JAKARTA– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan harapannya agar Presiden China Xi Jinping tidak melancarkan serangan militer terhadap Taiwan, menyusul operasi militer AS di Venezuela.
Trump menegaskan bahwa masa depan Taiwan berada di tangan Xi, namun ia mengaku akan sangat tidak senang jika China menggunakan kekuatan militer.
Ia juga membantah anggapan bahwa penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer AS bisa menjadi preseden bagi China untuk bertindak terhadap Taiwan.
Trump: “Masa depan taiwan ada di tangan Xi”
Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump menyebut Xi Jinping memandang Taiwan sebagai bagian dari China dan keputusan terkait pulau itu sepenuhnya berada di tangan pemimpin Beijing tersebut.
“Dia menganggapnya sebagai bagian dari China, dan itu terserah dia apa yang akan dia lakukan,” kata Trump, merujuk pada Xi, dikutip dari The Independent, Jumat (9/1/2026).
Namun Trump mengaku telah menyampaikan keberatannya secara langsung kepada pemimpin China tersebut.
“Tapi saya sudah menyampaikan kepadanya bahwa saya akan sangat tidak senang jika dia melakukan itu, dan saya tidak berpikir dia akan melakukannya. Saya berharap dia tidak melakukan itu,” ujar Trump.
Trump menepis anggapan bahwa operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro dapat dijadikan pembenaran bagi China untuk merebut Taiwan dengan kekuatan militer.
Menurut Trump, situasi Taiwan tidak bisa disamakan dengan Venezuela.
Ia menilai Taiwan tidak menimbulkan ancaman terhadap China seperti halnya ancaman yang menurut Trump ditimbulkan pemerintahan Maduro terhadap Amerika Serikat.
Trump “yakin” pada Xi
Kepqda Bergelora.com di Jakarta, Sebuni (12/1) dilaporkan, Trump juga menyatakan keyakinannya bahwa Xi Jinping tidak akan menyerang Taiwan selama dirinya masih menjabat sebagai presiden AS. Masa jabatan Trump diketahui berakhir pada awal 2029.
Ia mengatakan kepada The New York Times bahwa Xi “mungkin akan melakukannya setelah kita memiliki presiden yang berbeda, tetapi saya tidak berpikir dia akan melakukannya saat saya menjadi presiden.”
Ketegangan China-Taiwan Meningkat
Pernyataan Trump muncul setelah China menggelar latihan militer di sekitar Taiwan bulan lalu. Para analis menilai latihan tersebut mengaburkan batas antara latihan rutin dan persiapan serangan, yang berpotensi memberikan peringatan minimal bagi AS dan sekutunya jika serangan benar-benar terjadi.
Komentar Trump juga disampaikan sehari setelah China mengancam akan memberikan “pukulan langsung” terhadap Taiwan, menyusul kritik Beijing atas serangan Amerika Serikat di Venezuela.
Di sisi lain, para pakar geopolitik menyatakan keprihatinan bahwa serangan AS di Venezuela dapat memperkeras pandangan Beijing terkait opsi-opsinya terhadap Taiwan, bahkan memberi justifikasi penggunaan kekuatan militer. Sentimen tersebut juga tercermin di media sosial China, termasuk Weibo, di mana topik terkait meraih sekitar 450 juta tayangan.
“Saya menyarankan menggunakan metode yang sama untuk merebut kembali Taiwan di masa depan,” tulis seorang pengguna, yang mendapat sekitar 1.000 tanda suka.
Pengguna lain mempertanyakan apa yang mereka sebut sebagai penyalahgunaan hukum internasional oleh Trump.
Sikap AS terhadap Taiwan
Amerika Serikat tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, namun terikat oleh undang-undang untuk menyediakan sarana pertahanan bagi pulau tersebut.
Taiwan Relations Act 1979 tidak mewajibkan AS untuk turun tangan secara militer jika China menyerang, tetapi menetapkan kebijakan agar Taiwan memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri.
Pemerintahan Trump bulan lalu mengumumkan penjualan senjata senilai 11,1 miliar dollar AS (sekitar Rp 187 triliun) kepada Taiwan, yang disebut sebagai paket persenjataan terbesar yang pernah diberikan kepada pulau itu.
Hingga kini, Trump tetap menghindari pernyataan tegas mengenai respons AS jika ketegangan di Taiwan meningkat, sejalan dengan kebijakan lama AS. (Web Warouw)

