Kamis, 29 Oktober 2026

JANGAN TERLAMBAT..! Zeth Warouw: Saatnya Hukuman Mati Perangi Koruptor

JAKARTA- Musuh terbesar saat ini bagi bangsa Indonesia adalah korupsi yang menggurita menghambay roda pembangunan yang menjadi agenda besar Presiden Prabowo Subianto. Hal ini disampaikan pengamat hukum, Zeth Kobar Warouw kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (29/10).

“Sebagus apapun, sekuat apapun rencana Presiden Prabowo untuk Indonesia kalau tidak berhasil memberantas korupsi, maka akan sulit maju menuju Indonesia emas. Semuancara sudah dicoba. Tinggal hukuman mati yang belum dilaksanakan. Padahal ada dalam undang-undan,” ujar Zeth Warouw.

Zeth Warouw menegaskan, saatnya hukuman mati diterapkan di Indonesia terhadap para koruptor baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Karena hanya kematian yang bikin para pejabat takut atau setidaknya enggan melakukan korupsi.

“Hukuman mati pada beberapa dari puluhan koruptor paling kakap yang sedang proses akan memberikan efek kejut dan menakutkan baik pada pejabat dan keluarganya. Istri dan anak yang biasa minta barang mewah dan jalan-jalan keluar negeri otomatis akan berhenti merengek, karena bayangan hukuman mati ada disetiap keluarga pejabat yang hidupnya glamour,” tegasnya.

Menurutnya, para koruptor yang belum ketahuan akan memilih mengembalikan uang jarahannya. Keluarganya pasti gemetaran mengingat ancaman hukuman mati kalau sampai ketahuan. Seruan Presiden Prabowo agar para koruptor mengembalikan uang negara pasti akan bermanfaat.

“Percuma kalau hukuman mati tidak diterapkan, malahan seruan Presiden Prabowo jadi tertawaan para keluarga koruptor dan jadi pompa kebencian anti pemerintah,” ujarnya.

“Hukuman mati juga akan menghapus penjara buat koruptor yang selama ini melahirkan korupsi berupa pungli dan pemerasan di penjara,” Sambungnya.

Hukuman mati menurut Zeth Warouw juga otomatis akan mendidik keluarga dan masyarakat tentang bahaya korupsi. Koruptor yang dihukum mati akan memberikan sanksi sosial kepada keluarga setidaknya pada 3 generasi dibawah dan 3 generasi ke atas dan seluruh keluarga besar. Ini akan efektif dan cepat terjadi peningkatan kesadaran tentang bahaya korupsi, lebih berbahaya ketimbang tersengat listrik, karena seluruh keluarga besar akan ikut ‘mati’ oleh sanksi sosial.

“Seluruh keluarga besar otomatis kesulitan mendapatkan pekerjaan, akan kesulitan mendapatkan sekolah bahkan kesulitan mendapat tempat tinggal karena ditolak masyarakat,” paparnya.

Sehingga menurutnya penegakan hukum tidak membutuhkan program sosialisasi anti korupsi miliaran yang selama ini sia-sia.

“Baru satu sampai 5 orang koruptor saja yang dihukum mati secara bergiliran dan mendapatkan publikasi luas, pasti akan membuat semua pejabat dari tingkat desa sampai nasional takut untuk mengentit serupiah pun,” ujarnya.

𝗣𝗿𝗼-𝗸𝗼𝗻𝘁𝗿𝗮 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘁𝗶

Zeth Warouw menyoti pro kontra yang tidak berujung dari hukuman mati, sementara koruptor menari-nari di atas uang rakyat banyak yang dikorup dan penderitaan rakyat karena kemiskinan.

“Penolakan hukuman mati atas nama HAM seorang koruptor sudah absurd karena jutaan rakyat yang gak bisa keluar dari lubang kemiskinan beranak pinak karena negara membiarkan duit rakyat dirampok koruptor,” ujarnya.

Zeth Warouw mengatakan, hukuman mati dipertentang dengan Sila Ketuhanan dan Sila Prikemanusian dalam Pancasila secara semena-mena atas nama agama dan kemanusiaan.

“Tapi mereka menutup mata pada jutaan orang yang menjadi korban generasi ke generasi akibat korupsi merajalela,” tegasnya.

“Agama dan kemanusiaan macam apa yang tidak bisa membela satu orang koruptor dan membiarkan jutaan orang miskin? Tuhan yang mana yang membela nyawa koruptor? Jangan bilang nyawa koruptor ada ditangan Tuhan demi melanggengkan penderitaan jutaan orang miskin,” tegasnya.

Oleh karennya menurutnya Presiden Prabowo harus berani mengakhiri pro-kontra dengan mengeluarkan instruksi hukuman mati pada koruptor, agar tidak menunggu DPR, aktivis HAM dan ahli hukum yang selalu menghambatnya.

“Seluruh rakyat pasti mendukung. Yang gak dukung hanya antek koruptor. Karena negara sudah dalam keadaan darurat, dibutuhkan kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan sebelum kita semua tenggelam karena kapal Republik Indonesia dibobol koruptor,” tegasnya.

“Mumpung presiden kita Jenderal Prabowo yang punya cita-cita mempercepat menuju.masyarakat Indonesia adil makmur. Tanpa perintah hukuman mati dari presiden. Semua cuma impian kosong,” tegas Zeth Warouw (Calvin G. Eben-Haezer)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles