JAKARTA – Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney mengguncang Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 dengan pidato keras yang menyoroti percepatan kemunduran hegemoni dolar AS. Ia memperingatkan bahwa pengaruh blok BRICS yang menawarkan alternatif sistem keuangan global kian menguat, menandai pergeseran kekuatan ekonomi yang nyata.
Analisis Carney menyebut dunia tengah berada dalam fase “keretakan, bukan transisi”.
Serangkaian krisis global dua dekade terakhir, menurutnya, telah memicu redistribusi kekuatan ekonomi yang fundamental. Pernyataan ini memperkuat sinyal dari perkembangan konkret yang digalang BRICS.
“Kita berada di tengah sebuah keretakan, bukan transisi. Kekuatan-kekuatan besar kini menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata, bukan sebagai sarana manfaat bersama,” tegas Carney dalam pidatonya di Davos, dikutip Bergelora.com di Jakarta dari Watcher Guru, Selasa (27/1/2026).
Peringatan tersebut beresonansi dengan langkah strategis BRICS yang kini dipimpin India. Bank Sentral India (RBI) secara resmi mengusulkan pembuatan jaringan mata uang digital bank sentral (CBDC) bersama untuk negara-negara anggota. Usulan yang dinilai transformatif ini rencananya akan dibahas dalam KTT BRICS 2026.
Wakil Gubernur RBI T Rabi Sankar menjelaskan keunggulan potensial inisiatif ini.
“CBDC tidak menimbulkan banyak risiko yang melekat pada stablecoin. Selain potensi fasilitasi pembayaran ilegal, stablecoin menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap stabilitas moneter dan ketahanan sistemik,” ujarnya.
Blok BRICS yang telah diperluas menjadi 10 negara mencakup 37% PDB global dan 46% populasi dunia telah meluncurkan BRICS Pay. Sistem pembayaran alternatif yang sedang dalam uji coba lanjutan ini diproyeksikan menjadi penantang serius bagi jaringan SWIFT yang selama ini didominasi Barat.
Meski mendapatkan ancaman tarif 100% dari Presiden AS Donald Trump, BRICS menyangkal ingin menggantikan dolar.
Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan, “Dolar sebagai mata uang cadangan merupakan sumber stabilitas ekonomi global. Yang dibutuhkan dunia adalah lebih banyak stabilitas, bukan sebaliknya.”
Carney mendesak negara-negara kekuatan menengah untuk mencari “jalur ketiga” yang mandiri, menolak ketergantungan pada hegemoni mana pun.
Di bawah kepemimpinannya, Kanada telah menandatangani 12 kesepakatan strategis di empat benua dalam enam bulan, termasuk kemitraan dengan China dan Uni Eropa.
Strategi diversifikasi BRICS didukung oleh aksi nyata, termasuk peningkatan cadangan emas yang mendorong harga logam mulia melampaui USD4.600 per ons awal 2026. Langkah ini merefleksikan kekhawatiran terhadap “persenjataan” dolar AS dalam geopolitik.
Carney menutup pidatonya dengan pesan visioner sekaligus peringatan:
“Tatanan lama tidak akan kembali. Nostalgia bukanlah strategi. Dari keretakan ini, kita dapat membangun sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih adil.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa upaya dedolarisasi BRICS telah bergeser dari wacana menjadi realitas yang harus dihadapi dalam arsitektur keuangan global baru.
BRICS Galang Kekuatan Serukan Reformasi IMF-Bank Dunia

Sebelumnya dilaporkan, para pemimpin negara anggota BRICS menandatangani deklarasi bersama pada 21 Januari 2026 menegaskan dukungan terhadap sistem perdagangan multilateral yang terbuka, adil, dan inklusif sebagaimana diamanatkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di tengah menguatnya arus proteksionisme global.
Deklarasi tersebut diteken tak lama setelah India resmi mengambil alih presidensi BRICS secara bergilir pada 1 Januari 2026. Ini menjadi kali keempat New Delhi memimpin kelompok negara berkembang tersebut sejak dibentuk.
Dalam masa kepemimpinannya, India mengusung tema “Membangun Ketangguhan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan” dengan pendekatan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat dan menjunjung prinsip kemanusiaan di atas segalanya.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai kerja sama internal BRICS terus menunjukkan penguatan yang signifikan. Ia memuji kepemimpinan Brasil sebagai ketua BRICS pada 2025 yang dinilainya berhasil memperkokoh fondasi kerja sama antarnegeri anggota.
“Semua negara BRICS adalah mitra baik kami. Selama setahun terakhir, hubungan kami dengan masing-masing negara semakin menguat, dan fondasi untuk pengembangan kerja sama lebih lanjut di semua bidang juga semakin diperkuat,” ujar Lavrov dalam konferensi pers tahunan dikutip Bergelora.com, Sabtu (24/1/2026).
Lavrov menambahkan Rusia mendukung penuh inisiatif Brasil yang mengusulkan berbagai proyek baru sekaligus melanjutkan agenda kerja sama yang telah disepakati sejak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Kazan pada musim gugur 2024.
Sementara, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan pentingnya mendorong multilateralisme yang direformasi agar lebih mencerminkan realitas global saat ini. Menurut dia lembaga-lembaga internasional seperti PBB, WTO, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia (World Bank) harus menjadi lebih representatif dan inklusif.
Deklarasi BRICS tersebut muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik, termasuk dengan Amerika Serikat, setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mengancam pengenaan tarif hingga 100% terhadap negara-negara BRICS. Di sisi lain,
Bank Sentral India juga mengusulkan pengaitan mata uang digital resmi negara-negara BRICS guna mempermudah transaksi lintas negara dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Saat ini, BRICS yang beranggotakan 10 negara mewakili sekitar 39 persen perekonomian global dan 24 persen perdagangan dunia. (Enrico N. Abdielli)

