Minggu, 2 April 2023

Hari Kartini, Gubernur Ridho dan Derita Sinta Melyati

Sinta Melyati (Ist)

JAKARTA- Seremoni tahunan Hari Kartini 21 April kembali menghias media massa cetak maupun televisi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aktivis perempuan sampai politisi cuap-cuap tentang kesetaraan perempuan sampai kuota perempuan di partai dan legislatif. Dari istana, kantor menteri, gubernuran, walikota, bupati sampai balai desa diramaikan dengan berbagai acara.

Sebelumnya, dari anak-anak sekolah, istri kepala desa sampai ibu menteri sudah seminggu ini sibuk mempersiapkan berbagai acara,—ada karnaval, lomba masak-memasak, lomba pidato, menghias bunga sampai forum-forum publik.

Satu hari ini, 21 April, semua kegiatan dihubungkan dengan perjuangan ibu kita Kartini,–perempuan yang menjadi pahlawan nasional karena dialam penjajahan kolonial Belanda menulis surat tentang emansipasi perempuan dalam perjuangan nasional melawan penindasan.

Sehari kemudian, kehidupan kembali normal. Penindasan terhadap kaum perempuan kembali dilanjutkan dalam berbagai bentuk. Bentuk terburuk adalah kekerasan seksual yang bisa berdampak trauma fisik, mental sampai kematian.

90.000 Kasus Kekerasan Perempuan

Nursyahbani Katjasungkana, advokat, pejuang HAM dan aktivis Gerakan Perempuan di Jakarta, Senin (12/3) sebelumnya melaporkan sepanjang setahun 2017 tercatat setidaknya 173 perempuan Indonesia meninggal akibat kekerasan seksual dan pembunuhan dan kasus kekerasan yang dilaporkan juga meningkat 90.000 kasus. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Apik sebelumnya mencatat kasus kekerasan seksual terhadap perempuan meningkat cukup signifikan dalam dua tahun terakhir. Mereka menghitung setidaknya ada 573 kasus kekerasan seksual pada 2015. Angka ini melonjak menjadi 854 kasus pada 2016.

Dari catatan Bergelora.com, salah satu korban kekerasaan seksual dari jumlah di atas bernama Sinta Melyati. Perempuan cantik yang semula bekerja di sebuah media massa di Bandar Lampung sempat dipaksa untuk melayani nafsu birahi Gubernur Lampung, Ridho Ficardo di sebuah hotel di Bandung tahun lalu.

Sampai hari ini tidak ada yang tahu dimana Sinta Melyati. Rumah orang tuanya di Tanjung Seneng, Kota Bandar Lampung sudah dijual. Tidak ada yang tahu dimana sekarang Sinta berada. Seorang wartawan senior di Bandar Lampung menduga Sinta trauma dan sembunyi disebuah daerah terpencil di belakang pegunungan di Lampung Barat.

“Dirinya trauma. Sinta tidak berani muncul di hadapan publik. Mungkin sudah operasi wajah juga,” kata wartawan itu pada Bergelora.com di Lampung.

Menurutnya ada kemungkinan juga Sinta disembunyikan dan dijaga oleh kaki tangan Gubernur Ridho, agar jauh dari jangkauan media massa dan merugikan posisi Gubernur yang sedang mencalonkan diri kembali jadi orang nomor satu di Lampung.

“Kabarnya Sinta sudah dinikahi secara siri, dan mempunyai seorang anak dari akibat hubungan yang diwarnai kekerasan tersebut. Makanya dia perlu dibungkam,” ujarnya.

Menurutnya, disamping Sinta, istri Ridho juga menjadi korban dari pengkhianatan suaminya. Karena paras cantik,– Aprilani Yustin yang berusia 38 tahun yang menjadi istrinya, tidak cukup bagi pria yang memegang kekuasaan di Provinsi Lampung itu.

“Jangan salah! Ridho juga punya 3 istri dan beberapa selir, diluar  Yustin dan Sinta,” ujar wartawan yang dulu sangat dekat dengan Gubernur yang berusia 40 tahun itu. Wartawan ini tidak mau mengomentari mengapa kasus ini bisa ditutup dan tidak ada lagi media yang melaporkan.

Sebagai pendiri LBH APIK yang mengadvokasi perempuan-perempuan korban-korban kekerasan, Nursyahbani Katjasungkana mengatakan kaum perempuan setiap tahun peringati tiga hari besar perempuan tapi tidak ada kemajuan dalam perjuangan kaum perempuan.

“Nasib perempuan Indonesia makin parah, gubernur saja sudah berani lakukan kekerasan seksual, malah didiamkan” tegasnya.

Menurutnya pemerintahlah yang mempunyai peranan penting dalam penanganan kasus kekerasan perempuan. Untuk itu pemerintah harus mempelopori semua kebijakan dan penerbitan regulasi yang melindungi kaum perempuan.

“Sampai saat ini, penanganan hukum terhadap pelaku kekerasan pada perempuan tidak pernah tuntas, terutama jika dilakukan pada orang yang memilik kekuasaan seperti anggota DPR, bupati atau gubernur,” ujarnya.

Nursyahbani juga menyesali masih ada beberapa orang pejabat publik dan politisi yang lolos dalam pencalonan kepala daerah dalam Pilkada 2018 ini. Menurutnya, keadaan kaum perempuan Indonesia semakin terancam, karena pelaku kekerasan terhadap perempuan sudah sampai pada tingkatan pemegang kekuasaan dan tidak tersentuh hukum.

“Jika calon pemimpin tidak bisa berlaku adil terhadap perempuan, sudah pasti tidak akan berlaku adil pula untuk rakyat. Jika ada calon pemimpin yang melecehkan perempuan maka tidak pantas untuk jadi pemimpin. Jadilah perempuan yang cerdas dalam memilih pemimpin. Jangan pilih mereka!” ujarnya ketika ditanyakan seorang petahana gubernur di Lampung yang pernah melakukan kekerasan seksual, tapi masih berani mencalonkan diri lagi dalam Pilkada 2018 ini.

Kasus Mengendap

Sebelumnya, Komisi III DPR-RI pernah menangani kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh Gubernur Lampung ini. Namun dalam http://www.tribunnews.com/regional/2017/03/01/terkait-laporan-pelecehan-yang-dilakukan-gubernur-lampung-ini-kata-desmon-j-mahesa?page=2 dilaporkan pejabat tersebut tidak datang saat dipanggil oleh Komisi III DPR-RI. 

Setelah itu kasus mengendap, sampai Pilkada Serentak 2018 seperti yang diberitakan  dalam http://lampung.tribunnews.com/2017/04/03/dugaan-pelecehaan-seksual-ridho-ficardo-anti-kimaks-komisi-iii-dpr-hentikan-kasus  (Web Warouw/Salimah)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,593PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru