kalau tidak ada antisipasi terus, kita bakal ada pergerakan atau cari solusi ke kementerian,” ujar dia.
Menanggapi keluhan warga, Rike, salah satu perwakilan developer Perumahan Green Lavender Sukamekar, menyatakan pihak pengembang telah berupaya berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam menangani banjir.
“Developer itu sebenarnya bukan tidak bertanggung jawab. Kita sudah benar-benar support sama konsumen. Semua fasilitas kita siapkan, baik utilitas maupun sarana prasarana, sesuai perizinan dari pemerintah daerah,” kata Rike.
Ia menegaskan, pihak pengembang tidak mungkin membangun perumahan tanpa izin resmi dari pemerintah setempat.
“Kalau tidak ada perizinan, kita tidak mungkin jalan,” ujar dia.
Developer akan terus mendorong penyelesaian persoalan banjir hingga ke tingkat yang lebih tinggi.“
“Ini kemarin saya titik terakhir langsung saya kirim ke Paket 6, Paket 7. Kalau tidak masuk ke pusat, saya langsung ke pusat, ke pemprov,” katanya.
Ia juga menyebut banjir tidak hanya melanda Perumahan Green Lavender, melainkan juga kawasan lain di sekitarnya.
“Kami capek dikomplain sama konsumen gara-garanya pemerintah. Sebenarnya bukan kita saja, developer di sini ada banyak, cuma mereka enggak berani speak up saja,” ujar dia.
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (23/1) dilaporkan, secara geografis, kawasan perumahan berada di antara dua aliran sungai, yakni Kali Unit dan Kali CBL, yang memperparah risiko banjir.
“Kita diapit dua kali. Kali Unit sama Kali CBL. Kali CBL sekarang posisinya rata dengan sawah. Kita juga sudah bikin tanggul 7 meter. Tapi tanggul itu jebol gara-gara CBL meluap dan masuk ke Kali Unit,” katanya.
Terdapat empat titik tanggul yang jebol akibat luapan air dari Kali CBL.
“Posisi turap Kali CBL itu melandai, sejajar dengan sawah. Jadi air luber ke Kali Unit. Kali Unit sudah kita bantu tanggul dari developer. Tapi kemarin empat titik jebol, jadi air masuk ke perumahan,” ujar Rike.
Hingga Jumat sore, banjir masih menggenangi Perumahan Green Lavender Sukamekar. Warga berharap adanya kejelasan dan penanganan serius agar banjir tidak terus berulang dan membuat kawasan tersebut ditinggalkan penghuninya. (Calvin G. Eben-Haezer)

