BANDAR LAMPUNG – Lampung adalah salah satu provinsi yang terbanyak mengirimkan tenaga kerja keluar termasuk ke luar negeri menjadi TKI. Hal ini disebabkan oleh rendahnya Upah Minimum Provinsi Lampung hanya Rp 2,074,000.
“Karena upah minimum yang rendah maka, masyarakat Lampung memilih mencari pekerjaan ke luar Lampung, salah satunya ke luar negeri,” demikian Diah Dharma Yanti, SH, aktivis perempuan Lampung dan advokat kepada Pers, Senin (29/1)
Menurutnya selama ini Provinsi Bandar Lampung belum berhasil menumbuhkan industri sehingga penyerapan tenaga kerja lokal tidak terjadi, sehingga upah tenaga kerja rendah.
“Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat Lampung dari desa-desa mencari pekerjaan di luar Lampung, berharap upah lebih baik, dari pada bekerja dengan upah rendah di Lampung,” katanya.
Mantan anggota pelopor gerakan perempuan Tjut Nyak Dien ini juga menjelaskan, upah untuk menjadi pembantu rumah tangga juga rendah hanya Rp 1,000,000, sehingga lebih banyak perempuan desa dari Provinsi Lampung memilih menjadi pembantu rumah tangga di luar Lampung.
“Perempuan-perempuan desa ini lah yang dikumpulkan secara ilegal oleh para calo tenaga kerja. Dengan modal KTP dan setoran uang, perempuan desa berharap menjadi pekerja di tempat lain termasuk keluar negeri,” ujarnya.
Agen-agen tenaga kerja menurutnya sering kali lepas tanggung jawab dan menterlantarkan para pekerja asal Lampung, terutama yang sudah di luar negeri.
“Banyak kasus TKI asal lampung menghadapi kekerasan majikan, paspor ditahan atau berbagai masalah lainnya, karena diabaikan perusahan agensi,” ujarnya.
TKI Lampung Ingin Pulang
Kepada Bergelora.com dilaporkan sebelumnya kembali viral di media sosial pengakuan seorang wanita asal Indonesia bernama Marhayati (29) yang menangis berharap minta pulang ke daerah asalnya yakni Rawajitu, Mesuji, Lampung.
Didalam video pengakuannya tersebut, ia mengaku sudah 14 tahunan merantau ke negeri tetangga sebagai tenaga kerja wanita (TKW).
Diusia ke-15 tahun ia pergi ke Malaysia untuk bekerja. Namun tanpa sengaja ia mengatakan paspornya tiba-tiba hilang. Sehingga ia tidak bisa pulang kampung. Namun ia mengaku saat ini tengah berada di Thailand.
Wanita berhijab tersebut menangis memohon bantuan sejumlah pihak untuk dapat membantunya dapat kembali ke Indonesia. Ia mengaku nama ayahnya Marijo berasal dari Jawa Tengah dan ibunya bernama Munaroh yang berasal dari Mesuji.
Pengakuannya ini dibagikan oleh akun @Kodri Saleh. Usia diunggah 9 jam yang lalu, video ini sudah 784 Kali Dibagikan dan 134.656 Tayangan.
“Assalamualaikum, Perkenalkan nama saya Marhayati, umur 29 tahun. Saya orang indonesia asli, dulu 14an tahun yang lalu tinggal di rawa jitu mesuji lampung. Umur 15 tahun saya pergi ke Malaysia untuk bekerja dan sampai saya sekarang ada di thailand. Pasport saya hilang waktu di malaysia sy ingin sekali bertemu dengan keluarga saya yang di mesuji lampung. Nama ayah saya marijo asal jawa tengah, ibu saya siti munaroh asal mesuji, dua adik saya Marriana dan lia ermawati. Yang saya ingat nama kampung saya rawa jitu mesuji. Dekat rumah ada proyek singkong dan SD. Mohon bantuan bapak ibu saudara skmemalian yang bisa mempertemukan keluarga besar saya di mesuji lampung. Hubungin wa. 08995002588 atau 0895326308440. Fb: marhayati Abdullah Saat,” ujarnya.
Bersamaan dengan video pengakuan TKW tersebut, seorang mahasiswa Indonesia asal Thailand juga membuat pengakuan yang membenarkan pengakuan TKW ini.
Mahasiswa bernama Hafizi Abdurrahman tersebut mengaku menemui Marhayati saat ia pulang kampung ke Thailand.
Ia mengaku saat ini tengah berada di Malaysia untuk mencari informasi agar TKW tersebut dapat dibawa pulang.
“Assalamualaikum Wr WB . Nama saya Hafizi Abdurrahman, asal saya Narathiwat Thailand Selatan kuliahnya di Indonesia yaitu di Lampung. Jadi seminggu kemarin saya pulang karena libur karena di Thailand, saya ketemu salah satu orang Indonesia yang ada di Naratiwat. Dia bilang dia umur 29 tahun dan dia waktu 14 tahun ke Malaysia dan paspornya di Malaysia sekarang tidak punya KTP dan paspornya. Dia hanya ingat nama orang tuanya dan kedua adiknya. saya nanya alamatnya dimana dia tidak ingat hanya di Mesuji. jadi saya bantu share supaya dia ketemu dengan keluarganya,”ujarnya. (Salimah/Web Warouw)
Upah Minimum Hanya Rp 2 Juta, Perempuan Desa Di Lampung Pilih Jadi TKI
BANDAR LAMPUNG – Lampung adalah salah satu provinsi yang terbanyak mengirimkan tenaga kerja keluar termasuk ke luar negeri menjadi TKI. Hal ini disebabkan oleh rendahnya Upah Minimum Provinsi Lampung hanya Rp 2,074,000.
“Karena upah minimum yang rendah maka, masyarakat Lampung memilih mencari pekerjaan ke luar Lampung, salah satunya ke luar negeri,” demikian Diah Dharma Yanti, SH, aktivis perempuan Lampung dan advokat kepada Pers, Senin (29/1)
Menurutnya selama ini Provinsi Bandar Lampung belum berhasil menumbuhkan industri sehingga penyerapan tenaga kerja lokal tidak terjadi, sehingga upah tenaga kerja rendah.
“Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat Lampung dari desa-desa mencari pekerjaan di luar Lampung, berharap upah lebih baik, dari pada bekerja dengan upah rendah di Lampung,” katanya.
Mantan anggota pelopor gerakan perempuan Tjut Nyak Dien ini juga menjelaskan, upah untuk menjadi pembantu rumah tangga juga rendah hanya Rp 1,000,000, sehingga lebih banyak perempuan desa dari Provinsi Lampung memilih menjadi pembantu rumah tangga di luar Lampung.
“Perempuan-perempuan desa ini lah yang dikumpulkan secara ilegal oleh para calo tenaga kerja. Dengan modal KTP dan setoran uang, perempuan desa berharap menjadi pekerja di tempat lain termasuk keluar negeri,” ujarnya.
Agen-agen tenaga kerja menurutnya sering kali lepas tanggung jawab dan menterlantarkan para pekerja asal Lampung, terutama yang sudah di luar negeri.
“Banyak kasus TKI asal lampung menghadapi kekerasan majikan, paspor ditahan atau berbagai masalah lainnya, karena diabaikan perusahan agensi,” ujarnya.
TKI Lampung Ingin Pulang
Kepada Bergelora.com dilaporkan sebelumnya kembali viral di media sosial pengakuan seorang wanita asal Indonesia bernama Marhayati (29) yang menangis berharap minta pulang ke daerah asalnya yakni Rawajitu, Mesuji, Lampung.
Didalam video pengakuannya tersebut, ia mengaku sudah 14 tahunan merantau ke negeri tetangga sebagai tenaga kerja wanita (TKW).
Diusia ke-15 tahun ia pergi ke Malaysia untuk bekerja. Namun tanpa sengaja ia mengatakan paspornya tiba-tiba hilang. Sehingga ia tidak bisa pulang kampung. Namun ia mengaku saat ini tengah berada di Thailand.
Wanita berhijab tersebut menangis memohon bantuan sejumlah pihak untuk dapat membantunya dapat kembali ke Indonesia. Ia mengaku nama ayahnya Marijo berasal dari Jawa Tengah dan ibunya bernama Munaroh yang berasal dari Mesuji.
Pengakuannya ini dibagikan oleh akun @Kodri Saleh. Usia diunggah 9 jam yang lalu, video ini sudah 784 Kali Dibagikan dan 134.656 Tayangan.
“Assalamualaikum, Perkenalkan nama saya Marhayati, umur 29 tahun. Saya orang indonesia asli, dulu 14an tahun yang lalu tinggal di rawa jitu mesuji lampung. Umur 15 tahun saya pergi ke Malaysia untuk bekerja dan sampai saya sekarang ada di thailand. Pasport saya hilang waktu di malaysia sy ingin sekali bertemu dengan keluarga saya yang di mesuji lampung. Nama ayah saya marijo asal jawa tengah, ibu saya siti munaroh asal mesuji, dua adik saya Marriana dan lia ermawati. Yang saya ingat nama kampung saya rawa jitu mesuji. Dekat rumah ada proyek singkong dan SD. Mohon bantuan bapak ibu saudara skmemalian yang bisa mempertemukan keluarga besar saya di mesuji lampung. Hubungin wa. 08995002588 atau 0895326308440. Fb: marhayati Abdullah Saat,” ujarnya.
Bersamaan dengan video pengakuan TKW tersebut, seorang mahasiswa Indonesia asal Thailand juga membuat pengakuan yang membenarkan pengakuan TKW ini.
Mahasiswa bernama Hafizi Abdurrahman tersebut mengaku menemui Marhayati saat ia pulang kampung ke Thailand.
Ia mengaku saat ini tengah berada di Malaysia untuk mencari informasi agar TKW tersebut dapat dibawa pulang.
“Assalamualaikum Wr WB . Nama saya Hafizi Abdurrahman, asal saya Narathiwat Thailand Selatan kuliahnya di Indonesia yaitu di Lampung. Jadi seminggu kemarin saya pulang karena libur karena di Thailand, saya ketemu salah satu orang Indonesia yang ada di Naratiwat. Dia bilang dia umur 29 tahun dan dia waktu 14 tahun ke Malaysia dan paspornya di Malaysia sekarang tidak punya KTP dan paspornya. Dia hanya ingat nama orang tuanya dan kedua adiknya. saya nanya alamatnya dimana dia tidak ingat hanya di Mesuji. jadi saya bantu share supaya dia ketemu dengan keluarganya,”ujarnya. (Salimah/Web Warouw)

