JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk mengambil alih minyak Iran di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu (29/3/2026), sebagaimana juga dilaporkan sejumlah media internasional.
“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil alih minyak di Iran,” ujar Trump.
Ia bahkan menyebut kritik terhadap gagasan tersebut sebagai “bodoh”. Trump juga membandingkan rencana itu dengan pendekatan Amerika Serikat di Venezuela, ketika Washington berupaya mengendalikan sektor minyak setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap.
Rencana operasi ke Pulau Kharg
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (30/3) dilaporkan, berbeda dengan Venezuela, langkah terhadap Iran disebut berpotensi dilakukan melalui operasi militer langsung. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah merebut Pulau Kharg, yang menjadi pusat ekspor sekitar 90 persen minyak Iran sekaligus lokasi strategis di dekat Selat Hormuz.
Reuters melaporkan bahwa pemerintah AS bahkan mempertimbangkan pengiriman pasukan darat ke pulau tersebut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pihaknya telah bersiap menghadapi kemungkinan tersebut.
“Pasukan kami sedang menunggu tentara Amerika memasuki wilayah tersebut,” ujarnya, dikutip kantor berita Tasnim.
Meski demikian, Trump belum memastikan apakah operasi itu benar-benar akan dilakukan.
“Mungkin kita akan merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita punya banyak pilihan,” kata Trump.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri AS terkait rencana tersebut.
Konflik Kian Memanas, Harga Minyak Melonjak
Pernyataan Trump muncul saat konflik antara AS-Israel dan Iran memasuki minggu kelima dan semakin meluas. Ketegangan ini berdampak langsung pada sektor energi global.
Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia telah mengalami gangguan serius, memicu lonjakan harga energi. Harga minyak mentah pun melonjak tajam.
Minyak Brent tercatat naik hingga kisaran 115 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate juga menembus lebih dari 100 dolar AS per barel.
Selain itu, laporan Washington Post menyebut Pentagon tengah bersiap menghadapi kemungkinan konflik darat di Iran selama beberapa pekan, dengan sekitar 3.500 pasukan telah dikerahkan ke kawasan tersebut.
Ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga disiagakan untuk mendukung operasi militer. Di tengah eskalasi, upaya diplomasi tetap dilakukan.
Trump mengeklaim bahwa pertemuan dengan pihak Iran telah berlangsung pekan lalu. Ia bahkan menyebut para legislator Iran meminta kesepakatan untuk mengakhiri perang. Tetapi, klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran, yang menyatakan tidak ada interaksi langsung dengan Amerika Serikat. (Wen Warouw)

