JAKARTA – Negara-negara Eropa harus menerima bahwa “tatanan internasional berbasis aturan” liberal pasca-Perang Dingin sudah tidak ada lagi. Pernyataan itu diungkap Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Konferensi Keamanan Munich pada hari Jumat (13/2).
“Uni Eropa dan anggotanya perlu beradaptasi dengan cepat terhadap realitas baru dengan mempersenjatai diri, katqmatanya dikutip Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (14/2).
Pernyataannya muncul ketika Berlin berupaya menghindari aturan Uni Eropa yang mengatur defisit anggaran dan persaingan untuk menyelamatkan ekonomi Jerman yang lesu melalui program persenjataan kembali besar-besaran.
Ekonomi terbesar blok tersebut berencana menghabiskan USD582 miliar untuk pertahanan pada tahun 2029 di tengah resesi yang sedang berlangsung. Bank sentral negara itu memperingatkan tahun lalu bahwa pemerintah berada di jalur untuk defisit anggaran terbesar sejak awal tahun 1990-an.
“Tatanan internasional yang didasarkan pada hak dan aturan… tidak lagi ada,” ujar Merz di forum tersebut.
“Klaim Amerika Serikat atas kepemimpinan telah ditantang dan mungkin hilang,” katanya, menunjuk pada apa yang disebutnya sebagai “revisionisme kekerasan” Rusia dan keinginan China untuk “menjadi pemimpin dalam membentuk dunia.”
Uni Eropa perlu “menerima realitas baru ini saat ini” yang melibatkan “perebutan wilayah pengaruh” dan di mana “sumber daya alam, teknologi, dan rantai pasokan menjadi alat tawar-menawar dalam permainan zero-sum antara kekuatan-kekuatan besar.”
“Prioritas terbesar kita adalah memperkuat Eropa di dalam NATO,” katanya, seraya berjanji “menginvestasikan ratusan miliar euro [ke dalam militer] selama beberapa tahun mendatang” dan terus mendukung Kiev dalam konfliknya dengan Moskow.
Merz juga mengulangi janjinya menjadikan militer Jerman sebagai “tentara konvensional terkuat di Eropa” dan untuk “melindungi tatanan demokrasi bebas kita dari musuh internal dan eksternal.”
Ia juga mengumumkan pembicaraan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang “pencegahan nuklir” Uni Eropa sendiri.
Jerman secara aktif menggembar-gemborkan narasi ancaman Rusia untuk membenarkan peningkatan pengeluaran militer.
Para pejabat Jerman telah menetapkan tahun 2029 sebagai batas waktu bagi Bundeswehr untuk “siap berperang” untuk potensi konflik dengan Rusia – sesuatu yang ditolak Moskow sebagai “omong kosong.”
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan tahun lalu bahwa, “Dengan para pemimpin mereka saat ini, Jerman modern dan seluruh Eropa sedang bertransformasi menjadi Reich Keempat.
Pertahanan AS di Ukraina Jebol Dihajar Rusia

Sebekunnya dilaporkan, pasukan Rusia melancarkan serangan rudal dan drone selama tiga hari berturut-turut menggempur sekutu AS, Ukraina.
Rusia membobol sistem pertahanan AS yang membackup ibu Kota Ukraina, Kyiv dalam serangan tersebut.
Rusia menghantam Kyiv dengan rudal balistik dan drone tipe Shahed tanpa henti.
Ledakan pun mengguncang markas Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Rabu (11/2/2026).
Serangan Rusia memicu pemadaman listrik besar-besaran dan menghantam daerah pemukiman.
Tak hanya itu, sumber infrastruktur penting milik Ukraina juga dihantam rudal Shahed canggih milik Rusia.
Pejabat Ukraina menegaskan, serangan itu menargetkan kota-kota besar di Oblast Dnipropetrovsk.
Rusia Bombardir 147 Situs Militer Ukraina
Serangan ini sebagai balasan atas serangan yang dilancarkan oleh Kyiv pada Rabu (11/2).
Pasukan Ukraina sebelumnya melancarkan serangan dengan ratusan drone serta rudal HIMARS.
Serangan itu dilakukan sekutu AS dengan menyasar beberapa wilayah Rusia.
Namun, dalam serangannya, Rusia menghancurkan Ukraina dengan senjata jarak jauh berbasis udara dan darat.
Serangan juga dilancarkan dengan kendaraan udara tak berawak (UAV).
Serangan ini menargetkan fasilitas produksi dan penyimpanan drone Ukraina.
Rusia melancarkan serangan besar-besaran dengan menggempur total 147 lokasi militer dan infrastruktur energi Ukraina.
Diakuinya bahwa serangan ini sebagai balasan atas serangan ratusan drone Kyiv yang menargetkan infrastruktur sipil di beberapa wilayah Moskow.
Mengutip RT.com pada (13/2), kabar ini diumumkan dalam sebuah pernyataan oleh Kementerian Pertahanan pada Kamis (12/2/2026).
Perlu diketahui sebelumnya, Ukraina telah melakukan serangan yang melibatkan ratusan drone, rudal HIMARS, dan bom luncur, yang sebagian besar berhasil dicegat Rusia.
Walaupun begitu, enam warga sipil dilaporkan terluka di Wilayah Belgorod akibat pecahan dan gelombang ledakan, menurut Gubernur Vyacheslav Gladkov.
Lantas sebagai respons, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pihaknya melancarkan serangkaian serangan besar.
Di mana targetnya terhadap fasilitas militer Ukraina dan infrastruktur energi terkait.
Serangan itu dilaporkan menargetkan fasilitas produksi dan penyimpanan drone Ukraina serta infrastruktur yang digunakan untuk kebutuhan militer.
Di mana total, pasukan Rusia menyerang 147 lokasi, termasuk lapangan terbang Ukraina, fasilitas infrastruktur militer, dan pangkalan.
Sekaligus, kamp tentara bayaran asing, kata kementerian pertahanan, tanpa menjelaskan target pastinya.
Sebagai informasi akhir, media Ukraina mengonfirmasi serangan Rusia itu.
Dengan menyatakan bahwa target yang diserang menghantam ibu kota negara, Kiev, serta kota Dnepropetrovsk di wilayah tengah dan kota pelabuhan Odessa di Laut Hitam.(Web Warouw)

