Jumat, 14 Juni 2024

Dinasti Menteng Indonesia Vs Amerika Serikat

Pendudukan Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat beberapa hari lalu oleh pendukung Presiden Trump yang berujung rusuh. (Ist)

Kudeta 12 jam di ibu kota dan pusat politik Amerika Serikat, Capitol Hill, Washington DC beberapa hari lalu yang dikuasai pendemo pro presiden petahana Donald Trump,– menjadi sorotan dunia. Peristiwa berdarah ini perlu menjadi pelajaran bagi Indonesia. Christianto Wibisono, penulis buku ‘Kencan Dinasti Menteng’ menuliskannya untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Christianto Wibisono

RABU, 6 Januari 2021 akan dikenang sebagai Tiananmen Amerika Serikat atau kudeta 12 jam ibu kota dan pusat politik AS, Capitol Hill dikuasai pendemo pro presiden petahana, yang ngotot memprotes kecurangan pilpres yang gagal mempertahankan Donald Trump Presiden AS ke-45 untuk bercokol satu masa jabatan lagi. Selama 245 tahun ada 44 orang yang jadi presiden, karena Grover Cleveland presiden ke-22 menjadi satu-satunya presiden AS yang terpilih 2 kali tidak berurutan tapi diselingi presiden ke-23, Benyamin Harrison dan balik lagi jadi presiden ke-24.

Amerika Serikat memang menjadi negara pelopor demokrasi yang mengubah paradigma monarki dan dinasti menjadi poliarki dan suksesi, dari peluru ke pemilu- from the bullet to the ballot. Seluruh dunia dan umat manusia hanya mengenal kerajaan dengan sistem dinasti turun temurun. Meskipun bisa juga tejadi disrupsi, kudeta suksesi oleh raja baru dari marhaen proletary, rakjat jelata menggulingkan raja petahana dan turun temurun. Perebutan kekuasaan bisa berlangsung antara faksi yang berbeda, bisa juga dari internal keluarga raja. Antara paman dan keponakan, antara sepupu atau bahkan kakak-adik kandung bisa terjadi perang saudara seperti Bharata Yudha. Konspirasi dan perebutan kekuasaan secara rahasia, penuk intrik manipulasi dan berpola Brutus, Ken Arok dan Machiavelli, BKM 3 in 1 bisa terjadi di mana saja oleh bangsa apa saja tidak memandang suku, etnis, ras dan agama.

Pada zaman monarki tidak atau belum ada pemilu. Setelah ada pemilu tetap saja bisa terjadi kudeta, suksesi berdarah karena ada pihak yang tidak puas kalah dalam pemilu. Tapi yang mengejutkan hari Rabu, 6 Januari 2021 adalah Ibu Kota AS, negara induk demokrasi modern, bisa terjadi agenda kekerasan politik yang setara dengan Tiananmen 1989 di Beijing. Dengan kerumunan pendemo model Petamburan, Trump menurunkan citra AS sebagai juara demokrasi, menjadi politik Dunia Ketiga yang barbar dan kurang beradab.

Mencermati konflik ideologis dalam kontestasi praxis perebutan kekuasaan yang penuh intrik BKM 3 in 1 ini, maka AS kehilangan moral untuk mengklaim sebagai superpower yang layak mengatur tata geopolitik dunia abad XXI yang modern, majemuk dan multiversal dengan asas meritokrasi non kabalisme dan non kabilistik. Kabal adalah kecenderungan tribalisme, sedang Kabil adalah perilaku BCDI (benci cemburu, dengki, iri) dari kakak kandung yang tidak rela mengakui keunggulan talenta dan kinerja adiknya. Kakak Kabil merasa lebih layak dapat berkat dari Tuhan, karena anak sulung kenapa harus mengalah atau dikalahkan oleh adik bungsu. Ini berlaku antara saudara seayah-kandung seperti Kabil Habil. Tapi bisa dipakai dalam skala lebih besar komples dari sekadar kakak-adik. Klaim bahwa suatu golongan adalah lebih asli, lebih pribumi, lebih senior, lebih majoritas, lebih dulu bermigrasi dan banyak klaim primordial atau preferensi berbasis SARA itulah yang menjadi salah satu akar masalah, di samping ideologi perang kelas oleh ideologi komunisme Marxisme proletariat marhaen membenci borjuis kapitalis.

Semua itu mengakibatkan manusia lebih sering berkorban dan memusnahkan sesama manusia melalui perang antar manusia, ketimbang malapetaka bencana alam seperti topan, banjir, tornado, tsunami, gempa, gunung berapi meledak atau pandemic model Covid sekarang yang juga sudah sering dialami leluhur kita di masa lampau. Jadi sebetulnya bencana Covid ini merupakan salah satu early warning system bagi manusia, apakah mereka akan bunuh diri kolektif lebih mungkin mengkiamatkan dunia melalui perang antar manusia, ketimbang bencana Covid yang bisa menelan ratusan juta manusia dari eksistensi sebagai manusia.

Pada zoominar Presiden University dengan Moderator Prof Komarudin Hidayat dan ruan rumah pengusaha SD Darmono pada Kamis, 7 Januari 2021 terungkap bahwa politicking Covid ini sama saja dengan politicking sejak zaman Perang Dingin. Orang saling menjatuhkan menyalahkan untuk merebut kekuasan dari satu ke pihak lain. Meskipun sebetulnya resep mengatasi masalahnya sama, tapi dibalut perbedaan ideologi. Padahal ideologinya sudah bertumpang-tindih.

Tidak ada lagi Sosialisme Marxisme orthodox yang tidak mengakui dominasi dan fungsi pasar bebas yang efisien dan meritokratis. Tidak ada kapitalisme yang tanpa supervise dan control mekanisme sekalipun di Wall Street, pasti ada etika regulatori yang rasional, logis dan menghargai meritokrasi serta menghukum korupsi, kerugian akibat spekulasi manipulasi yang tidak produktif atau parasistis terhadap sistem yang menghormati kinerja dan menghukum “kemalasan atau kerugian” dalam  kegagalan mempertahankan kontestasi dan eksistensi akibat entropy atau kegagalan manajemen negara atau korporasi dalam persaingan pasar global terbuka.

PDBI mengusulkan pada zoominar itu agar kita memulihkan optimisme dan trust kepada pemerintah tentang agenda 3-5 tahun kedepan, dengan assertive dan bersatu padu merampungkan Vaksinasi Nasional sampai tahun 2022. Mumpung kepercayaan kepada pemerintah sudah pulih dari rongrongan virus predator SARA dampak insiden Petamburan. Mudah-mudahan Indonesia bisa survive dan lebih resilien dari Dinasti Menteng Amerika Serikat kelompok Donald Trump, yang malah merosot jadi massa model 411 dan 212 tahun 2006.

Pada 4 November 2016, rakyat Amerika Serikat melihat massa orientasi khalifah mendominasi Medan Merdeka, Mentengnya Jakarta dan Indonesia, maka AS mengirim pesan memilih Donald Trump untuk mencegah dominasi dan supremasi khalifah di Asia Tenggara (baca: Indonesia). Dalam tempo 3×24 jam, Trump mengalahkan Hillary pada 7 November 2016.

Pada Pilgub 2017, dengan nuansa SARA Anies Baswedan mengalahkan Gubenur petahana A Hok. Pada Pilpres 2019 terjadi konfrontasi Jokowi-Prabowo, yang merupakan kontestasi Dinasti Menteng  kekuatan ideologi oligarki konservatif mapan Prabowo dengan pendatang baru, proletary, marhaen anak bantaran Bengawan Solo yang sukses melejit merebut tahta Dinasti Menteng Indonesia.

Prabowo Subianto adalah putra Begawan ekonomi Sumitro, dinasti Menteng tulen yang menjadi menteri sejak tahun 1950-an dan juga menantu dari Presiden kedua Jenderal Soeharto, representasi double darah biru perebutan tahta presiden ke-7. Dan dua kali pendatang baru “proletary marhaen” Jokowi, berhasil mengalahkan Jenderal Prabowo secara mutlak. Dan lebih mengejutkan Jokowi membuat suatu Langkah elegan magnanimpus dalam Bahasa Jawa menang tanpo ngasoreke. Menang sambal merangkul bekas lawan politiknya menjadi Menteri Pertahanan. 

Maka dengan segala hiruk pikuk dan rusuh berdarah Petamburan, Indonesia tetap berbeda dan berkiat orisinal mengatasi bahaya perang saudara model Capitol 6121 atau Tiananmen 1989.

Agenda Indonesia sekarang adalah menuntaskan vaksinasi, memulihkan ekonomi tanpa SARA dan kudeta suksesi model BKM 3 in 1 dan melejit jadi kekuatan No. 4 sedunia dalam kualitas pada seabad 2045. Ini semua masih dalam cakupan Algorithme Big Data think tank ekonomi dunia. Hanya kita sendiri yang bisa menggagalkan proyeksi optimis PwC dan Lembaga think tank global bahwa dunia pasti akan bisa mengatasi Covid ini termasuk Indonesia dalam proyeksi optimis assertive. Semoga Dinasti Menteng Indonesia dan dunia (di AS maupun RRT) berhenti bermain api perang saudara yang bisa mengkiamatkan dunia lebih sadis dari ancaman Covid. 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru