JAKARTA – Segera! Indonesia butuh duta-duta besar seperti Helmy Fauzy yang tidak hanya duduk dibelakang meja dan menikmati keistimewaan hidup di luar negeri bersama keluarga. Tugas duta besar saat ini adalah menjadi sales mempromosikan dan meningkatkan ekspor produk dalam negeri, disamping menarik sebesar-besarnya investasi dan tourisme datang ke Indonesia.
Ruangan berbentuk segi panjang di Warung Daun Cikini itu riuh rendah, Minggu (15/10) malam. Helmy Fauzy, si empunya acara itu bertemu dengan berbagai kalangan masyarakat dan awak media di tanah air.
Helmy saat ini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) di Kairo, Mesir. Acara malam itu ia gunakan sebagai temu kangen dan berbagi pengalaman maupun cerita tentang Mesir.
“Selama ini kita hanya bertemu di grup WA (Whats App). Sekarang ini kita memiliki kesempatan untuk bertemu langsung,” kata Helmy beramah tamah. Semuanya tampak santai. Tak ada nuansa kikuk atau kaku. Malah sering terdengar gelak tawa.
Helmy memang punya banyak pengalaman di bidang politik, sehingga tak kaku berbincang dengan siapa saja. Ia pernah malang melintang di dunia aktivis hingga reformasi 1998 datang, membuat penguasa diktator Soeharto tumbang.
Sebagai bagian dari gerakan anti kediktaktoran Orde Baru, di dunia internasional Helmy Fauzy juga dikenal aktif membantu penyelesaiaan konflik di Timor Timur (Sekarang Timor Leste) bersama kawan-kawan lainnya.
Tumbangnya Soeharto tersebut membuat Harian Umum Sore Sinar Harapan yang pernah diberedel pada masa orde baru (orba) terbit kembali pada 2001.
Helmy menjadi bagian dari Sinar Harapan dengan tugas sebagai Redaktur Opini. Ia juga dipercaya menjadi Redaktur Internasional. Belakangan, darah politiknya yang kental dan kedekatannya dengan suami Megawati, Taufik Kiemas mengantarkannya memenangi pemilihan legislatif (pileg) tahun 2009.
Oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), ia ditempatkan di Komisi I DPR RI. Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah memenangi pertarungan pemilihan presiden (pilpres) mempercayakan Helmy untuk menjadi Dubes RI di Mesir.
Saat berbagi pengalaman malam itu, ia bercerita banyak tentang pengalamannya hampir dua tahun menjadi duta besar. Mesir, baginya, adalah sebuah negeri yang penuh harapan bagi perdagangan Indonesia. “Terutama kopi. Pasar kopi kita di Mesir sangat besar,” ujarnya.
Selain kopi, produk-produk yang banyak diperdagangkan di Mesir adalah palm oil, benang, ban, karet, maupun rempah-rempah. Hanya saja, ia punya catatan khusus terkait kopi. Kopi-kopi di Mesir umumnya diekspor oleh pebisnis besar.
“Seandainya ada koperasi bagi para petani-petani itu, akan lebih baik, Kesejahteraan mereka akan naik karena permintaan kopi di Mesir sangat besar,” katanya.
Ia menceritakan pengalaman negosiasi antara pengusaha Mesir dan petani kopi Indonesia.
“Pengusaha Mesir ini sudah deal dengan US$ 30 juta. Tapi dia minta apakah bisa dikirim 50 kontainer setiap bulannya. Nah, di situ mereka tidak bisa. Akhirnya pilihan jatuh ke pengepul besar lagi. Para petani ini bisanya hanya yang sekali kerjaan saja. Ini kan sayang. Seandainya ada koperasi bisa lebih baik,” ia memaparkan.
Helmy mengatakan, selama menjadi Dubes, ia lebih banyak door to door mempromosikan dan menjual produk-produk asal Indonesia. Ia mem-branding Indonesia sedemikian rupa, supaya stake holder di Mesir tertarik kepada Indonesia.
Bagi Helmy, zaman yang berubah mengharuskan duta besar kreatif, menjadi layaknya Salesman.
“Diplomasi tidak bisa lagi seperti dulu. Kita sekarang harus aktif menawarkan diri seperti salesman. Kita harus membangun branding Indonesia yang lebih bagus supaya laku,” ujarnya.
Acara ramah tamah itu selesai tepat pukul 21.00 WIB. Helmy membagikan papyrus berhiaskan gambar-gambar budaya Mesir pada mereka yang hadir. Mesir, kata Helmy, adalah negeri yang bukan seperti kita bayangkan, tertutup, dimana setiap wanita harus mengenakan jilbab. Masyarakat mereka sangat menghargai perbedaan.
“Bahkan ketika rombongan wantimpres datang semuanya pakai kerudung ditanya oleh mereka. Kenapa kalian harus pakai kerudung?. Kita ada salah pandangan tentang mereka. Ini yang tidak kita ketahui tentang mereka dan kita perlu tahu,” katanya.
Kepada Bergelora.com, Amir Syarifuddin, Staff Kantor Atase Perdagangan, KBRI di Kairo menjelaskan, dibawah Duta Besar Helmy Fauzy ada kenaikan signifikan dalam nilai ekspor di Mesir.
“Ini terjadi disemua produk ekspor. Total nilai surplus untuk Indonesia terakhir mencapai lebih dari 400 juta Dollar Amerika,” jelasnya.
Menurutnya 3 produk unggulan Indonesia di Mesir adalah Ban, Kopi dan kelapa sawit.
“Kopi Indonesia sangat disukai di seluruh Mesir. Kita menguasai disana. Kebanyakan dari Jawa, Toraja dan Bali,” katanya.
Menurutnya masih terbuka peluang untuk ekspor kopi dari berbagai daerah lain di Indonesia.
“Kita harus lebih tingkatkan lagi ekspor kita ke Mesir. Mesir telah membuka ekspor berbagai produk lainnya,” katanya. (Web Warouw/Tutut Herlina)

