Kamis, 5 Februari 2026

JANGAN ADA LAGI..! Wamen HAM: Kasus Bunuh Diri Anak SD di Ngada Jadi Wake Up Call Bagi Bangsa dan Negara

JAKARTA- Wakil Menteri Hak Azasi Manusia (HAM) Mugianto Sipin menegaskan bahwa.kasus.kematian bunuh diri seoramg siswa Kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah wake up call bagi bangsa, negara dan seluruh masyarakat Indonesia.

“Ini “wake up call” bagi pemerintah yang seharusnya hadir di rumah-rumah setiap warga negara. Hadir untuk memastikan hak atas hidup yang layak terpenuhi. Anak kita YBS (10) memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena hak-haknya tidak dipenuhi oleh negara,” ujarnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (5/2).

Ia mengatakan, seperti yang disampaikan media, keluarga YBS adalah salah satu contoh keluarga dalam kemiskinan ekstrim. Keluarga yang terdiri dari single mother dengan 5 anak.

“Ini adalah alasan mendasar mengapa Presiden Prabowo bekerja mati-matian, dengan mewakafkan hidupnya, menjalankan program untuk memutus rantai kemiskinan ekstrim dengan berbagai bantuan Sosial,  program MBG, Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, Koperasi Desa dan sebagainya,” jelasnya

Berkali-kali Presiden Prabowo menyerukan agar seluruh kementerian harus mengembalikan orientasi politik melayani rakyat, menjadi pelayanan rakyat.

“Tidak hanya memutuskan rantai kemiskinan, Presiden juga ingin warga miskin ini naik kelas, berdaya, sehingga semua warga negara bisa menjadi warga kelas satu. No one should be left behind,” ujarnya.

“Peristiwa ini tentu sangat memprihatinkan dan menusuk nurani kita semua sebagai sebuah bangsa, utamanya saya sebagai Wakil Menteri HAM.

“Seorang anak tidak seharusnya menghadapi beban hidup sedemikian berat sehingga mengambil keputusan fatal yang orang tua sekalipun tidak membayangkan untuk mengambilnya,” ujar Wakil Menteri HAM, Mugianto Sipin.

Ia mencontohkan kasus seperti Naila, seorang anak dari keluarga miskin di Makassar yang harus kita angkat, YBS juga demikian.

“Pemerintah sedang bekerja keras mengentaskan Naila-Naila dari belenggu kemiskinan, dan pada saat yang sama juga harus memastikan tidak boleh terjadi lagi peristiwa-peristiwa seperti yang dialami anak kita YBS,” tegasnya.

Mugianto menjelaskan, Kementerian HAM bekerja sama dengan semua Kementerian, Lembaga dan Pemda akan memastikan semua warga bisa sejahtera, tersenyum dan tertawa. “Masyarakat bisa gemuyu” kata Presiden.

Terkait peristiwa YBS, KemenHAM melalui Kanwil Kementerian HAM NTT telah turun lapangan, mengunjungi dan membersamai keluarga yang sedang berduka.

“Melalui Kanwil HAM kami akan turun bersama pemda agar mengetahui denyut nadi dan memahami persoalan-persoalan yang dihadapi warga,” ujarnya.

Ia menegaskan, tugas pemerintah saat ini adalah memastikan tidak ada lagi kasus seperti YBS, Naila dan lainnya.

“Hidup layak dengan rumah layak huni, anak-anak bisa sekolah, bila sakit bisa berobat, dan mendapatkan pekerjaan adalah hak azasi manusia. Kementerian HAM ditugaskan Presiden untuk memastikan hak-hak tersebut dipenuhi oleh negara, khususnya pemerintah,” ujarnya.

Prabowo: Jangan sampai Terulang Lagi

Sebelumnya, pihak Istana mengaku prihatin dengan kasus meninggalnya YBS (10), anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri.

“Kami tentunya mewakili pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam,” kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, di Kompleks Istana, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Prasetyo mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto juga menaruh perhatian atas kasus yang menimpa anak usia 10 tahun itu. Kepala Negara ingin ada antisipasi agar ke depannya kasus ini tidak terulang.

“Bapak Presiden menaruh atensi dan melalui kami, meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal yang semacam ini dapat kita antisipasi,” ucap dia.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf terkait kejadian ini. Koordinasi dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Jadi, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk melakukan penanganan-penanganan terhadap keluarga dan terutama memikirkan supaya kejadian ini tidak terulang kembali,” ungkap dia.

Terkait penyebab bunuh diri, Prasetyo menyerahkan kepada hasil investigasi aparat penegak hukum.

“Kalau berkenaan dengan masalah penyebab terjadinya tragedi tersebut, kami menyebutnya seperti itu, biarlah kita tunggu dari pihak berwajib, pihak kepolisian, untuk melakukan pendalaman,” tutur dia.

Diketahui, seorang anak berusia 10 tahun dengan inisial YBS tewas dan diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri pada Kamis (29/1/2026) siang.

Sebelum kejadian, siswa yang baru duduk di bangku kelas IV tersebut sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen, sebagaimana dilaporkan, pada Senin (2/2/2026). Namun, permintaan itu tak bisa dikabulkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Kasus ini menyedot perhatian publik secara meluas, bahkan ada anggota DPR yang mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengusut tuntas. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru