Sabtu, 31 Januari 2026

ADA APA NIH..! Ramai Kader Nasdem “Loncat” ke PSI dan Ambisi Jadikan Sulawesi “Kandang Gajah”

JAKARTA – Gelombang perpindahan kader Partai Nasdem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali terjadi. Terbaru, eks Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Sulawesi Selatan (Sulsel) Rusdi Masse Mappasessu resmi bergabung dengan PSI setelah mengundurkan diri dari Nasdem.

“Ke Makassar naik Air Asia. Jangan lupa minum es. Mari keluarga Partai Solidaritas Indonesia. Kita sambut Bang RMS,” kata Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep saat mengumumkan bergabungnya Rusdi Masse pada Rakernas PSI di Makassaar, dikutp Bergelora.com si Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Rusdi Masse bukanlah kader Nasdem pertama yang “move on” ke PSI.

Pada 2025, sejumlah kader Nasdem lebih dulu hengkang dan bergabung dengan PSI, di antaranya mantan Wakil Ketua Umum Nasdem Ahmad Ali serta mantan anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Nasdem, Bestari Barus. Bahkan, keduanya langsung mendapatkan jabatan prestisius pada kepengurusan PSI periode 2025. Ahmad Ali didapuk sebagai ketua Harian PSI, sedangkan Bestari Barus menjadi ketua Dewan Pimpinan Pusat.

Ambisi Rebut Sulawesi

Ahmad Ali mengungkapkan bahwa keputusannya dan Rusdi Masse meninggalkan Nasdem tidak terlepas dari ikatan personal yang kuat di antara keduanya.

Ali mengaku punya komitmen dengan Rusdi Masse untuk tidak saling meninggalkan dalam perjalanan politik

“Saya enggak pernah mengajak dia untuk bergabung di PSI. Tapi memang kami ini saya katakan tadi, dia bukan saudara sedarah saya, tapi kami berdua melebihi hubungan saudara sedarah,” ujar Ali di Makassar, Kamis (29/1/2026).

“Jadi kami berdua berkomitmen bahwa ketika saya keluar dari Partai Nasdem, bagi kami berpolitik, kami berjanji untuk tidak saling meninggalkan,” kata dia.

Ali juga tidak memungkiri bahwa ada faktor elektoral yang berkaitan dengan bergabungnya Rusdi ke PSI.

Ali meyakini, kehadiran Rusdi ke PSI dapat mendongkrak perolehan suara partai berlambang gajah itu di tanah Sulawesi.

“Bergabungnya dia ini momentum besar bagi PSI di Sulawesi. Saya berani mengatakan bahwa dengan kehadiran Pak Rusdi, insya Allah Sulawesi secara keseluruhan ini akan menjadi Kandang Gajah di Indonesia,” ujar Ali.

Rasa optimisme Ali ini tentu bukan alasan. Pada Pemilihan Umum 2024 lalu, Rusdi Masse sukses membawa Nasdem menjadi pemenang di Sulawesi Selatan.

Padahal, selama ini, perebutan suara di Sulsel selalu dimenangkan oleh Partai Golkar yang telah berdiri sejak lama.

“Setelah kami berdua bergabung di Partai Nasdem, pemilu kedua Partai Nasdem, kami sudah mengalahkan Partai Golkar di beberapa wilayah Sulawesi,” kata Ali.

Menurut Ali, pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi PSI untuk mengulang kesuksesan serupa.

“Sehingga keyakinan itu, pengalaman itu, menambah keyakinan saya bahwa insya Allah sejarah itu kami akan ulangi. Dan bahkan mungkin tidak hanya di Sulawesi, kami tahu cara untuk memenangkan partai ini di Indonesia,” kata dia.

Peneliti Senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai hengkangnya sejumlah kader Nasdem ke PSI berpotensi berdampak negatif terhadap citra Nasdem.

“Tentu publik menganggap bahwa Nasdem tidak solid dan sedang diterpa masalah. Persepsi ini tentu akan merusak citra partai di mata publik,” kata Lili saat dihubungi, Kamis,

Meski demikian, Lili menegaskan bahwa perpindahan kader antarpelat partai bukan fenomena baru dalam politik Indonesia.

“Perpindahan kader atau elite partai dari partai yang satu ke partai yang lainnya tampaknya menjadi hal yang dianggap biasa atau lumrah sehingga tidak heran bila fenomena ini orang kerap menyebutnya sebagai ‘kutu loncat’,” ujar dia.

Menurut Lili, ada berbagai faktor yang mendorong migrasi kader, mulai dari kekecewaan terhadap partai lama hingga kepentingan politik dan ekonomi. Kader partai politik juga bisa berpindah partai karena ingin mendapatkan jabatan strategis atau mendapatkan perlindungan dengan patron baru.

“Artinya, bisa jadi karena ada kekecewaan di Nasdem lalu pindah ke PSI karena ada kesempatan untuk mendapatkan posisi strategis dalam partai sehingga kemudian bergabung dengan PSI,” ujar Lili.

Namun, dia mengingatkan bahwa perpindahan tersebut juga berisiko menimbulkan stigma di mata publik bahwa kader yang berpindah partai dianggap oportunis hingga kutu loncat.

Nasdem Tetap Solid

Menanggapi gelombang perpindahan kader tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Nasdem Saan Mustopa menegaskan bahwa partainya menghormati pilihan politik setiap kader. Saan juga membantah anggapan bahwa perpindahan kader disebabkan oleh persoalan jabatan di internal partai.

“Enggak. Ya Ahmad Ali kan pernah jadi Wakil Ketua Umum, Ketua Fraksi. Jadi semua enggak ada masalah, partai enggak ada masalah dengan yang bersangkutan,” ujar Saan, Selasa (27/1/2026).

Terkait mundurnya Rusdi Masse dari kepengurusan Nasdem Sulawesi Selatan, Saan memastikan partainya tetap fokus menjaga kekuatan di wilayah timur Indonesia dan telah menyiapkan pengganti. Saat ini, posisi Ketua DPW Nasdem Sulsel diisi oleh Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap) Saharuddin Arif, yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris DPW Nasdem Sulsel.

“Ya kita tetap konsen agar Nasdem di wilayah Timur tetap menjadi kekuatan utama Nasdem. Makanya penggantinya yang memang sudah memahami betul situasi peta kondisi yang ada di wilayah Timur, khususnya di Sulawesi Selatan,” tutur Saan.

Dia pun menegaskan bahwa Nasdem tidak terlalu khawatir kehilangan basis konstituen di wilayah tersebut.

“Nasdem tetap berupaya memberikan kenyamanan bagi seluruh kader. Tapi kalau memang mereka punya pilihan lain dengan berbagai alasan, tentu kita juga enggak bisa menahan, tapi kita tetap menghargai pilihan,” kata Saan. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru