JAKARTA – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meminta pemerintah daerah mengusut persoalan alih fungsi lahan yang diduga menjadi pemicu longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
“Saya titip wakil gubernur dan bupati terkait alih fungsi lahan mohon segera ditindak,” ujar Gibran saat meninjau lokasi bencana di Bandung Barat, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Wapres memberikan arahan kepada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta seluruh unsur terkait agar turun langsung ke lapangan dan melakukan pendampingan intensif kepada masyarakat terdampak.
“Saya mohon maaf, tim sudah terjun ke lapangan. Kita doakan tim yang di lapangan dapat bekerja dengan baik,” katanya kepada warga.
Ia menegaskan, pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, air bersih, serta layanan kesehatan harus dilakukan secara optimal, bersamaan dengan langkah antisipatif untuk mencegah terulangnya bencana serupa.
Terkait rencana relokasi, Gibran meminta agar proses sosialisasi dilakukan dengan baik serta lokasi hunian sementara tidak terlalu jauh dari tempat asal maupun sumber mata pencaharian warga.
“Untuk lansia dan ibu menyusui agar diberikan atensi khusus, yang sakit juga harus diperhatikan, dan bantuan dipastikan tepat sasaran,” ujarnya.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor penyebab longsor yang menerjang Desa Pasirlangu.
“Sudah bisa dilihat sekeliling ini kebun. Kebunnya pakai plastik, tanamnya pakai plastik, dan di atasnya kebunnya sudah naik ke puncak. Kita sudah bisa melihat faktornya apa,” kata Dedi.
Ia mengatakan, pemerintah provinsi berencana merelokasi seluruh hunian di kawasan terdampak dan area tersebut selanjutnya akan dikembalikan ke fungsi awal sebagai kawasan hutan.
“Warga di sekitar ini segera direlokasi dan ini dihutankan karena potensi terjadi lagi sangat tinggi dan di sekitar sini sudah mencemaskan kalau menurut saya,” katanya.
25 Jenazah Dievakuasi, 17 Teridentifikasi
Dilaporkan, sebanyak 25 jenazah berhasil dievakuasi dari timbunan lumpur sisa longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dari jumlah tersebut, 17 jenazah telah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga, sedangkan delapan jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan, proses identifikasi masih terus berlangsung seiring upaya pencarian korban di lokasi bencana.
“Dari 25 body bag, infomasi pagi ini, 17 sudah teridentifikasi dan sudah dikembalikan ke keluarga masing-masing, dan 8 body bag masih proses identifikasi,” kata Herman di Kantor Desa Pasirlangu, Senin (26/1/2026).
Untuk mempercepat pencarian korban yang diduga masih tertimbun material longsor, tiga alat berat telah diterjunkan ke lokasi kejadian. Alat berat tersebut berasal dari sejumlah instansi pemerintah.
“Tiga ekskavator, dari BPBD provinsi, dari Bina Marga Provinsi, dan BBWS, kalau kurang kami tambah lagi, nanti Basarnas yang menentukan kebutuhan lapangan,” ungkapnya.
Herman menambahkan, koordinasi lintas instansi terus diperkuat agar penanganan bencana dan pencarian korban dapat berjalan lebih efektif dan terorganisasi.
“Barusan kami melakukan sinkronisasi dari BNPB dari provinsi dan kabupaten agar manajemen penanganan bencananya bisa efektif, efesien, semua bidang bisa bekerja optimal,” tuturnya.
Bencana longsor terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari dan mengubur sedikitnya 30 rumah warga di Kampung Pasir Kuning. Hingga kini, lebih dari 100 warga dilaporkan hilang dan diduga tertimbun material longsor.
Korban Alami Trauma Psikis Berat
Sebelumnya dilaporkan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengungkapkan, sejumlah korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mengalami trauma psikis berat akibat bencana yang terjadi secara mendadak.
Arifah menyampaikan, indikasi trauma terlihat jelas dari kondisi psikologis warga, khususnya para ibu, saat berada di posko pengungsian Desa Pasirlangu.
“Tadi kami berdiskusi dan berbincang dengan ibu-ibu di posko. Dari cara berbicaranya terlihat mereka mengalami trauma berat,” ungkap Arifah, Minggu (25/1/2026).
Menurut Arifah, kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan lanjut usia membutuhkan pendampingan psikososial yang serius dan berkelanjutan.
Karena itu, Kementerian PPPA akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan layanan trauma healing dapat dilakukan secara terpadu.
“Khususnya untuk perempuan yang menyusui maupun perempuan yang sedang mengandung, rasa aman di pengungsian harus benar-benar dipastikan,” kata Arifah.
Arifah menjelaskan, trauma healing situasional akan diterapkan sebagai bentuk pemulihan psikologis yang disesuaikan dengan kondisi korban bencana. Pendekatan ini melibatkan tenaga profesional serta dukungan komunitas guna memulihkan ketahanan mental korban.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak psikologis pascabencana serta membantu korban kembali menjalani aktivitas secara normal.
Menerjang 30 rumah
Sementara itu, berdasarkan laporan Posko Bencana Desa Pasirlangu, longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari menerjang sekitar 30 rumah di Kampung Pasirkuning RT 05 RW 11 dan Kampung Pasirkuda RT 01 RW 10. Bencana tersebut berdampak pada 34 kepala keluarga dengan total 113 jiwa. (Enrico N. Abdielli)

