Ketika Prabowo memutuskan bergabung, itu bukan pencitraan. Itu penegasan bahwa Indonesia bukan negara medioker. Kita bangsa besar yang punya ambisi global, visi strategis, dan kapasitas moral untuk memimpin agenda perdamaian dunia.
Oleh: Bin Bin Firman Tresnadi *
ADA yang menjerit-jerit menuding Presiden Prabowo “membebek Trump” karena Indonesia bergabung dengan Board of Peace. Tudingan seperti itu bukan kritik—itu cermin ketidakmampuan membaca geopolitik modern. Hanya mereka yang alergi pada strategi, dan nyaman jadi komentator pinggir lapangan, yang melihat kebijakan ini sebagai ketundukan. Padahal ini justru langkah ofensif: Indonesia masuk gelanggang untuk punya hak bicara, hak memaksa, dan hak menentukan. Bangsa besar tidak membangun pengaruh dari luar pagar. Bangsa besar masuk ke dalam, duduk di meja perundingan, dan memastikan tidak ada keputusan global yang diambil tanpa hitungan kita.
Fokusnya Gaza. Titik. Bukan Ego Politik Dalam Negeri.
Board of Peace punya mandat jelas: stabilisasi dan rekonstruksi Gaza. Indonesia sejak lama menjadi salah satu suara paling konsisten membela Palestina. Jadi ketika ada ruang untuk mendorong perubahan konkret, negara ini memilih masuk.
Ironisnya, mereka yang menuduh “membebek” justru tak menawarkan apa-apa selain slogan kosong. Prabowo tidak bermain slogan — dia bermain hasil. Dan hasil hanya bisa dicapai dari dalam arena, bukan dari pinggir sebagai pemandu sorak
Diplomasi Bebas-Aktif Itu Bertarung, Bukan Menjauh
Kaum pengkritik tampaknya masih terjebak pada tafsir sempit: seolah bebas-aktif berarti alergi pada semua forum yang melibatkan figur Barat. Padahal doktrin bebas-aktif sejak awal adalah doktrin kemandirian strategis: mendekat ketika bermanfaat, menjauh ketika merugikan.
Masuknya Indonesia ke Board of Peace adalah gerakan ofensif untuk memperluas pengaruh, mengintervensi agenda dunia, dan memastikan bahwa rekonstruksi Gaza tidak dijadikan proyek politik satu kekuatan saja.
Kalau kita takut masuk, lalu siapa yang akan mengimbangi? Kedaulatan itu dibangun, bukan diteriakkan.
Tanpa Indonesia, Board of Peace akan berputar pada orbit kepentingan segelintir negara. Dengan Indonesia masuk, orbit itu tergeser, narasinya berubah, dan perspektif Global South masuk ke meja.
Ada yang menyebut ini bentuk ketundukan? Justru sebaliknya: ini cara halus merusak dominasi satu pihak dari dalam. Yang tak paham taktik, tentu melihatnya sebagai “ikut-ikutan”. Indonesia bukan penumpang. Indonesia adalah ballast yang mengubah arah seluruh kapal.
Kritik yang Menyerang Prabowo Tidak Punya Bacaan Geopolitik
Mereka yang menolak langkah ini sebenarnya hanya terkungkung dalam sentimen personal: alergi pada Trump, lalu mengira diplomasi Indonesia ikut terseret. Itu cara berpikir amatir.
Negara sebesar Indonesia tidak menyusun langkah strategis berdasar suka-tidak suka pada figur tertentu. Yang dihitung adalah leverage, ruang intervensi, dan peluang memaksakan agenda rekonstruksi Gaza yang sesuai visi Indonesia.
Prabowo tidak tunduk pada siapa pun. Yang tunduk adalah mereka yang pikirannya masih bergantung pada narasi media Barat dan aktivisme pinggir jalan.
Indonesia Bangsa Besar: Kita Masuk untuk Menentukan, Bukan Dipengaruhi
Ketika Prabowo memutuskan bergabung, itu bukan pencitraan. Itu penegasan bahwa Indonesia bukan negara medioker. Kita bangsa besar yang punya ambisi global, visi strategis, dan kapasitas moral untuk memimpin agenda perdamaian dunia.
Kita masuk bukan karena “diminta”, bukan karena “terpengaruh”, tetapi karena tidak boleh ada satu pun forum perdamaian global yang berjalan tanpa Indonesia di dalamnya.
Mereka menuduh membebek, karena mereka takut Indonesia memimpin. Kaum pengkritik panik karena langkah ini menunjukkan satu hal:
Indonesia tidak lagi menjadi penonton. Indonesia sedang mengambil posisi sebagai penentu.
Prabowo tidak membebek. Prabowo sedang memimpin—dan itu menakutkan bagi mereka yang selama ini menggantungkan identitas politiknya pada retorika anti-Barat tanpa kemampuan menciptakan solusi.
Indonesia masuk Board of Peace bukan untuk mengangguk, tetapi untuk mengatur. Dan itu yang tak bisa mereka terima.
——————-
*Penulis Bin Bin Firman Tresnadi, Dewan Pembina Nalar Bangsa Institute

Oleh: Bin Bin Firman Tresnadi *