JAKARTA- Novelle Corona Virus (Corona Virus) yang merebak dari Wuhan, Provinsi Hubei, China sudah bisa teratasi. China sudah berhasil menyembuhkan setidaknya 49 orang sampai Senin (28/1) lalu. Hal ini membuktikan kemampuan pemerintah Republik Rakyat China untuk menghadapi serangan,–kalau benar itu adalah serangan senjata biologi (Biological Weapon) dengan menggunakan virus corona.
Kemampuan China ini kabarnya karena China telah memiliki empat laboratorium kerjasama sipil dan militer yang bertugas untuk menghadapi pandemi penyakit menular. Sebuah tulisan di https://www.zerohedge.com/ mengungkapkan 4 lembaga penelitian yang langsung dibawah pemerintah China yaitu Institute of Military Veterinary, Academy of Military Medical Sciences, Changchun; Center for Disease Control and Prevention, Chengdu Military Region; Wuhan Institute of Virology, Chinese Academy of Sciences, Hubei; dan Institute of Microbiology, Chinese Academy of Sciences, Beijing. Wah! Hal ini dulu pernah menjadi impian Menteri Kesehatan 2004-2009, Siti Fadilah Supari saat menghadapi ancaman pandemi flu burung ditahun 2008-2009 lalu.
Saat itu, lewat perjuangan Indonesia melawan Flu Burung memberikan banyak pelajaran pada publik. Hal ini terjadi karena Siti Fadilah sebagai Menteri Kesehatan menginginkan semua kebijakannya berpatokan pada transparancy (keterbukaan), Equalilty (kesetaraan) dan fair (adil).
“Kita harus bisa punya kesiapan sendiri menghadapi wabah bencana penyakit menular. Wabah penyakit bisa alamiah dan bisa human made. Kita harus tahu itu,” tegas Menkes Siti Fadilah saat itu dalam menghadapi wabah flu burung yang merebak secara cepat merengut nyawa pasien.

Siti Fadilah membongkar kasus pengiriman seed virus ilegal. Hal ini berujung penutupan Laboratorium Namru-2 di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Naval Medical Research Unit Two (NAMRU-2) adalah sebuah laboratorium riset bio medis milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang didirikan untuk mempejari berbagai penyakit menular di Asia yang bisa menjadi kekuatan militer Amerika.
Pemerintah Indonesia dan pemerintah Amerika Serikat akhirnya sepakat menutup laboratorium Namru-2 yang telah beroperasi di Indonesia sejak 1967. Kedua pemerintah sepakat membangun kerjasama yang transparan (terbuka), Equal (setara) dan fair (adil).
Setelah Namru-2 ditutup pada tahun 2009 oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Pemerintah Amerika Serikat mengundangnya untuk memperbarui kerjasama Amerika Serikat – Indonesia. Indonesia meminta pembangunan capacity building, penelitian laboratorium penyakit menular dan transfer tehnologi.
Siti Fadilah saat itu mengirim delegasi untuk merintis kerjasama antara Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan Departemen Kesehatan Amerika Serikat. Sebelumnya, urusan penyakit menular di Amerika ada ditangan Angkatan Laut Amerika Serikat yaitu Namru-2,–yang selama ini mengirim berbagai seed virus ke CDC Atlanta untuk pengembangan vaksin,– atau langsung ke Laboratorium Los Alamos yang bertugas mengembangkan senjata biologi. Semua proses melalui mekanisme tertutup dalam operasi-operasi intelejen.
Setelah penutupan Namru-2, di Jakarta, maka semua urusan penyakit menular diambilalih oleh Departemen Kesehatan Amerika Serikat dan dipertanggung jawabkan pada Presiden Amerika Serikat, Senat dan Konggres Amerika Serikat. Proses yang dipakai secara formal dan terbuka berdasarkan kesepakatan yang fair.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, di Indonesia kalau tidak salah Departemen Kesehatan menyiapkan Labotarium Eickman di Surabaya, Laboratorium Biofarma di Bandung dan sebuah laboratorium di Universitas Airlangga. Fadilah menginginkan semua laboratorium kesehatan tersebut bisa memproduksi berbagai obat, serum dan vaksin, untuk melindungi rakyat Indonesia dari wabah penyakit.
Sekarang, bagaimana kesiapan Indonesia menghadapi wabah? Bagaimana dengan cita-cita Indonesia dan Siti Fadilah saat memperjuangkan seed virus flu burung strain Indonesia. Sudah berapa banyak laboratorium yang berdiri? Bagaimana dengan kerjasama Indonesia – Amerika Serikat itu? Yang terpenting, adalah apa rencana pemerintah kalau ada seorang pasien terbukti pistif corona virus di Indonesia?
Padahal, berdasarkan ilmu kedokteran dasar,– kalau seseorang terserang infeksi maka tubuh akan membentuk antibodi. Kalau antibodi diekstraksi maka bisa dijadikan obat. Dengan teknologi ekstrasi dalam dunia kedokteran yang sudah maju sekarang ini hal sangat mudah dilakukan. Sehingga wajar China bisa membuat obat atau serum untuk menyembuhkan pasien terkena Corona Virus. Apakah Indonesia bisa?
Mungkin masih ada yang tidak tahu dimana Siti Fadilah yang pada era 2004-2009 menjadi Menkes RI,–yang sepak terjangnya habis-habisan melindungi rakyatnya dari penyakit menular flu burung. Siti Fadilah sudah 3 tahun berada di penjara LP Pondok Bambu, karena fitnah korupsi,– yang pengadilanpun tidak pernah bisa membuktikannya.
Banyak orang percaya, Siti Fadilah dipenjara karena berbagai kebijakannya yang merugikan perusahan obat, perusahan vaksin, bisnis asuransi, dan kepentingan politik Amerika Serikat di Indonesia. Dan cara yang paling ampuh untuk membungkamnya adalah memenjarakannya dengan tuduhan korupsi
Konspirasi Amerika
Seorang politisi Rusia mengatakan, Amerika Serikat berada di balik pandemik Virus Corona di Cina, karena ingin menghancurkan perekonomian negara ini. Sebuah situs http://vestnikkavkaza.net/ melaporkan, Ketua Partai Liberal Demokratik Rusia, Vladimir Zhirinovsky dalam sebuah seminar menuturkan, penyebaran virus Corona di Cina adalah konspirasi yang dirancang Amerika.
Ia menambahkan, apakah ini kenyataan bahwa Corona adalah sejenis virus baru, buatan sebuah konspirasi.
Kantor berita RIA Novosti menulis, Vladimir Zhirinovsky menjelaskan bahwa konspirasi semacam ini bukan barang baru. Sebelumnya pun pernah terjadi pandemik virus flu burung, dan virus sapi gila, dan dalam sebulan semuanya habis. Obat terjual, dan beberapa orang menjadi miliarder.
Namun sampai saat ini pemerintah Cina masih belum berkomentar soal kemungkinan rekayasa pihak asing dalam pandemik virus mematikan Corona di negara itu. (Web Warouw)

