Sabtu, 31 Januari 2026

PERANG DIMULAI NIH..! Ledakan di Bandar Abbas Teluk Iran, Trump Siapkan Invasi Darat

JAKARTA – Ledakan terjadi di sebuah gedung di Kota Bandar Abbas, Iran, di pesisir Teluk. Penyebab ledakan belum diketahui.

Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (31/1/2026), laporan tersebut disampaikan media televisi pemerintah Iran. Televisi pemerintah mengatakan ledakan terjadi di sebuah gedung berlantai delapan.

“Menghancurkan dua lantai, beberapa kendaraan, dan toko-toko di area Moallem Boulevard di kota tersebut,” katanya.

Pemadam kebakaran sudah dikerahkan ke lokasi. Tim penyelamat juga sudah berada di lokasi.

Trump Siapkan Invasi Darat

Sebelumnya kepada Begelora.com di Jakarta dilaporkan, Presiden AS Donald Trump diberi pengarahan tentang serangkaian tindakan militer potensial yang lebih luas dan lebih agresif terhadap Iran . Itu termasuk skenario yang bertujuan untuk merusak infrastruktur nuklir dan rudal negara itu dan melemahkan otoritas kepemimpinannya.

Selain itu, Trump juga mempertimbangkan untuk pengiriman tentara ke Iran setelah serangan udara dianggap sukses. Itu dilaporkan The New York Times, mengutip pejabat yang mengetahui diskusi internal.

Menurut laporan tersebut, serangkaian langkah yang sedang ditinjau saat ini melampaui opsi yang dipertimbangkan awal bulan ini, ketika pemerintahan terutama berfokus pada menekan Teheran untuk menghentikan kekerasan terhadap demonstran anti-pemerintah.

Para pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas perencanaan militer, mengatakan kepada surat kabar bahwa proposal yang diperbarui mencerminkan peningkatan signifikan dalam pertimbangan strategis.

Rangkaian opsi yang diperluas dikatakan mencakup serangan terbatas serta kemungkinan serangan terarah pada fasilitas-fasilitas penting, yang berpotensi menempatkan pasukan Amerika langsung di wilayah Iran.

Konteks seputar diskusi ini telah bergeser karena protes skala besar di beberapa bagian Iran telah ditekan oleh pihak berwenang dalam beberapa minggu terakhir, setidaknya untuk saat ini, menurut para pejabat yang dikutip oleh The New York Times. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menggarisbawahi kesiapan militer Washington dalam pernyataan publik, memperingatkan Iran agar tidak mengejar senjata nuklir dan menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat siap bertindak jika perlu.

Komentar-komentar tersebut muncul ketika Pentagon terus memindahkan aset angkatan laut dan udara tambahan ke Timur Tengah dalam apa yang digambarkan oleh para pejabat sebagai postur pencegahan di tengah ketegangan yang melimpah atas ambisi nuklir Teheran.

Tekanan meningkat setelah Amerika Serikat memindahkan armada angkatan laut ke wilayah tersebut, dengan Trump memperingatkan bahwa waktu “hampir habis” bagi Teheran, mendesak Iran untuk membuat kesepakatan tentang program nuklirnya, yang diyakini Barat bertujuan untuk membuat bom atom.

Presiden AS menurunkan suhu pada Kamis malam, mengatakan dia berharap untuk menghindari tindakan militer dan mengatakan pembicaraan sedang dipertimbangkan dengan Iran.

“Kami memiliki pasukan yang akan berangkat ke tempat bernama Iran, dan mudah-mudahan kami tidak perlu menggunakannya,” kata Trump, saat berbicara kepada media pada pemutaran perdana film dokumenter tentang istrinya, Melania.

Menurut para pejabat, Trump belum menyetujui operasi militer apa pun atau memilih dari proposal yang diajukan oleh Pentagon. Presiden Trump masih mempertimbangkan kemungkinan penyelesaian diplomatik, dan beberapa orang di dalam pemerintahan mengindikasikan bahwa diskusi publik tentang potensi penggunaan kekuatan sebagian dimaksudkan untuk menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan.

Dalam beberapa hari terakhir, ia juga mempertimbangkan apakah upaya perubahan rezim di Iran merupakan tindakan yang realistis, lapor The New York Times.

“Sebagai panglima tertinggi militer terkuat di dunia, Presiden Trump memiliki berbagai pilihan yang tersedia terkait Iran,” kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly dalam sebuah pernyataan.

“Dia telah menjelaskan bahwa dia berharap tidak diperlukan tindakan apa pun, tetapi kepemimpinan Iran harus mencapai kesepakatan sebelum waktu habis.”

Para pejabat mengatakan Trump mengadopsi strategi terhadap Iran yang mencerminkan kampanye tekanan yang sebelumnya ia lakukan terhadap Nicolas Maduro di Venezuela.

Iran Siapkan 1.000 Drone

Sementara itu, pasukan Iran mengaktifkan 1.000 drone strategis baru di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Juru bicara militer Iran, Mohammad Akrami Nia menegaskan, respons dan pembalasan negaranya terhadap serangan apa pun akan bersifat tegas dan segera.

Menurutnya, banyak pangkalan Amerika Serikat dalam jangkauan rudalnya.

“Banyak pangkalan Amerika berada dalam jangkauan rudal kami,” kata dia.

“Pengalaman yang kita peroleh dari perang dua belas hari menunjukkan bahwa keraguan dan memberi musuh kesempatan sama sekali tidak dapat diterima, dan kita harus segera merespons,” katanya dilansir Khaberni.

Pihaknya menyebut, pengalaman perang selama 12 hari melawan Israel tahun lalu memberikan pelajaran penting. Yakni, Iran tak bisa membiarkan musuhnya berlalu begitu saja seusai menyerang.

“Pengalaman yang kita peroleh dari perang dua belas hari menunjukkan bahwa keraguan dan memberi musuh kesempatan sama sekali tidak dapat diterima, dan kita harus segera merespons,” katanya dilansir Khaberni, Jumat (30/1/2026).

Ia kembali menegaskan, respons dan pembalasan Iran terhadap serangan yang datang akan dibalas. Pejuang Iran akan menyasar berbagai fasilitas dan entitas Amerika yang tersebar di kawasan.

Ia juga memperingatkan, Presiden Donald Trump akan keliru jika mengira Iran tidak akan melakukan pembalasan.

Sebelumnya, Komandan Angkatan Darat Iran Amir Hatami memerintahkan penguatan angkatan bersenjata dengan seribu drone strategis. Perintah ini dikeluarkan di tengah ketegangan yang belum pernah terjadi antara Teheran dan Amerika Serikat.

Dilaporkan, ribuan drone baru itu dirancang khusus untuk menghadapi ancaman modern. Di antaranya, melakukan penghancuran, penyerangan, dan peperangan elektronik.

Drone-drone baru ini juga memiliki desain modern untuk menyerang target tetap dan bergerak di berbagai medan. Seperti di laut, di udara, dan di darat.

Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Timteng: Jadi Target Iran

Pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat C-17 Globemaster saat diparkir di Pangkalan Udara Al Udeid, Doha, Qatar, 7 September 2021. (Ist)

Sebelumnya diberitakan, pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah berpotensi menjadi target serangan Iran, apabila Presiden AS Donald Trump memerintahkan operasi militer.

Trump sudah menegaskan, AS siap, bersedia, dan mampu menyerang Iran. Komentar itu memunculkan kekhawatiran akan pecahkan konflik militer terbuka di Timur Tengah.

Di sisi lain, Teheran memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan respons yang menghancurkan.

Iran bahkan menyebutkan, banyak pangkalan militer AS berada dalam jangkauan rudal jarak menengah Iran.

Jika konfrontasi bersenjata benar terjadi, sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah—yang berada di bawah Komando Pusat Militer AS (Centcom)— disebut sebagai target utama.

Berikut adalah pangkalan-pangkalan utama yang menjadi pusat konsentrasi militer AS di kawasan tersebut, seperti dirangkum oleh AFP, Jumat (30/1/2026):

1. Bahrain

Naval Support Activity Bahrain. (Ist)

Bahrain menjadi lokasi pangkalan strategis bernama Naval Support Activity Bahrain. Pangkalan ini merupakan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS sekaligus markas Komando Angkatan Laut AS untuk Timur Tengah. Dengan pelabuhan laut dalam yang mampu menampung kapal militer terbesar AS, termasuk kapal induk,

Bahrain memainkan peran penting dalam strategi militer Washington di Teluk.

Beberapa kapal perang, seperti kapal pemburu ranjau dan kapal dukungan logistik, bermarkas tetap di wilayah ini. Angkatan Laut AS telah menggunakan pangkalan ini sejak 1948, ketika masih dioperasikan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris.

2. Irak 

Helikopter Angkatan Udara Irak terbang saat perayaan Hari Angkatan Bersenjata, bersamaan dengan bendera Irak yang berkibar di Bagdad, 6 Januari 2025. (Ist)

Pasukan AS masih berada di wilayah otonom Kurdi, Irak, sebagai bagian dari koalisi internasional untuk melawan kelompok ISIS. Namun, misi tersebut dijadwalkan berakhir pada September mendatang, sesuai kesepakatan antara Baghdad dan Washington.

AS telah menyelesaikan penarikan dari sejumlah fasilitas militer di wilayah federal Irak, yang meski menjadi sekutu Iran, juga merupakan mitra strategis AS. Sejak meletusnya konflik di Gaza pada Oktober 2023, pasukan AS di Irak dan Suriah kerap diserang oleh kelompok militan pro-Iran.

Washington menanggapi serangan-serangan tersebut dengan meluncurkan operasi militer terhadap target yang diduga terafiliasi dengan Teheran. Meski begitu, ketegangan kemudian mereda dalam beberapa bulan terakhir.

3. Kuwait

Camp Arifjan, Kuwait. (Ist)

Kuwait menjadi lokasi bagi beberapa fasilitas militer AS, termasuk Camp Arifjan, yang berfungsi sebagai markas utama Angkatan Darat AS di bawah Centcom.

Selain itu, peralatan dan logistik militer AS juga disimpan di negara ini.

Pangkalan Udara Ali Al Salem menampung Sayap Ekspedisi Udara ke-386. Fasilitas ini berperan sebagai pusat pengangkutan udara serta gerbang utama untuk mengirim pasukan dan peralatan ke wilayah konflik.

AS juga mengoperasikan drone bersenjata MQ-9 Reaper dari wilayah Kuwait.

4. Qatar

Pangkalan udara militer Amerika Serikat di Al Udeid, selatan Doha, Qatar, saat difoto pada 23 Oktober 2002. Al Udeid menjadi target serangan Iran pada Senin (23/6/2025) untuk membalas gempuran udara AS terhadap tiga situs nuklir utama.(Ist)

Qatar menjadi lokasi Pangkalan Udara Al Udeid, markas utama Centcom dan pusat komando pasukan udara serta operasi khusus AS di kawasan. Di pangkalan ini, ditempatkan Sayap Ekspedisi Udara ke-379 yang mencakup berbagai aset penting seperti pesawat angkut militer, pengisian bahan bakar udara, intelijen, pengawasan, dan evakuasi medis.

Juni lalu, Iran sempat menembakkan rudal ke wilayah Al Udeid sebagai balasan atas serangan AS yang menyasar fasilitas nuklir Teheran.

5. Suriah

Pangkalan miloter AS di Suriah. (Ist)

AS mempertahankan kehadiran militernya di Suriah dalam rangka memerangi sisa-sisa kelompok ISIS, yang sebelumnya menguasai wilayah luas di Suriah dan Irak. Namun, risiko tetap tinggi.

Pada Desember 2025, dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil tewas dalam serangan yang diklaim dilakukan oleh kelompok ISIS.

6. Uni Emirat Arab

Al Dhafra US Air Base, Uni Emirat Arab. (Ist)

Di Uni Emirat Arab, Pangkalan Udara Al Dhafra menjadi markas bagi Sayap Ekspedisi Udara ke-380, yang terdiri dari 10 skuadron pesawat militer dan drone MQ-9 Reaper. Selain menjadi tempat penempatan rotasi pesawat tempur AS, Al Dhafra juga berfungsi sebagai pusat pelatihan operasi udara tingkat lanjut.

 

 

 

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru