Minggu, 26 Mei 2024

Babak Play Off Olimpiade Paris 2024: Terima Kasih Ernando, Terima Kasih Garuda Muda

Oleh: M. Nigara*

TERIMA KASIH Ernando Ari dan seluruh skuad Garuda Muda. Terima kasih Shin Tae-yong serta jajaran ofisial Garuda Muda. Meski kita gagal ke Olimpiade Paris, 2024, tapi kalian telah memberikan harapan baru bagi sepakbola kita ke depan.

Langkah Garuda Muda terhenti  di komplek INF Clairefontaine, Kamis (9/5). Pasukan STY kalah 0-1 dari Guinea, wakil Afrika. Gol Guinea dicetak Ilaix Moriba lewat tendangan penalti pada menit ke-29, setelah Witan menjatuhkan Algassime Bah. Laga _play off_ yang disaksikan langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino itu berjalan cukup imbang.

Ini merupakan kegagalan kedua Indonesia menuju Olimpiade. Februari 1976, Iswadi dan kawan-kawan juga gagal ke Olimpiade Montreal. Laga penentuan di Stadion Utama Senayan, kita kalah dalam drama adu-penalti dengan Korea Utara.

Laga 120 menit, berakhir imbang 1-1, bahkan saat adu penalti, Indonesia sempat unggul 3-2, sayang dua penendang kita, Oyong Liza dan Anjas Asmara gagal. Kita kalah dalam _sudden death_, Korut akhirnya menang 5-4.

*Wasit…*
Sayang laga yang dimainkan sore hari di pusat pembinaan sepakbola Perancis itu, diwarnai sikap wasit yang kurang _fair_. Ujungnya, STY diberi kartu merah karena melakukan protes.

Awalnya wasit Francois Letexier , asal Perancis menunjuk titik putih kedua. Dewangga yang menggantikan KomangTeguh di babak kedua, dianggap melakukan pelanggatan di dalam kotak penalti.

Namun, dalam tayangan ulang (bukan versi VAR), kaki Dewangga lebih dulu menyentuh bola. Bahkan sikulit bundar terlihat bergerak ke sisi kiri, sedangkan Dewangga menekel dari sisi kanan Algassime Bah.

STY protes pada wasit cadangan. Tak lama wasit tengah berlari sambil mengangkat kartu kuning. STY bertetiak: ” _Ball, ball, ball!_”
Wasit Perancis itu langsung mengangkat kartu merah pada 74.

Meski kita gagal, tetapi sebagai wartawan sepakbola senior, saya tetap bangga pada seluruh tim. Jangankan kita, Brasil pemegang medali emas, Olimpiade Rio 2016, dan Tokyo 2020,  Inggris 3 kali juara, Rudia (Uni Soviet) dua kali dan mading-masing Italia dan Jerman satu kali, juga gagal ke Olimpiade Paris.

Jadi, meski kita juga gagal, namun harapan sepakbola kita bisa lebih baik, terbuka sudah.
Tentu STY harus melakukan analisa yang lebih dalam untuk bisa memperbaiki kelemahan dan mempertajam yang sudah baik agar semakin baik.

Tim ini sebenarnya memang tidak ditargetkan untuk bisa mencapai pesta olahraga tertinggi di dunia. Secara formal PSSI menargetkan STY mencapai perempat final Piala Asia 2023. Ternyata tim bisa melaju hingga ke posisi keempat di Asia.

Sekali lagi, meski kita gagal meraih tiket olimpiade, tapi saya sebagai pribadi menghargai seluruh karya STY dan pasukannya. Saya tetap bangga sama seperti saya bangga pada skuad Wiel Coerver, 1976 itu. Bahkan, neski Anjas gagal dalam sepakan penaltinya, saya oun tetap kagum padanya.

Empat atau lima tahun ke depan, Rizky Ridho dan kawan-kawan bisa kita harapkan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Jangan kecil hati anak-anak, jalan masih panjang dan berliku. Tetap semangat anak-anak!!!

Bravo PSSI….

*Penulis M. Nigara, Wartawan Sepakbola Senior

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru