JAKARTA- Rencana kedatangan Presiden Rusia, Vladimir Putin ke Indonesia, rupanya mengkuatirkan pihak Amerika Serikat. Nampaknya rencana Rusia untuk barter pesawat Sukhoi buatan Rusia dengan hasil bumi Indonesia ditengarai akan melepas ketergantungan Indonesia pada F-16 buatan Amerika. Pengamat militer Connie Rahakundini menghitung kemungkinan Amerika akan menjatuhkan embargo militer kembali pada Indonesia.
Connie bahkan menghitung kemungkinan sanksi berupa embargo militer akan datang dalam waktu dekat.
“Kalau menurut saya, Maret besok (embargo akan dilakukan-red). Itu makanya kemarin Mattis (James, menteri Pertahanan AS) ke sini,” kata Connie kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (25/1).
Rencana embargo tersebut menurut Connie kemungkinan itu semakin kuat dengan kabar kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia untuk menandatangani kerja sama kemitraan strategis, di bulan yang sama (Maret).
Amerika Serikat shock mennurutnya saat mendegar pesawat pengebom Rusia Tupolev TU-95 mendarat di Pangkalan Udara Biak. Peristiwa ini merebut perhatian Amerika karena pesawat tersebut sama kelasnya dengan B-52 milik Amerika.
“Dalam kasus Crimea, Amerika telah mengancam embargo bagi setiap negara yang bekerjasama dengan Rusia. Bisa saja ini menjadi dasar Indonesia bisa terkena Embargo juga karena berhubungan bahkan mengadakan perjanjian barter dengan Rusia,” jelasnya.
Dimasa Orde Baru di tahun 1995, Amerika pernah melakukan embargo militer pada Indonesia, dengan alasan pelanggaran HAM di Timnor Leste dalam kasus santa Cruz, 2 November 1991.
Connie Rahakundini mengingatkan dampak embargo bisa menimpa setengah lusin F-16 Fighting Falcon, sejumlah armada F-5 Tiger, sampai pesawat angkut militer C-130 Hercules yang seluruhnya buatan AS. Lebih parah lagi, beberapa pesawat Hawk 109/209 buatan Inggris–sekutu AS–yang dimiliki TNI juga ikut terkena dampak embargo. Sehingga membuat banyak pesawat militer RI tak bisa diterbangkan sekalipun kondisinya baik, bahkan tergolong baru. Alhasil sia-sia saja memiliki armada tempur jika banyak yang tak bisa digunakan untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia.
Connie mengatakan hal itu bisa kembali terjadi dan membuat kerja sama alutsista dengan Amerika Serikat tidak terhindarkan karena Indonesia baru saja membeli pesawat F-16 dari AS. Jika terkena embargo, maka armada Angkatan Udara Indonesia rugi besar karena puluhan pesawat itu terancam mangkrak atau grounded.
Masalahnya, Indonesia saat ini tidak mempunyai anggaran pertahanan yang cukup untuk beralih begitu saja kepada negara lain, kata Connie.
“Bisa saja Indonesia beralih ke Rusia, China. Masalahnya, kita punya uang berapa? Saat F-16 itu grounded mati sudah. Kalau kita punya 10 mobil di garasi, tiga mogok gak masalah. Tapi jangan sampai cuma punya tiga, tiga-tiganya mati. Kondisi kita sedang tidak prima,” katanya.
Di balik isu ini, Connie menyoroti ada masalah di jajaran pemerintahan Indonesia. Menurutnya, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan tidak terintegrasi dengan baik sehingga RI kembali terancam embargo. Mestinya Kemlu kasi tahu Kemhan (soal keadaan politik internasional). Di saat yang sama, Kemlu juga akan menandatangani strategic partnership dengan Rusia.
“Saya tidak akan bilang Kemlu lalai. Tapi ini tidak terintegrasi antara Kemlu dan Kemhan. Mana mungkin pesawat bomber masuk Kemlu tidak tahu.,” katanya.
Dia mengatakan kebijakan pertahanan semestinya sejalan dengan politik luar negeri. Di negara-negara lain, menurutnya, hal tersebut sudah dapat dipastikan.
Selain integrasi lebih baik antar-kementerian terkait, Connie berharap Indonesia menjelaskan posisinya dengan Rusia kepada Amerika Serikat agar tidak terkena embargo.
Menurutnya, jika punya argumentasi kuat, pemerintah bisa menjelaskan bahwa RI tidak berniat menentang Amerika meski bekerja sama dengan Rusia.
“Integrasikan dan sampaikan. Jangan sampai didikte, tapi kita harus hormati karena ada kebijakan kita juga yang mereka hormati. Indonesia mesti punya bargaining position (posisi tawar),– misalnya soal Kopassus, embargo, kalau mau berhenti dari Rusia, AS punya apa untuk mewujudkan angkatan udara dan laut kita yang kuat,” kata Connie.
Kunjungan Kehormatan
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) James Mattis dapat menjadi momentum untuk mewujudkan kemitraan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat.
“Saya harap kunjungan Yang Mulia menjadi momentum penting untuk mewujudkan Strategic Partnership Indonesia-Amerika Serikat demi mengatasi berbagai permasalahan regional dan global,” kata Presiden Jokowi saat menerima kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan AS James Mattis, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (23/1) siang.
Menurut Presiden, Amerika Serikat merupakan mitra penting teknologi pertahanan Indonesia. Karena itu, ia menekankan pentingnya kerja sama antar kedua negara di bidang produksi alat pertahanan.
“Kemitraan ini harus dibarengi kerja sama alih teknologi, dan jika memungkinkan produksi bersama atau joint production,” ujar Presiden.
Sementara itu Menteri Pertahanan AS James Mattis menyambut baik upaya Indonesia untuk meningkatkan kerja sama kedua negara.
“Kami juga mendukung penuh peranan Indonesia di kawasan,” ucapnya.
Mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan tersebut antara lain Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir. (Web Warouw)

