JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali menyoroti pengeluaran besar masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri. Menurutnya, Indonesia bisa menghemat devisa US$ 6 miliar atau Rp 101 triliun (Rp 16.890) bila ongkos berobat ke luar negeri warga Indonesia bisa dikurangi.
Penghematan itu bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas layanan kesehatan nasional, salah satunya dengan rencana pembangunan rumah sakit pendidikan berstandar internasional di setiap kampus. Rencana pembangunan rumah sakit pendidikan di setiap kampus ini dipaparkan Prabowo dalam forum UK-Indonesia Education Roundtable yang digelar di Lancaster House, London, Inggris, Selasa (20/1).
“Menurut pendapat saya, jika kita melakukan itu (membangun rumah sakit pendidikan berstandar internasional di setiap kampus) mungkin kita bisa menghemat US$ 6 miliar setiap tahun, yang uangnya dapat disalurkan ke universitas dan rumah sakit ini,” ujar Prabowo dalam paparannya di forum itu, dikutip Bergelora.com, Sabtu (24/1/2026). dari keterangan resmi BPMI Sekretariat Presiden.
Prabowo berencana membangun 10 universitas baru yang berfokus pada pendidikan kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, serta bidang sains dan teknologi. Prabowo menegaskan bahwa universitas-universitas tersebut akan dibangun dengan standar internasional dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
“Saya ingin menggunakan standar Inggris, yaitu standar pendidikan tertinggi dari universitas-universitas terbaik di Inggris,” kata Prabowo..
Presiden Prabowo pun menegaskan keterbukaan Indonesia terhadap dosen dan profesor asing, termasuk skema profesor tamu dari universitas mitra. Presiden meyakini bahwa kerja sama ini akan memberikan manfaat timbal balik bagi pengembangan pendidikan dan kesehatan di Indonesia.
Presiden Prabowo juga optimistis bahwa seluruh persiapan dapat diselesaikan sehingga universitas-universitas baru tersebut akan mulai menerima mahasiswa pada tahun 2028 mendatang.
“Dan pada awal tahun 2028, kita bisa memiliki kelompok pertama di Indonesia. Jadi rencananya adalah untuk membangun sebuah kawasan yang terdiri dari universitas-universitas ini, dan kita harus menjamin kualitas hidup, keselamatan, dan keamanan seluruh kampus agar menarik bagi dosen asing untuk bekerja di Indonesia,” pungkas Presiden.
Kekurangan 140 Ribu Dokter
Dia juga menyatakan, Indonesia saat ini kekurangan tenaga medis yang signifikan, termasuk dokter dan dokter gigi. Prabowo mencatat secara nasional masih ada kekurangan 140 ribu dokter, sementara jumlah lulusan setiap tahunnya masih sangat terbatas.
Menurut Prabowo, jumlah lulusan kedokteran di Indonesia sangat terbatas meski ada kekurangan hingga 140 ribu dokter. “Kami hanya menghasilkan sekitar 9.000 dokter setiap tahun,” kata Prabowo dalam Forum itu.
Dengan kondisi itu, kata Prabowo, masyarakat Indonesia butuh waktu lama sebelum kebutuhan dokter mereka terpenuhi. Padahal, dia berujar, dokter-dokter juga akan ada yang pensiun, sementara Indonesia mengejar kekurangan 140 ribu dokter tersebut. “Jadi ini adalah sesuatu yang harus kami lakukan dengan rencana strategis,” ujar Presiden Prabowo.
Karena itu, Prabowo mengajak perguruan tinggi Inggris membuka kampus-kampus di Indonesia. Khususnya, kata dia, di bidang pendidikan kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, serta bidang sains dan teknologi. (Enrico N. Abdielli)

