Ramai orang membicarakan peringatan Presiden Joko Widodo tentang bahaya politik Genderuwo yang doyan menakut-nakuti rakyat. Peringatan ini justru membuat pengikut Genderuwo membela diri dan makin beringas namu lucu. Budayawan Wibowo Arif mengingatkan pembaca pada seseorang bernama Bento yang dulu. (Redaksi)
Oleh: Wibowo Arif
DULU namanya Bento. Hartanya melimpah. Tokoh papan atas, atas segalanya. Wajahnya ganteng, banyak simpanan, sekali lirik, oke sajalah. Asyik. Semua orang tahu siapa bapaknya, semua orang takut sama bapaknya. Sehingga bisnisnya bisa menjegal apa saja, yang penting Bento senang, Bento menang, persetan orang susah, yang penting asyik, sekali lagi asyik bagi Bento.
Bayangkan, betapa enaknya meraih kekayaan dengan cepat tanpa kerja keras. Misalnya, ketika masuk ke bisnis angkutan BBM ke Pertamina, dia langsung beli kapal tanker dengan cara pinjam uang di bank tanpa agunan. Pihak bank tidak ada yang berani menolak pinjaman miliaran rupiah, tanpa agunan sama sekali.
Menurut berbagai kalangan, Bento adalah anak yang paling berani menggunakan nama bapaknya untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya. Dia suka memberitahu calon investor asing bahwa dialah yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama bapaknya, ketimbang kakak-kakaknya.
Politik rasialis sang bapak dimanfaatkan dengan baik oleh Bento, dengan cara menekan para pemilik pabrik rokok agar membeli cengkeh darinya. Fakta di lapangan juga menemukan, Bento memaksa petani menjual cengkeh dengan harga yang sangat murah, lalu menjualnya ke pabrik rokok dengan harga yang mahal.
Bento meraup untung besar dan banyak petani cengkeh yang bangkrut. Monopoli cengkeh menjadi simbol nepotisme dan penipuan negara yang menghancurkan ekonomi petani cengkeh. Setelah itu, juga beredar kabar Bento memiliki saham Lambhorgini, membeli 24.000 hektare tanah peternakan di Selandia Baru, serta membeli lapangan golf di London.
Setelah reformasi, bisnisnya tidak surut. Hanya saja, tidak bisa leluasa bergerak semaunya, seperti di era kekuasaan bapaknya.
Baru ketika Jokowi berkuasa, malapetaka mengancam pundi-pundi uangnya. Pada 2019 ada kesepakatan di dunia, bahwa informasi terkait harta para pemilik rekening di semua negara bisa diakses. Alhasil, dana gelap Bento yang disembunyikan di luar negeri pun bisa diusut, baik asal muasalnya, bahkan bila terjadi penyimpangnan pajak.
Hal ini membuat Bento marah besar dan bersumpah akan menghancurkan Pemerintahan Jokowi. Merasa terancam, Bento kemudian mengubah dirinya jadi Genderuwo. Tahu kan apa itu Genderuwo? Hantu sakti yang menyeramkan dan bisa menghancurkan siapapun yang dimusuhinya.
Kemudian, disusunlah beberapa cara untuk menghancurkan Jokowi. Pertama, menyuruh tokoh-tokoh politik untuk terus-menerus menggempur Jokowi secara personal, juga capaian kinerjanya. Misalnya secara personal, Jokowi diserang dengan stigma keturunan PKI, plonga-plonga gak bisa mimpin. Jokowi juga disebut raja hoax.
Kedua, lewat aksi membiayai dan menggunakan kelompok-kelompok peliharaan bapaknya untuk memakai isu agama dengan isu Jokowi anti-Islam, antiulama, dan menangkapinya. Muncul juga isu Ahok dan bendera HTI.
Yang ketiga, dengan mengerahkan pasukan hoax untuk menyebar di medsos sehingga muncul isu ancaman TKA 10 juta dari Tiongkok menyerbu Indonesia, harga-harga naik, rupiah hancur, dan lainnya.
Sedangkan yang keempat, dia juga mengerahkan demo-demo di berbagai elemen. Contohnya, di sektor mahasiswa dan buruh, berupa aksi tagih janji.
Selain itu, ada juga momentum yang sempat digunakan untuk menggulingkan Jokowi, yaitu upaya aksi makar di acara 212 yang digelar di Monas. Upaya ini berhasil digagalkan oleh kepolisian dengan menangkapi para pelakunya.
Genderuwo itu sempat dipanggil kepolisian karena ada indikasi mendanai gerakan makar lewat kaki tangannya, Firza kandang kambing. Sekarang ini, Genderuwo berharap kasus bendera HTI bisa meledak.
Namun rakyat indonesia mulai menggunakan akal sehatnya. Sehingga segala upaya yang dilakukan Genderuwo selalu kandas. Rakyat tidak mau lagi mengikuti hasutan Genderuwo. GUSTI ORA SARE.

