JAKARTA — Presiden Kolombia Gustavo Petro menyatakan siap “mengangkat senjata” demi membela negaranya, menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap pemerintahannya, pada Senin (5/1).
Melalui unggahan media sosial, Petro, mantan pejuang sayap kiri, mengatakan bahwa setiap intervensi militer AS di Kolombia, seperti tindakan terhadap Venezuela pada akhir pekan, akan memicu perlawanan.
“Saya bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi. Namun demi tanah air, saya akan mengangkat senjata kembali,” kata Petro, seperti dikutip Bergelora.com di Jakarta, Rabu (7/1( dari Al Jazeera.
Petro dikenal sebagai pengkritik terbuka Trump, yang sebelumnya mengancam Kolombia dengan kemungkinan serangan militer dengan dalih pemberantasan narkoba.
Kedua pemimpin tersebut kerap saling melontarkan sindiran, tetapi ancaman Trump dalam beberapa hari terakhir menjadi semakin agresif.
Trump mengatakan pada akhir pekan agar Petro “waspada” setelah penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang oleh banyak ahli hukum internasional dianggap sebagai tindakan ilegal.
Kepada wartawan pada Minggu, Trump menyebut operasi serupa terhadap pemerintahan Petro sebagai sesuatu yang “terdengar bagus”.
“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit, yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia tidak akan melakukannya terlalu lama,” ujar Trump.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kolombia mengecam pernyataan itu sebagai “campur tangan yang tidak semestinya dalam urusan dalam negeri negara, bertentangan dengan hukum internasional”.
Trump menuding Petro mempermudah peredaran narkoba ke AS, tuduhan yang tidak memiliki dasar bukti dan dibantah keras oleh Petro.
Petro menegaskan pemerintahannya telah memerangi produksi narkoba sambil menjauh dari pendekatan perang narkoba yang demiliterisasi.
“Saya sangat percaya pada rakyat saya,” kata Petro.
“Dan karena itu saya meminta rakyat untuk membela presiden dari setiap tindakan kekerasan ilegal terhadap dirinya,” tambah dia.
Kirim 30 Ribu Prajurit ke Perbatasan Venezuela

Sebelumnya dilaporkan, Kolombia mengerahkan 30.000 personel ke perbatasan Venezuela setelah Amerika Serikat menggempur Caracas dan menculik Presiden Nicolas Maduro.
Radio pemerintah Kolombia Radio Nacional de Columbia melaporkan pemerintah memerintahkan pengerahan 30.000 pasukan ke wilayah perbatasan.
“[Dengan tujuan] mengantisipasi dan memperingati peristiwa di daerah tersebut,” demikian laporan radio itu, dikutip The National , Senin (5/1).
Direktur Departemen Administrasi Kepresidenan Kolombia, Angie Lizeth Rodriguez, membenarkan informasi tersebut. Ia mengatakan perintah itu dikeluarkan pada hari Minggu, sehari setelah agresi AS.
Perintah itu, lanjut Rodriguez, juga merupakan bagian dari strategi melindungi kedaulatan.
“Untuk perlindungan dan integritas wilayah serta untuk menjaga keamanan masyarakat perbatasan di tengah meningkatkan ketegangan regional,” ujar Rodriguez.
Perbatasan Kolombia-Venezuela merupakan lokasi utama perdagangan narkoba dan senjata yang ramai di kawasan tersebut.
Tentara dan pasukan keamanan Kolombia sering bentrok dengan kelompok gerilya dan kriminal yang aktif di wilayah itu.
Pengerahan pasukan itu berlangsung usai AS membombardir Ibu Kota Caracas dan menculik Maduro beserta istrinya pada 3 Desember. Mereka langsung diterbangkan dari Venezuela ke Amerika Serikat.
Operasi AS dikecam komunitas internasional termasuk Presiden Kolombia Gustavo Petro. Mereka menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan keselamatan negara lain.

