Jumat, 23 Januari 2026

Indonesia Harus Jadi Pemain Utama di Selat Malaka

Jika Indonesia terlena tak menyadari pentingnya Selat Malaka bagi mesin pertumbuhan ekonomi maka akan semakin tertinggal dengan perekonomian Singapura dan Malaysia, yang terkait erat dengan aktivitas di selat tersebut

Oleh: Arief Poyuono *

SELAT Malaka merupakan alat penting dan aset strategis bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, berfungsi sebagai salah satu jalur pelayaran maritim tersibuk dan terpenting di dunia. Sebagai jalur utama perdagangan global, selat ini menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan, memfasilitasi pergerakan sekitar 30% perdagangan global.

Dengan lebih dari 90.000 kapal yang melintas setiap tahunnya, pelabuhan ini merupakan jalur penting untuk pengiriman energi, termasuk minyak dan gas alam cair (LNG), yang mendukung permintaan global dan sektor energi Indonesia sendiri.

Selat Malaka Sebagai jalur utama perdagangan global (mengangkut sekitar 30% perdagangan global), selat ini memungkinkan Indonesia untuk berpartisipasi secara aktif dalam perdagangan internasional. Selat ini berfungsi sebagai rute utama pengiriman barang, menghubungkan Indonesia ke pasar internasional.

Selat Malaka ini akan meningkatkan potensi ekonomi Sumatra untuk berrumbuh ,dan bertindak sebagai pusat pasar yang potensial untuk pengembangan maritim, industri, dan pariwisata.

Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara di selat Malaka. (Ist)

“Perdagangan barter” skala kecil dan bebas bea di daerah pesisir, memungkinkan penduduk lokal di Sumatra untuk memperoleh barang dan peralatan dasar.

Dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen maka mau tidak mau bagi Pemerintah Indonesia harus memanfaatkan posisi ini melalui proyek-proyek infrastruktur di sekitar selat Malaka sebagai Economic Zone Potential untuk membangun dan mengembangkan Infrastruktur & Investasi serta Kawasan industri pelabuhan transhipment sebagai international hub seperti pengembangan pelabuhan Dumai dan penetapan pelabuhan STS ( ship to ship ) untuk angkutan BBM ,Crude dan LNG di pulau Nipah

Walaupun saat ini terkait pentingnya selat Malaka bagi Indonesia secara historis menghadapi tantangan dalam memanfaatkan sepenuhnya potensi ekonomi selat Malaka yang tertinggal dari negara-negara tetangga dalam mengembangkan infrastruktur dan layanan pelabuhan. Namun, karena itu di upaya-upaya terbaru difokuskan pada peningkatan konektivitas, logistik, dan kawasan industri di sepanjang pantai untuk mengubah lokasi strategis ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih besar untuk menunjang daerah daerah lain di Sumatera

Pelabuhan Peti Kemas Malahayati, Aceh.di Selat Malaka. (Ist)

Bukan tidaklah mungkin pada era Indonesia Emas dengan kelas menengahnya yang berkembang, demografi muda, dan sumber daya yang melimpah di Indonesia merupakan modal yang sangat besar untuk kita bisa menjadi pemain utama di Selat Malaka

Apalagi saat ini sebagai anggota baru blok BRICS yang terdiri dari negara-negara berkembang, RRC, Rusia dan lainnya,– Indonesia dapat menawarkan alternatif yang stabil bagi keberlangsungan kepentingan jalur Transportasi di selat Malaka pada Tiongkok, dengan strategu tarif rendah

Apalagi Pada KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik di Peru November lalu, Presiden Indonesia , Prabowo Subianto pada Oktober lalu, menekankan jaminan pada investasi asing yang akan dilindungi oleh kerangka hukum yang solid, dan menyoroti insentif serta komitmen untuk meliberalisasi hukum kepemilikan.

Berubahnya transisi perdagangan global ke era baru yang ditandai oleh penataan ulang rantai pasokan, persaingan sumber daya, dan pergeseran aliansi geopolitik, titik-titik rawan maritim sedang ditinjau kembali melalui lensa konektivitas. Selat Malaka, yang sering disebut sebagai “tenggorokan Jalur Sutra maritim,” tetap menjadi pusat logistik global.

Membentang sepanjang 800 kilometer antara Semenanjung Malaya dan pulau Sumatera di Indonesia, jalur air yang sempit namun vital ini merupakan landasan perdagangan maritim global. Di sinilah interaksi material baru, pasar yang berkembang, dan geopolitik dinamis bertemu, membentuk kembali kontur konektivitas di Indo-Pasifik dan sekitarnya.

Karena itu, untuk mengatasi kompleksitas material baru, pasar baru, dan politik baru, kerja sama regional, inovasi infrastruktur, Industri dan tata kelola adaptif Selat Malaka akan menjadi sangat penting bagi Indonesia jika ingin menjadi pemain utama di Selat Malaka

Jika Indonesia terlena tak menyadari pentingnya Selat Malaka bagi mesin pertumbuhan ekonomi maka akan semakin tertinggal dengan perekonomian Singapura dan Malaysia, yang terkait erat dengan aktivitas di selat tersebut.

Singapura, yang memiliki pelabuhan tersibuk kedua di dunia, telah bertransformasi menjadi pusat maritim dan logistik global.

Malaysia, dengan pelabuhan seperti Port Klang dan Tanjung Pelepas, telah menjadi pusat transshipment utama. Indonesia sedang menjadi penonton saja di Selat Malaka saat ini

——————–

*Arief Poyuono, Komisaris Pelindo, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu 

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru