Selasa, 13 Januari 2026

DRAMA BANGET NIH..! Trump Ingatkan Pemimpin Baru Venezuela agar “Nurut” pada AS

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada pemimpin baru Venezuela, Delcy Rodriguez, di tengah proses Nicolas Maduro diadili di pengadilan New York.

Trump mengatakan, Rodriguez bisa “membayar harga yang sangat mahal, bahkan mungkin lebih besar dari Maduro” jika tidak bertindak sesuai keinginan Washington.

Ancaman tersebut muncul setelah operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya serta perubahan kepemimpinan di Caracas.

Peringatan Trump kepada Delcy Rodriguez Dalam wawancara dengan The Atlantic pada Minggu (4/1/2026), Trump secara terbuka mengancam Delcy Rodriguez, mantan wakil presiden Maduro yang kini didukung Mahkamah Agung dan militer Venezuela untuk memimpin negara itu.

“Jika dia tidak melakukan hal yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih besar daripada Maduro,” ujar Trump dikutip Bergelora.com di Jakarta, Selasa (6/1).

Trump juga menegaskan bahwa perubahan rezim di Venezuela adalah sesuatu yang, menurutnya, lebih baik dibanding kondisi saat ini.

“Perubahan rezim, apa pun istilahnya, lebih baik daripada apa yang Anda miliki sekarang. Tidak mungkin menjadi lebih buruk,” kata Trump.

Sehari sebelumnya, Trump bahkan menyatakan bahwa AS akan “mengelola” Venezuela sampai “transisi yang aman, tepat, dan bijaksana” dapat terwujud.

Ia juga berjanji perusahaan-perusahaan minyak AS akan masuk ke Venezuela untuk memperbaiki infrastruktur “dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu.”

Maduro Hadapi Dakwaan Narkoba Dan Senjata

Nicolas Maduro, yang telah berkuasa sejak 2013 dan memimpin Partai Sosialis Bersatu Venezuela, dijadwalkan tampil di pengadilan New York pada Senin (5/1/2026).

AS menuduh Maduro menjalankan rezim “narko-teroris” dan mendakwanya dengan kejahatan perdagangan narkoba serta pelanggaran senjata, tuduhan yang secara tegas ia bantah.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap di kompleks tempat tinggal mereka dalam sebuah operasi pasukan khusus pada Sabtu dini hari. Operasi tersebut juga melibatkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Venezuela.

Keduanya kemudian diterbangkan ke AS dan didakwa atas kasus senjata dan narkoba. Maduro menolak tuduhan sebagai pemimpin kartel narkoba dan menuding Washington menggunakan “perang melawan narkoba” sebagai dalih untuk menggulingkannya dan menguasai minyak Venezuela.

Berbeda dengan ancaman Trump, Delcy Rodriguez mengambil nada yang lebih lunak dalam rapat kabinet pertamanya pada Minggu. Ia menyatakan kesediaan bekerja sama dengan AS.

“Kami mengundang pemerintah AS untuk bekerja sama dengan kami dalam agenda kerja sama yang berorientasi pada pembangunan bersama dalam kerangka hukum internasional,” ujar Rodriguez.

Didukung Mahkamah Agung dan militer, Rodriguez dilantik sebagai presiden Venezuela pada Senin pukul 08.00 waktu setempat di Caracas. AS Klaim Bukan Perang Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, AS tidak sedang berperang dengan Venezuela, meskipun serangan udara di Caracas pada Sabtu memicu penangkapan Maduro dan istrinya.

“Kami sedang berperang melawan organisasi perdagangan narkoba. Itu bukan perang melawan Venezuela,” kata Rubio kepada NBC Meet the Press.

Rubio juga mengatakan kepada CBS bahwa jika Venezuela tidak “membuat keputusan yang benar,” AS akan “mempertahankan berbagai alat tekanan untuk memastikan kepentingan kami terlindungi,” termasuk “karantina” terhadap minyak Venezuela.

“Kami akan menilai segalanya berdasarkan apa yang mereka lakukan, dan kami akan melihat apa yang mereka lakukan,” tambahnya.

Namun, sejumlah politisi Demokrat mengecam keras operasi tersebut. Pemimpin Minoritas DPR AS Hakeem Jeffries menyebut operasi rahasia itu “bukan sekadar operasi narkotika”.

“Itu adalah tindakan perang,” kata Jeffries, seraya menyebut keterlibatan pasukan Delta Force, ribuan tentara, ratusan pesawat militer, dan puluhan kapal.

Senator Chuck Schumer juga mempertanyakan legalitas operasi tersebut. Meski menyebut Maduro sebagai “orang yang mengerikan”, Schumer menegaskan, “Anda tidak menghadapi pelanggaran hukum dengan pelanggaran hukum lainnya.”

Ia mengingatkan bahwa upaya perubahan rezim dengan cara seperti itu sering kali membuat rakyat Amerika “membayar harga dalam darah dan uang.”

Korban Jiwa Dan Reaksi Internasional

Pemerintah Kuba menyatakan 32 “pejuang Kuba yang pemberani” tewas saat pasukan AS menyerang dan menangkap Maduro serta istrinya.

Kuba, sekutu lama sosialis Venezuela, menetapkan dua hari berkabung nasional. Sementara itu, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino mengatakan, “sebagian besar” tim keamanan Maduro serta “tentara dan warga sipil tak bersalah” tewas dalam operasi AS. Pejabat AS menyatakan tidak ada tentara Amerika yang terluka.

Dalam pernyataan bersama, pemerintah Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Uruguay, dan Spanyol menilai aksi militer AS “merupakan preseden yang sangat berbahaya bagi perdamaian dan keamanan regional serta membahayakan penduduk sipil”. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru