Rabu, 28 Januari 2026

Ancaman Besar Cina Terhadap Monopoli Imperialis

Sistem imperialis tampaknya telah mencapai tahap kontradiksi yang begitu maju dan mubazir sehingga setiap perkembangan ekonomi yang signifikan di Global Selatan berdampak pada pelemahan sistem tersebut. Pada saat yang sama, sistem imperialis sepenuhnya bergantung pada eksploitasi berlebihan, pemyebaran bahkan mungkin mengembangkan, super-eksploitasi pada tenaga kerja di Global Selatan untuk kelangsungan hidupnya.

Oleh: Sam King *

BERIKUT ini adalah uraian yang didasarkan pada presentasi yang dihaturkan sebagai bagian dari Seri Seminar Marxisme Anti-Imperialis oleh Red Spark di Melbourne dan Sydney, yang diadakan pada Oktober 2025. Judul aslinya adalah “China’s Challenge to the US Stranglehold”.

Dalam presentasi singkat ini, saya pada dasarnya akan melakukan dua hal. Sebagian besar presentasi akan membahas secara spesifik perkembangan China sebagai tantangan bagi imperialisme. Namun, pertama-tama, saya ingin membingkai pertanyaan tersebut dalam konteks historis dan agak teoretis. Tanpa konteks tersebut, tidak mungkin untuk memahami konflik antara China dan imperialisme saat ini.

Artikel saya “The Second China Shock: Finally breaking the U.S. Stranglehold?”, yang diterbitkan di red-spark.org pada bulan September, mendefinisikan fakta paling menentukan dari dominasi imperialis atas Global Selatan (negeri-negeri belahan Selatan) dalam hal kemampuannya untuk memonopoli proses “merevolusi alat-alat produksi.”

Pendekatan tersebut diambil langsung dari Manifesto Komunis:

“Kaum borjuasi tidak dapat eksis tanpa terus-menerus merevolusi alat-alat produksi dan, dengan demikian, hubungan produksinya, dan bersamaan dengan itu (juga) seluruh hubungan masyarakat… Revolusi produksi yang terus-menerus, (merupakan) gangguan tanpa hentikan pada semua kondisi sosial, ketidakpastian dan agitasi yang abadi membedakan zaman borjuasi dari semua zaman sebelumnya.”

Dengan kata lain, yang kita bicarakan adalah kemampuan untuk mengembangkan teknologi produktif baru, teknik baru, yang mengubah proses kerja manusia. Saat ini, sementara banyak masyarakat kapitalis, termasuk di Global South, memproduksi sejumlah besar komoditas dalam skala besar, yang membedakannya dengan masyarakat imperialis dan, karenanya, disebut sistem imperialis adalah, sekali lagi, monopoli imperialis atas kemampuan untuk terus mengembangkan teknologi produktif baru dan membawanya ke pasar.

Marx menulis sebelum tahap imperialis kapitalisme, ketika kapitalisme monopoli, sebagaimana Lenin mendefinisikan imperialisme, belum menjadi ciri dominan dari sistem tersebut.

Di bawah imperialisme, inisiatif dan kendali atas (pekerjaan) “merevolusi alat-alat produksi”, yang diamati Marx, merupakan ciri umum bahwa kapitalisme telah dimonopoli. Monopoli ini tidak hanya dipegang oleh sejumlah kecil perusahaan monopoli yang semakin kuat, tetapi juga oleh sejumlah kecil negara imperialis tempat perusahaan-perusahaan kapitalis raksasa ini berada.

Keakuratan proposisi Lenin telah terbukti selama 100 tahun berikutnya. Kelompok negara yang membentuk klub imperialis penjarah pada tahun 2025 hampir sama dengan kelompok pada tahun 1916 – merupakan bukti tak terbantahkan dari posisi monopoli mereka yang kuat.

Dalam analisa Marxis, alasan utama mengapa sebagian kecil dunia dapat mempertahankan kendali atas sebagian besar wilayah lainnya pada akhirnya disebabkan oleh kendali mereka atas proses kerja itu sendiri. Bukan terutama (pada) kendali atas uang, militer, hukum, budaya, atau perdagangan – meskipun semua itu merupakan komponen kendali imperialis. Pada dasarnya, semua cabang tersebut berasal dari kendali atas satu faktor sentral: proses kerja manusia. Itulah yang memberi manusia kemampuan untuk mereproduksi masyarakat mereka.

Kendali Imperium Monopoli

Monopoli atas kemampuan untuk memulai bagaimana proses kerja manusia mengembangkan peralatan yang membuat negera-negera imperialis mampu memperoleh kekuasaan atas proses kerja secara keseluruhan. Tetapi bagaimana tepatnya hal ini berjalan? Pertanyaan tersebut akan membingungkan dan (sepertinya) tidak masuk akal, terutama karena semakin banyak volume produksi dilakukan di Global South.

Kuncinya terletak pada pengamatan berikut:

Pertama: revolusi dalam produksi hanya mungkin terjadi dengan mengganti teknik lama dengan teknik baru yang lebih maju . Di sisi lain, jika proses kerja baru tidak lebih maju, ia tidak akan mampu mendominasi dan menggantikan yang lama. Jadi, menurut definisi, penciptaan teknik “revolusioner” baru adalah pengembangan proses yang lebih maju.

Kedua, poin yang sangat penting: menurut definisi, proses kerja tingkat lanjut pada dasarnya bersifat monopolistik. Ciri mendasar dari teknik baru dan canggih adalah bahwa teknik tersebut tidak mudah direplikasi. Hal ini jelas masuk akal, karena teknik tersebut baru, kompleks, dan belum pernah diterapkan sebelumnya. Oleh karena itu, mereplikasi teknik baru dan canggih – menggeneralisasikannya – membutuhkan waktu untuk mencapai.

Memahami karakteristik proses kerja tingkat lanjut ini sangat penting untuk memahami imperialisme. Itulah alasan mendasar mengapa perusahaan kapitalis, bahkan pada tahap pra-monopoli, perkembangan kapitalisme dapat meningkatkan tingkat keuntungan mereka di atas perusahaan lain melalui pengenalan mesin baru, proses baru, dan inovasi baru, seperti yang diamati Marx dalam Kapital.

Proses ini mengikuti dua langkah umum:

Pertama, dibutuhkan waktu agar teknik baru menjadi umum. Dalam jangka waktu sebelum suatu teknik (baru) menjadi umum, para pelopor memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dari rata-rata dan mengembalikan investasi mereka yang lebih besar dari rata-rata.

Kedua, setelah hal itu menjadi umum – setelah menjadi norma sosial – tingkat keuntungan dari “perusahaan inovatif” tersebut turun ke rata-rata sosial. Namun, mereka kemudian beralih ke siklus bisnis berikutnya dengan tetap memiliki akumulasi modal rata-rata yang lebih besar dan mungkin dapat mengulangi proses tersebut.

Itulah ciri inti, “molekuler” dari perkembangan kapitalis yang diidentifikasi Marx, yang perlu kita pahami dengan sangat baik jika kita ingin menganalisis apa yang terjadi di China dan bagaimana hal itu memengaruhi imperialisme. Ciri inti tersebut belum dihapuskan oleh sistem imperialis – hanya bentuk operasinya yang telah diubah – seperti yang akan kita lihat.

Peningkatan Skala

Nah, kecenderungan mendasar terkait kapitalisme adalah peningkatan skala yang konstan – perusahaan yang relatif kecil menjadi korporasi raksasa dengan operasi luas di seluruh dunia atau menembus berbagai sektor ekonomi.

Di sini kita perlu mempertimbangkan satu aspek dari pertanyaan skala. Peningkatan skala produksi itu sendiri pasti juga berarti peningkatan skala dan kesulitan dalam memenuhi persyaratan untuk pengembangan dan persiapan – “merevolusi” – teknik produksi baru.

Hanya pada tahun-tahun awal kapitalisme, para ilmuwan atau insinyur individual dapat menghasilkan penemuan-penemuan produktif baru yang penting. Segera setelah itu, penerapan ilmu pengetahuan pada produksi berarti bahwa setiap kemajuan baru dalam teknik hanya dapat ditemukan dan dikembangkan secara ilmiah dalam skala besar. Hal ini membutuhkan tim besar yang terdiri dari orang-orang yang paling berpendidikan, dilengkapi dengan peralatan terbaru, pendanaan yang stabil, dan sebagainya.

Namun, seiring dengan terus meningkatnya skala produksi, bahkan perusahaan-perusahaan raksasa pun tidak cukup besar untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. Persyaratan untuk merevolusi proses produksi hanya dapat dicapai berdasarkan jaringan kapitalis kolaboratif yang bekerja sama dengan negara kapitalis.

Dalam kondisi monopoli, peran penting aparatur negara kapitalis dalam mempersiapkan dasar untuk merevolusi teknik produksi merupakan alasan utama mengapa polarisasi kaya-miskin dalam kondisi sosial selama 100 tahun terakhir sebagian besar terjadi berdasarkan garis negeri-negeri; yaitu, negeri-negeri imperialis di Global Utara menjadi kaya dan negeri-negeri Global Selatan menjadi miskin.

Negeri-negeri imperialis dan korporasi monopoli mereka mencapai titik di mana mereka dapat membangun monopoli global atas eselon tertinggi ilmu pengetahuan dan teknologi. Monopoli global ini membuat mustahil munculnya kekuatan imperialis baru yang bersaing atau munculnya kesetaraan sosial dan produktif.

Itulah sejarah seabad setelah terbitnya buku Lenin tentang imperialisme: seluruh negeri-negeri Global Selatan telah dicegah untuk berkembang dengan cara yang tak bedanya masyarakat (dalam kungkungan) imperialis.

Di Luar Batas Nasional

Namun, perkembangan struktur imperialisme tidak berhenti sampai di situ. Saat ini, tampaknya monopoli global imperialis semakin melemah dan terkikis.

Seperti yang telah disebutkan, produksi saat ini telah mencapai skala di mana hanya lembaga-lembaga tertinggi masyarakat kapitalis – pada akhirnya negara-negara imperialis – yang dapat memenuhi tuntutannya yang terus berkembang. Setidaknya ini berlaku untuk tuntutan khusus yang terkait dengan revolusi proses produksi.

Namun, pada saat yang sama, pertumbuhan yang konstan juga cenderung melampaui batas nasionalnya; batas di mana semua negeri imperialis berbagi monopoli kolektif atas produksi teknik-teknik canggih sehingga merampas kemampuan dari semua negeri yang tertindas.

Marx sudah mengamati hal ini, bahkan sejak tahun 1848:

“Sebagai pengganti keterasingan dan kemandirian lokal dan nasional yang lama, kita memiliki interaksi ke segala arah, saling ketergantungan universal antar bangsa. Dan seperti halnya dalam produksi materi, demikian juga dalam produksi intelektual. Kreasi intelektual masing-masing bangsa menjadi milik bersama.”

Pada praktiknya, sistem imperialisme merupakan sistem monopoli oleh sekelompok kecil bangsa. atas hasil karya intelektual semua bangsa.

Namun hal itu juga menciptakan masalah bagi mereka—semacam “ketergantungan”, seperti yang dikatakan Marx. Inilah yang menurut saya menjadi masalah imperialisme saat ini.

Monopoli kemampuan untuk merevolusi produksi berarti memusatkan kegiatan monopoli tersebut di dalam negeri-negeri imperialis – hal-hal seperti desain, penelitian dan pengembangan, teknik canggih, dan sebagainya. Tetapi memusatkan jenis pekerjaan tersebut di dalam negeri-negeri imperialis, juga berarti semakin meningkatkan pengabaian semua jenis pekerjaan lainnya.

Jadi, struktur ekonomi dunia yang terpolarisasi juga memusatkan semua proses lainnya, yaitu proses non-monopoli, yang disebut “produksi massal”, di negeri-negeri Selatan – khususnya di Republik Rakyat China (RRC).

Sampai batas tertentu, demi memonopoli segalanya, imperialisme semakin tidak menghasilkan apa pun. Paling tidak, ada seluruh bidang produksi di mana masyarakat imperialis sepenuhnya bergantung pada Global Selatan, terutama untuk tenaga kerja. Inilah inti dari apa yang sekarang tampaknya melemahkan dan mengikis kendali imperialis.

Proses tersebut, di mana tenaga produktif kapitalisme di tingkat internasional melampaui batas-batasnya – baik batas negara-bangsa maupun batas hubungan kepemilikan kapitalis itu sendiri – tampaknya diekspresikan paling tajam dalam konflik antara AS dan China.

Guncangan China

Saat ini, keberadaan berbagai rantai pasokan dari berbagai jenis, yang terkadang secara eksklusif berada di dalam negeri China, secara efektif memberikannya semacam “monopoli” atas aspek-aspek tenaga kerja biasa, atau produksi non-monopoli.

Seperti yang telah disebutkan, produksi “biasa” yang bukan monopoli, tidak dapat menjadi dasar keuntungan super yang berkelanjutan atau jangka panjang karena – pada dasarnya – relatif mudah untuk diduplikasi (lihat King, Imperialism and the Development Myth , 2021, hlm. 114).

Namun, kedua jenis tenaga kerja – monopoli dan non-monopoli – tetap sangat diperlukan. Tidak ada produk yang dapat dibuat tanpa kedua jenis tenaga kerja tersebut. Karena alasan teraebut, tingginya konsentrasi produksi non-monopoli di negeri Chna, terutama dalam skala besar, memberi Cina kekuatan yang substansial untuk melawan dan melemahkan kendali serta eksploitasi imperialis atas dirinya.

Selain itu, Tiongkok adalah negeri besar tunggal, negeri dengan satu kekuatan politik independen dari imperialisme sebagai konsekuensi dari revolusi. Itu berarti konsentrasi produksi non-monopoli Tiongkok mewakili konsentrasi kekuasaan yang, dalam beberapa hal, ditentang oleh imperialisme.

Konsentrasi kekuasaan ekonomi dan politik di China itulah yang tampaknya ingin dihancurkan oleh sebagian besar kelas penguasa AS – tercermin dalam tujuan lama mereka untuk menyingkirkan Partai Komunis dari kekuasaan dan menggantinya dengan rejim yang lebih patuh. Keinginan imperialis ini memotivasi dukungan bipartisan AS terhadap tarif dan sanksi yang bersifat menghukum serta agresif terhadap Tiongkok.

Artikel “China Shock” di Red Spark menyoroti bagaimana tepatnya persaingan dari ekonomi China sejak pandemi tampaknya menimbulkan masalah signifikan bagi kemampuan imperialisme untuk mereproduksi dirinya sendiri dengan cara lama, dan bagaimana China cenderung melemahkan monopoli imperialis di sektor-sektor yang semakin penting.

Sebagai catatan tambahan, persaingan antara China dan AS menarik perhatian karena agresivitas kebijakan AS. Namun, kemungkinan besar persaingan dari ekonomi China dengan negeri-negeri imperialis lainnya bahkan lebih langsung dan merugikan negeri-negeri tersebut, terutama negeri-negeri dengan sektor ekspor manufaktur yang besar seperti Jerman, Italia, dan Jepang.

Persaingan China dengan perusahaan-perusahaan imperialis bukanlah hal baru. Namun, dampaknya terhadap imperialisme saat ini, mungkin baru-baru ini, mengalami perubahan kualitatif.

Dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, meningkatnya dominasi China dalam pakaian, alas kaki, TV, atau operasi perakitan bermargin rendah lainnya tidak merugikan posisi imperialisme. Masyarakat imperialis diuntungkan dengan melakukan divestasi dari produksi bermargin rendah. Hal ini membebaskan modal untuk diinvestasikan kembali di sektor yang lebih menguntungkan, dan memungkinkan ekonomi imperialis untuk mengimpor produk yang sangat murah, menurunkan biaya dan sekali lagi meningkatkan keuntungan.

Namun, saat ini, persaingan dari China tampaknya telah meningkat begitu jauh di “rantai nilai” sehingga apa yang disebut “Guncangan Tiongkok Kedua” secara serius menggerogoti area yang lebih sentral bagi keuntungan imperialis—terutama produksi otomotif dan baterai. Produsen mobil khususnya tampaknya terjebak dalam dilema serius.

Kendaraan Listrik: Sebuah Contoh Ilustratif

Transisi yang sedang berlangsung saat ini dari kendaraan bermotor gaya lama yang ditenagai oleh mesin pembakaran internal,–internal combustion engines (ICE) ke kendaraan listrik bertenaga baterai,– battery electric vehicles (BEV) yang lebih modern, merupakan studi kasus yang hampir klasik tentang revolusi produksi yang menjadi dasar historis dari keuntungan super imperialis.

Namun, kenyataannya sebagian besar perusahaan mobil besar berbasis imperialisme saat ini ragu-ragu untuk melakukan transisi tersebut.

Sejak pandemi Covid, produsen mobil telah mengurangi dan menunda laju investasi mereka dalam kendaraan listrik. Merek-merek kecil seperti Volvo, yang menetapkan rencana investasi cepat, dan Porsche, telah mengalami kerugian finansial. Produsen mobil terbesar, seperti Toyota dan Volkswagen, pada dasarnya telah mengadopsi strategi ganda: mengembangkan beberapa model listrik sambil juga terus mengembangkan model ICE baru untuk jangka waktu yang lama. Kini, produsen mobil besar telah mengurangi atau menunda investasi dalam kendaraan listrik. Uni Eropa, misalnya, sedang mempertimbangkan untuk menunda tanggal akhir yang ditetapkan untuk penjualan kendaraan ICE hingga setelah tahun 2035.

Lambatnya perkembangan tersebut disebabkan oleh margin keuntungan yang lebih rendah untuk kendaraan listrik baterai (BEV), karena perusahaan-perusahaan China sudah memproduksi kendaraan listrik berkualitas tinggi dan kompetitif dalam skala besar. Untuk memperebutkan pangsa pasar yang signifikan, atau mendominasi penjualan BEV saat ini, perusahaan seperti Toyota, Volkswagen, atau produsen Amerika perlu melakukan ekspansi investasi besar-besaran dalam produksi BEV. Namun, karena Cina sudah menjadi produsen massal, hal itu akan menghasilkan margin keuntungan yang lebih rendah ketimbang investasi mereka yang sudah ada pada kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Itulah mengapa mereka ragu-ragu—karena kurangnya keuntungan.

Pola historis keuntungan super imperialis bergantung pada investasi imperialis di bidang baru dan kemudian beberapa tahun produksi monopoli – pada dasarnya eksklusif – sebelum produsen lain mengejar ketinggalan. Tetapi di bidang penting pembuatan kendaraan, China sudah berada di sana.

Akibatnya, kaum imperialis berinvestasi kembali dalam jangka waktu yang lebih lama pada teknologi yang lebih ketinggalan zaman: kendaraan ICE (Internal Combustion Engine). Kendaraan itu lebih “ketinggalan zaman” dalam arti objektif karena merupakan pemborosan tenaga kerja, tidak hanya dalam produksi bahan bakar fosil tetapi juga dalam produksi motor mobil dan komponen terkaitnya. Di China, penjualan dan ekspor kendaraan BEV (Battery Electric Vehicle) dan plug-in hybrid mendekati 50 persen, dibandingkan dengan rata-rata OECD yang sekitar 22 persen.

Energi Terbarukan

Saat ini, persentase pangsa energi terbarukan pada jaringan listrik Cina berada di bawah Australia dan sebagian besar Eropa – sekitar 20 persen dibandingkan dengan sekitar 33 persen. Pangsa energi terbarukan China kurang lebih sama dengan Amerika Serikat. Namun, sejak pandemi Covid, Ciba mulai meningkatkan penggunaan energi terbarukan jauh lebih cepat daripada negeri-negeri lain di dunia.

Energi listrik terbarukan juga mewakili bentuk proses kerja yang lebih maju ketimbang pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Sekali lagi, hal itu karena membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja. Karena alasan itu, energi terbarukan sekarang menjadi bentuk energi baru yang paling murah.

Namun, faksi-faksi penting dari kelas kapitalis di negeri-negeri imperialis secara aktif berupaya melemahkan transisi tersebut, seperti pemerintahan Queensland yang baru dan, tentu saja, Trump. Meskipun mereka mungkin tidak terlalu efektif dalam jangka panjang untuk menghentikan transisi, mereka tentu saja memperlambat laju transisi tersebut. Sementara itu, di China, kebijakan nasional yang tercantum dalam Rencana Lima Tahun saat ini adalah mempercepat adopsi energi terbarukan. Hal itu sebagian karena alasan lingkungan, sebagian karena harga, dan sebagian lagi karena keamanan nasional.

Bukankah itu menarik? Keamanan nasional di negeri-negeri Selatan Global melibatkan adopsi energi terbarukan—setidaknya dalam kasus penting ini.

Artikel “The Second China Shock” juga menguraikan gambaran dramatis dominasi China dalam produksi baterai. Baterai dianggap sebagai komponen kelas atas dalam kendaraan listrik baterai (BEV), bahkan lebih penting daripada mesinnya. Namun secara global, produksinya sangat terkonsentrasi di China.

Jadi, gambaran keseluruhannya adalah China, sebuah negara di Global Selatan, semakin mendominasi – setidaknya dalam hal produksi massal – industri-industri strategis baru tertentu. Ini adalah skenario yang sama sekali baru.

Melemahkan, Bukan Melampaui Imperialisme

Saya ingin mengklarifikasi satu aspek lain dari perkembangan saat ini. Yang terjadi adalah pembangunan China sedang melemahkan fondasi imperialisme dan stabilitas imperium. Melemahkan sangat berbeda dengan melampaui imperialisme, yang secara refleks dipikirkan kebanyakan orang begitu pertanyaan tentang tantangan China terhadap imperialisme diajukan.

Pertanyaan tentang “tantangan Cina” terhadap imperialisme biasanya dipahami dalam dua cara. Pertama, China melampaui produksi imperialis dan kemudian mengambil alih posisi imperialis di dunia (analisis ini mungkin mencerminkan pandangan atau ketakutan kaum borjuis imperialis). Kedua, China melampaui produksi imperialis dan, dengan demikian, membebaskan diri dari penindasan dan eksploitasi imperialis secara damai dan bertahap; yang terakhir tampaknya mencerminkan posisi publik Partai Komunis China (PKC).

Menurut saya, tidak satu pun dari skenario tersebut benar. Keduanya didasarkan pada gagasan “melampaui”. Itu tidak mungkin terjadi. Pandangan melampaui didasarkan pada kegagalan untuk membedakan antara teknik produksi yang revolusioner dan produksi massal non-monopoli—melupakan bahwa keduanya berbeda dan, dalam arti penting, merupakan hal yang berlawanan. Jika Anda tidak membuat perbedaan itu, apa yang Anda persepsikan adalah China terus naik dalam rantai nilai, dan Anda berasumsi bahwa China dapat dan akan terus naik dalam rantai nilai tanpa batas di masa depan.

Pada kenyataannya, “dominasi” produksi mobil yang tampak—misalnya, fakta bahwa China memproduksi mobil terbanyak—bukanlah dominasi yang sebenarnya jika yang dimaksud hanyalah perakitan akhir mobil sebagian besar terjadi di Chiina, karena para perakit di China tetap bergantung pada pemasok luar negeri untuk komponen tercanggih atau mesin pabrik yang penting.

Hal yang sama juga berlaku untuk telepon, kamera, panel surya, turbin angin, mikrochip, dan setiap produk lainnya; hal yang sama juga berlaku untuk setiap komponen dari semua produk akhir tersebut; hal yang sama juga berlaku untuk semua mesin yang terlibat dalam memproduksi komponen-komponen tersebut, dan seterusnya. Untuk mengetahui di mana dominasi sebenarnya berada, kita perlu menyelidiki semua industri tersebut.

Salah satu contoh penting adalah pesawat penumpang komersial, di mana Chiina sama sekali tidak dominan dan bahkan tidak kompetitif secara internasional. COMAC, produsen pesawat terbang milik negara Cina, bergantung pada impor dari AS, Prancis, dan negeri lain untuk hampir semua komponen canggih, agar dapat menyelesaikan produksinya.

Contoh penting lainnya adalah industri pembuatan kapal. Saat ini, yang mengejutkan, sebagian besar kapal kargo besar di dunia dibangun di Tiongkok, sesuatu yang tampaknya sangat mengkhawatirkan Pentagon, Angkatan Laut AS, dan Gedung Putih. Secara sepintas, itu tampak seperti contoh lain dari meningkatnya dominasi China. Tetapi ini adalah contoh yang baik dari kontradiksi yang ada. Ya, hilangnya galangan kapal dan kapasitas industri lainnya yang diperlukan untuk membangun kapal pasti merupakan bahaya besar bagi kendali imperialis, terutama dalam perang. Tetapi apakah contoh tersebut menunjukkan hilangnya supremasi teknis imperialisme? Jawabannya tampaknya “tidak”—setidaknya dalam aspek-aspek paling canggih dari proses pembuatan kapal.

Meskipun China, dan dalam skala yang lebih kecil Jepang dan Korea Selatan, mendominasi konstruksi akhir kapal, Jerman dan Swiss, dalam kemitraan dengan Korea, mendominasi desain, pengembangan, dan konstruksi mesin kapalnya – bagian yang paling canggih dan paling menguntungkan. China mendominasi pasokan dalam hal tonase – dan mungkin juga waktu kerja yang dibutuhkan. Korea dan Jerman mendominasi komponen kelas atas dan keuntungan.

Contoh penting lainnya yang dapat dipertimbangkan adalah produksi mikrochip canggih. Hal yang membutuhkan mesin khusus yang hanya diproduksi oleh ASML di Belanda. Mesin-mesin itu sekarang tunduk pada kontrol ekspor AS dan tidak dikirim ke China. Mesin berteknologi tinggi secara umum – misalnya, litografi semikonduktor, robotika canggih, manufaktur kedirgantaraan – biasanya harus diimpor ke China.

Unsur (Logam) Tanah Jarang – Sebuah Contoh Kontra

Republik Rakyat Cina memang memiliki monopoli yang sangat besar, lebih dari 90 persen, dalam logam tanah jarang. Tetapi itu bukanlah industri yang maju.

Monopoli China di bidang tersebut merupakan ciri khas keunggulan kompetitif negeri-negeri  Global Selatan secara umum: monopoli atas tenaga kerja yang sangat mudah dieksploitasi dan kesediaan untuk menerima kerusakan lingkungan yang besar dalam mengejar keuntungan yang tidak terlalu besar.

Logam tanah jarang merupakan monopoli AS dari tahun 1960-an hingga 1980-an, tetapi produksi AS dikurangi secara bertahap pada tahun 1990-an dan 2000-an karena persaingan harga dari China – serupa dengan pola yang terjadi pada banyak industri non-teknologi tinggi lainnya selama era globalisasi neoliberal.

Untuk memahami dengan benar sifat dominasi China yang tampak dalam produksi produk-produk seperti panel surya, turbin angin, kendaraan listrik, baterai, dan lainnya, diperlukan penelitian tentang keseimbangan teknologi antara produsen China dan imperialis dalam setiap rantai pasokan. Waktu yang dibutuhkan untuk investigasi semacam itu akan sangat lama. Jelas, kita membutuhkan lebih banyak ekonom politik Marxis.

Namun, di semua industri yang telah saya teliti—terutama industri pembuatan kapal—pola umum yang sama selalu muncul.

Bahaya Sejati bagi Imperialisme: Penghancuran Monopoli Secara Umum

Di wilayah-wilayah dengan dominasi produksi terbesar China, yang tampaknya terjadi bukanlah bahwa para produsen China menggantikan monopoli imperialis lama dengan monopoli mereka sendiri yang sejenis. Sebaliknya, mereka menghancurkan monopoli itu sendiri—setidaknya monopoli dalam pengertian imperialis, yaitu keuntungan super berdasarkan keunggulan teknologi.

Mungkin contoh yang paling terkenal, meskipun masih dalam proses, adalah persaingan besar-besaran dari produsen mobil listrik Cina dengan Tesla.

Jika kita mundur lima hingga sepuluh tahun dari sekarang, BYD dan BEV Cina lainnya dianggap jauh lebih rendah kualitasnya dibandingkan Tesla dan produsen mobil imperialis lainnya. Akibatnya, Tesla dapat menjual mobilnya dengan harga yang sangat tinggi, menghasilkan keuntungan super besar dan mendorong perusahaan tersebut menjadi perusahaan otomotif paling berharga di dunia dan Elon Musk menjadi orang terkaya di dunia.

Namun, setelah pandemi, BYD dan produsen mobil China lainnya mampu mendominasi pasar domestik Ciba dan mencapai ekspor besar-besaran ke seluruh dunia (selain AS, di mana mereka diblokir oleh tarif tinggi), karena mereka sekarang dipandang di seluruh dunia memiliki kualitas yang setara dengan Tesla dan merek-merek berbasis imperialisme lainnya. Akibatnya, Tesla terpaksa menurunkan harganya.

Tesla adalah pelopor dalam kendaraan energi baru. Seperti yang telah disebutkan, sebagian besar produsen mobil konvensional bahkan belum sepenuhnya memulai transisi.

Jika persaingan China dalam pembuatan mobil terbukti terlalu kuat, hal itu mungkin akan mengulang pola sejarah yang berbeda. Perusahaan-perusahaan imperialis akan berhenti memproduksi mobil sama sekali dan malah berinvestasi di bidang lain—seperti yang telah terjadi di bidang manufaktur pakaian, perakitan elektronik, dan sektor-sektor lain yang tak terhitung jumlahnya di masa lalu.

Jika industri pembuatan mobil secara keseluruhan dikuasai oleh produsen non-monopoli di China, Thailand, Meksiko, dan negeri-nwgwri Global Selatan lainnya, yang akan terjadi adalah Tesla akan memusatkan investasinya pada satelit, roket, perangkat lunak, atau bidang baru lainnya, dan mengurangi atau menjual bisnis mobilnya – sama seperti IBM yang menjual bisnis perakitan PC-nya kepada perusahaan China Lenovo dua puluh tahun yang lalu.

Kita bisa melihat masalahnya di sini—semacam marjinalisasi imperialis.

Satelit dan roket, meskipun mungkin sangat menguntungkan, dapat dikatakan jauh lebih marjinal ketimbang mobil dalam hal pengaruh sosial secara keseluruhan dan, yang penting, dalam total waktu kerja yang diperlukan untuk produksi dan pengoperasiannya. Jika lebih banyak bidang utama dan mendasar dari produksi dan distribusi barang dikuasai oleh produsen non-monopoli, maka lingkup di mana keuntungan monopoli tetap mungkin terjadi akan semakin menyusut. Jika kaum imperialis benar-benar diusir dari bumi untuk hanya mengendalikan produksi di luar angkasa (!) maka sulit membayangkan mereka dapat mencegah krisis revolusioner dan transformasi masyarakat dalam waktu yang lebih lama.

Mungkin tantangan paling mendesak dan dramatis bagi kehidupan di bumi adalah ini: jika China dapat menguasai teknik produksi yang ada di bidang yang semakin canggih dan dalam waktu yang semakin cepat, hal ini akan membuat investasi monopoli di masa depan menjadi tidak layak secara umum.

Pikirkan implikasinya: jika saat sebuah perusahaan imperialis meluncurkan produk baru ke pasar, produk serupa atau identik akan segera muncul dan menyaingi harganya. Dalam hal ini, keuntungan super yang diharapkan jelas tidak dapat terwujud. Tetapi setiap produk yang benar-benar baru seperti yang telah diproduksi oleh kaum imperialis, yang secara historis bergantung pada investasi yang sangat besar dalam pabrik baru, peralatan baru, penelitian baru, pengembangan baru, pelatihan, dan sebagainya. Semua itu tidak dapat dibenarkan kecuali ada harapan akan keuntungan super untuk menutupi semua biaya tersebut.

Jika China kini telah berkembang hingga mencapai tahap yang hampir semua proses industri baru yang signifikan dapat direplikasi dalam waktu yang relatif singkat—atau bahkan jika perusahaan-perusahaan imperialis memperkirakan ada kemungkinan besar hal itu dapat direplikasi—maka mereka tidak dapat berinvestasi secara menguntungkan dalam teknologi-teknologi besar baru apa pun.

Terus terang saja: tanpa keuntungan super, kaum imperialis tidak lagi dapat membiayai reproduksi dominasi teknologi. Tanpa keuntungan super, tanpa monopoli teknologi, tidak akan ada imperialisme seperti yang telah ada selama 100 tahun ini.

Dampak Sosial dan Politik dari Krisis Baru Imperialisme

Keuntungan super adalah alasan utama mengapa masyarakat imperialis lebih kaya daripada masyarakat  Global Selatan. Tanpa keuntungan tersebut, tatanan internasional ini akan mulai runtuh – meskipun mungkin sangat lambat.

Situasi baru yang berkembang ini tidak hanya akan memengaruhi kaum borjuis tetapi juga semua kelas sosial – termasuk, misalnya, konsumsi kaum pekerja di negeri-negeri imperialis. Secara politis, politik “kolaborasi kelas” di dalam kelas pekerja – yaitu rasisme, chauvinisme sosial, dan reformisme – merupakan penopang historis imperialisme yang sangat diperlukan. Suap imperialis kepada sebagian kelas pekerja, dan kepada “pemimpin” chauvinis seperti mereka yang ada di Partai Buruh Australia, juga didanai oleh keuntungan super imperialis. Periode setelah pandemi Covid telah menyaksikan penurunan daya beli di Australia, seperti di semua negeri lain. Mudah untuk membayangkan bahwa dampak yang jauh lebih dramatis mungkin terjadi.

Di sisi lain, upaya imperialis untuk menghancurkan China, atau menghancurkan produksi negeri Global Selatan secara lebih luas, pada kenyataannya juga merupakan upaya untuk menghancurkan kaum borjuis Global Selatan dan kelas pekerjanya—secara efektif mengucilkan mereka dari keuntungan relatif dalam pendapatan dan konsumsi yang diperoleh di negeri-negeri penting seperti China selama 30-40 tahun terakhir. Apa dampak politik dari keberhasilan imperialis dalam upaya ini?

Membiarkan para kapitalis Global Selatan  meningkatkan pendapatan mereka selama periode neoliberal—sebagai imbalan atas peran mereka dalam membawa kelas pekerja Global Selatan  ke pasar ekspor dunia—telah menjadi inti dari stabilitas imperium selama satu zaman penuh.

Mengabaikan negeri-negeri Global Selatan, sejauh yang memungkinkan, dapat menjadi resep untuk fenomena serupa di masa depan seperti Caracazo pada tahun 1989—pada dasarnya kerusuhan pangan dan kemiskinan—yang memicu proses radikalisasi politik di Venezuela dan akhirnya mengarah pada kemenangan pemilihan Hugo Chávez pada tahun 1998. Selama periode neoliberal, revolusi Venezuela merupakan pengecualian yang terisolasi. Sebelum neoliberalisme, anti-imperialisme jauh lebih luas di seluruh Dunia Ketiga. Di masa depan, hal itu mungkin akan terjadi lagi.

Tantangan China terhadap imperialisme AS selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa China tidak perlu melampaui atau menggantikan imperialisme untuk melemahkan fondasi struktural imperialisme tersebut.

Sistem imperialis tampaknya telah mencapai tahap kontradiksi yang begitu maju dan mubazir, sehingga setiap perkembangan ekonomi yang signifikan di Global Selatan berdampak pada pelemahan sistem tersebut. Pada saat yang sama, sistem imperialis sepenuhnya bergantung pada eksploitasi berlebihan, pemyebaran bahkan mungkin mengembangkan, super-eksploitasi pada tenaga kerja di Global Selatan untuk kelangsungan hidupnya.

Ini mungkin merupakan kontradiksi yang tidak dapat diatasi—meskipun terlalu kompleks untuk memprediksi bentuk pasti krisis, keretakan, dan ledakan yang mungkin terjadi. Yang jelas adalah kebutuhan mendesak untuk secara energik membangun kembali gerakan sosialis di dalam masyarakat imperialis seperti Australia dan AS, untuk mempersiapkan kaum pekerja agar bereaksi terhadap keretakan yang akan datang ini dalam semangat solidaritas, kerja sama, dan perdamaian internasional—dan mempersiapkan mereka untuk mengambil tindakan melawan kaum borjuis imperialis, yang pasti akan mencoba menyelesaikan krisis ini untuk kepentingan mereka sendiri dengan segala cara.

——–

*Sam King, Ph.D, adalah seorang penulis dan peneliti tentang imperialisme, perburuhan, perdagangan dunia, pertukaran tidak setara, Marxisme, dan ekonomi politik Tiongkok, Amerika Serikat, dan Indonesia. Sam King mendapatkan gelar doktor di Victoria University, berdomisili di  Melbourne, Australia.

 Artikel ini diterjemahkan Danial Indrakusuma untuk Bergelora.com dari artikel berjudul “China, Big Threat to Imperialist Monopoli”, yang dimuat di Red Spark

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru