Kamis, 29 Januari 2026

Dominasi Dolar Melemah: Momentum Indonesia Mengakhiri Neoliberalisme

Dunia berubah. Indonesia sudah memilih arah. Dan arah itu—kedaulatan, multipolaritas, dan keberanian menetapkan jalan sendiri—adalah fondasi masa depan kita sebagai bangsa besar

Oleh: Bin Bin Firman Tresnadi *

“Tatanan lama tidak akan kembali. Nostalgia bukanlah strategi. Dari keretakan ini, kita dapat membangun sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih adil.” – Mark Carney – PM Kanada

PERUBAHAN besar sedang terjadi dalam arsitektur ekonomi dunia. Dominasi dolar AS—yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung kekuatan finansial global—perlahan tapi pasti mulai mengalami erosi. Di saat sebagian kalangan panik dan menebar kekhawatiran, pemerintahan Presiden Prabowo justru membaca dinamika ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia dan keluar dari jebakan neoliberalisme yang selama ini membatasi ruang gerak negara.

Gerakan global yang dipimpin negara-negara BRICS, yang mulai memperluas penggunaan mata uang lokal dan membangun sistem pembiayaan alternatif, membuka jalan bagi dunia multipolar yang lebih setara. Dan dalam momentum tersebut, Indonesia tidak berdiri sebagai penonton: kita sudah bergerak.

Keterpurukan Dolar Bukan Ancaman — Tapi Jendela Kesempatan Indonesia

Selama puluhan tahun, Indonesia dibentuk untuk percaya bahwa stabilitas ekonomi hanya mungkin terjadi bila kita tunduk pada dolar dan pasar keuangan global berbasis neoliberal. Doktrin itu menempatkan Indonesia dalam posisi rentan: setiap gejolak dolar selalu menghantam rupiah, memukul pasar, dan mengganggu harga domestik.

Namun logika lama itu mulai runtuh. Ketika dominasi dolar melemah, negara-negara Global South membuka jalur-jalur baru perdagangan dan transaksi non-dolar. Dan inilah ruang yang harus kita rebut.

Era Prabowo: Arah Kebijakan Jelas — Kedaulatan Ekonomi di Atas Ketergantungan

Di tengah kegaduhan global, pemerintahan Presiden Prabowo bergerak dalam arah yang tepat: meneguhkan kedaulatan ekonomi Indonesia dalam dunia multipolar baru.

Beberapa langkah strategis yang sudah berjalan menunjukkan kompas politik ekonomi yang sangat jelas:

1. Memperluas perdagangan non-USD

Transaksi menggunakan mata uang lokal dengan Cina, India, dan negara-negara BRICS terus meningkat. Ini bukan hanya kebijakan teknis; ini keberanian politik untuk keluar dari bayang-bayang dolar.

2. Memperkuat hilirisasi industri

Hilirisasi bukan sekadar proyek ekonomi—ini strategi geopolitik. Dengan menambah nilai tambah di dalam negeri, Indonesia memutus kerangka kolonial yang selama ini membuat kita hanya sebagai pemasok bahan mentah. Pemerintahan Prabowo melanjutkan dan memperluas agenda ini secara agresif.

3. Memperluas hubungan dengan Global South

Kerja sama dan menjadi anggota BRICS, dialog strategis dengan negara-negara Timur Tengah, dan penguatan arsitektur regional menjadi tanda bahwa Indonesia tidak lagi terpaku pada satu kutub. Kita bergerak sebagai negara besar yang menentukan langkah sendiri.

4. Membangun fondasi kemandirian moneter

Diversifikasi cadangan devisa, penguatan instrumen domestik, dan kesiapan digital rupiah untuk masuk ke jaringan pembayaran multipolar adalah fondasi kedaulatan moneter jangka panjang.

Mereka yang Menolak Perubahan Sesungguhnya Menolak Kedaulatan

Kelompok neolib yang selama ini diuntungkan oleh ketergantungan terhadap dolar mencoba mengerdilkan perubahan ini dengan narasi lama: “dolar tetap diperlukan,” “pasar akan kacau,” atau “Indonesia akan rugi.”

Narasi seperti itu tidak hanya salah membaca peta global, tetapi juga menegasikan kepentingan nasional.

Ketika dunia bergerak menuju multipolaritas, mempertahankan struktur lama berarti memaksa Indonesia tetap menjadi pengikut, bukan pemimpin.

Indonesia Memasuki Fase Baru: Dari Ketergantungan ke Kemandirian

Dengan arah kebijakan Presiden Prabowo yang semakin jelas, Indonesia sedang menapaki jalan baru:

– jalan yang tidak lagi tunduk pada hegemoni satu mata uang,

– jalan yang menempatkan industrialisasi sebagai kunci kedaulatan,

– jalan yang menjadikan Global South sebagai mitra strategis,

– dan jalan yang menegaskan bahwa Indonesia adalah kekuatan besar yang tidak bisa disetir oleh kepentingan ekonomi luar.

Dunia multipolar bukan teori. Itu sedang terjadi. Dan Indonesia sedang menyiapkan diri untuk berdiri sebagai salah satu pusat gravitasinya.

Saatnya Indonesia Mengambil Posisi

Melemahnya dominasi dolar bukanlah krisis; ini momentum sejarah. Pemerintahan Presiden Prabowo sudah membuka jalur menuju kedaulatan ekonomi yang lebih kuat dan lebih mandiri dari cengkeraman neoliberalisme.

Tugas kita sebagai bangsa adalah memastikan langkah ini tidak dirusak oleh kepanikan kelompok yang ingin mempertahankan status quo. Dunia berubah. Indonesia sudah memilih arah. Dan arah itu—kedaulatan, multipolaritas, dan keberanian menetapkan jalan sendiri—adalah fondasi masa depan kita sebagai bangsa besar.

Momentum seperti ini tidak akan terulang. Dan bangsa yang ragu akan kehilangan kesempatan sejarahnya.

——————-

*Penulis Bin Bin Firman Tresnadi, Dewan Pembina Nalar Bangsa Institute

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru