JAKARTA- Penetrasi ISIS ke dalam kawasan Asia Tenggara serta meningkatnya radikalisme agama dan tindakan-tindakan persekusi atas nama agama dibarengi dengan pembungkaman dan represi terhadap kebebasan berekspresi di Indonesia dan negara-negara lain di kawasan menjadi pokok bahasan utama Festival Sastra ASEAN (ASEAN Literary Festival) yang ke- 4 tahun ini.
Di bawah tema besar “Our Crazy World” (Dunia Kita yang Gila), ALF 2017 yang akan diselenggarakan di Kota Tua Jakarta pada tanggal 3-6 Agustus ini menghadirkan diskusi yang membahas tentang trend meningkatnya radikalisme dan terorisme dan kecenderungan politik populisme sekarang ini yang telah memenangkan Donald Trump di Amerika Serikat.
Di bawah tema besar ini juga, diskusi mempertanyakan perlu tidaknya kita mempertahankan undang undang penistaan agama yang cenderung menghamtam kebebasan berekspresi dengan melihat kejadian-kejadian akhir-akhir ini di Indonesia dan negara lain di ASEAN.
Festival ini juga menampilkan diskusi tentang arus deras persekusi atas nama agama dan kepentingan politik dengan judul “Persecution Stories” serta makin menguatnya peredaran berita-berita palsu (hoax) dan pidato-pidato kebencian (hate speech) untuk menghasut masyarakat supaya saling bermusuhan

“Kami mengangkat tema-tema ini untuk didiskusikan oleh para penulis, sastrawan dan intelektual ASEAN karena kami yakin ini adalah masalah-masalah mendesak di kawasan yang harus dibicarakan serta dicarikan jalan keluar,” kata novelis Okky Madasari, pendiri sekaligus direktur program festival ini.
“Kita tidak bisa mendiamkan masalah-masalah ini karena bahayanya terhadap kelangsungan demokrasi dan kebebasan berfikir dan bertindak di Indonesia dan kawasan sangat jelas. Kami yakin sastrawan harus bersuara dan punya peran besar membantu mecari jalan keluar,’ tambahnya.
Diskusi-diskusi ini akan menghadirkan pembicara-pembicara terkemuka dan berpengaruh di kawasan dari ahli Asia Tenggara Michael Vatikiotis, Azhar Ibrahim dari National University Singapore sampai novelis Faisal Tehrani yang bukunya diberangus di Malaysia. Sastrawan kawakan Indonesia Arswendo Atmowiloto juga akan tampil meenceritakan pengalamannya dipenjara karena dianggap menghina agama. Sementara Martin Aleida juga akan berbicara tentang persekusi terhadap dirinya dan Han Zaw dari Myanmar akan menyampaikan masalah Rohingya di negerinya.
Berhubungan dengan masalah di atas, Nasir Tamara, cendikiawan dan jurnalis senior, akan menceritakan pengalamannya meliput Revolusi Iran dan satu pesawat dengan Ayatullah Khomeini serta pandangannya tentang perpecahan dan konflik dunia Islam sekarang yang banyak disebut sebagai akar meningkatnya radikalisme.

Masalah kebebasan berekspresi dan kemajuan teknologi dan pengaruh sosial media juga menjadi bahasan penting dalam festival kali ini. Penulis pemenang banyak penghargaan Andrew Fowler akan tampil menceritakan tentang Wikileaks dan bagaimana usaha-usaha mengbumkan media dan wartawan dan diskusi yang berjudul “Shooting the Messenger.”
Festival kali ini juga diselenggarakan juga untuk merayakan 50 tahun lahirnya ASEAN. “Ini adalah waktu yang tepat untuk melihat kembali pencapaian ASEAN dan bagaimana masa depan asosiasi ini 50 tahun ke depan serta bagaimana budaya dan sastra dapat menjadi perekat penduduk di kawasan untuk menjadi suatu masyarakat yang genuine,” kata Okky.
Sebagai festival sastra, ajang ini juga bertujuan memberi ruang bagi peningkatan sastra Indonesia dan ASEAN dan memberi platform bagi penulis untuk memperkenalkan karya mereka ke dunia internasional.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, selain diskusi-diskusi tersebut, untuk pertamakalinya ALF memberi ruang bagi anak sekolah berpartisipasi secara aktif dalam festival sastra ini dengan program “Jambore Nasional Sastra.” Acara ini khusus untuk anak sekolah dari SD sampai SMA dengan tujuan memperkenalkan mereka dengan sastra dan melatih mereka mencintai membaca dan menulis di tengah derasnya godaan sosial media, game dan gadget canggih. (Kanya E. Graciella)
Sastrawan ASEAN Bahas Masalah Mendesak Kawasan
JAKARTA- Penetrasi ISIS ke dalam kawasan Asia Tenggara serta meningkatnya radikalisme agama dan tindakan-tindakan persekusi atas nama agama dibarengi dengan pembungkaman dan represi terhadap kebebasan berekspresi di Indonesia dan negara-negara lain di kawasan menjadi pokok bahasan utama Festival Sastra ASEAN (ASEAN Literary Festival) yang ke- 4 tahun ini.
Di bawah tema besar “Our Crazy World” (Dunia Kita yang Gila), ALF 2017 yang akan diselenggarakan di Kota Tua Jakarta pada tanggal 3-6 Agustus ini menghadirkan diskusi yang membahas tentang trend meningkatnya radikalisme dan terorisme dan kecenderungan politik populisme sekarang ini yang telah memenangkan Donald Trump di Amerika Serikat.
Di bawah tema besar ini juga, diskusi mempertanyakan perlu tidaknya kita mempertahankan undang undang penistaan agama yang cenderung menghamtam kebebasan berekspresi dengan melihat kejadian-kejadian akhir-akhir ini di Indonesia dan negara lain di ASEAN.
Festival ini juga menampilkan diskusi tentang arus deras persekusi atas nama agama dan kepentingan politik dengan judul “Persecution Stories” serta makin menguatnya peredaran berita-berita palsu (hoax) dan pidato-pidato kebencian (hate speech) untuk menghasut masyarakat supaya saling bermusuhan
“Kami mengangkat tema-tema ini untuk didiskusikan oleh para penulis, sastrawan dan intelektual ASEAN karena kami yakin ini adalah masalah-masalah mendesak di kawasan yang harus dibicarakan serta dicarikan jalan keluar,” kata novelis Okky Madasari, pendiri sekaligus direktur program festival ini.
“Kita tidak bisa mendiamkan masalah-masalah ini karena bahayanya terhadap kelangsungan demokrasi dan kebebasan berfikir dan bertindak di Indonesia dan kawasan sangat jelas. Kami yakin sastrawan harus bersuara dan punya peran besar membantu mecari jalan keluar,’ tambahnya.
Diskusi-diskusi ini akan menghadirkan pembicara-pembicara terkemuka dan berpengaruh di kawasan dari ahli Asia Tenggara Michael Vatikiotis, Azhar Ibrahim dari National University Singapore sampai novelis Faisal Tehrani yang bukunya diberangus di Malaysia. Sastrawan kawakan Indonesia Arswendo Atmowiloto juga akan tampil meenceritakan pengalamannya dipenjara karena dianggap menghina agama. Sementara Martin Aleida juga akan berbicara tentang persekusi terhadap dirinya dan Han Zaw dari Myanmar akan menyampaikan masalah Rohingya di negerinya.
Berhubungan dengan masalah di atas, Nasir Tamara, cendikiawan dan jurnalis senior, akan menceritakan pengalamannya meliput Revolusi Iran dan satu pesawat dengan Ayatullah Khomeini serta pandangannya tentang perpecahan dan konflik dunia Islam sekarang yang banyak disebut sebagai akar meningkatnya radikalisme.
Masalah kebebasan berekspresi dan kemajuan teknologi dan pengaruh sosial media juga menjadi bahasan penting dalam festival kali ini. Penulis pemenang banyak penghargaan Andrew Fowler akan tampil menceritakan tentang Wikileaks dan bagaimana usaha-usaha mengbumkan media dan wartawan dan diskusi yang berjudul “Shooting the Messenger.”
Festival kali ini juga diselenggarakan juga untuk merayakan 50 tahun lahirnya ASEAN. “Ini adalah waktu yang tepat untuk melihat kembali pencapaian ASEAN dan bagaimana masa depan asosiasi ini 50 tahun ke depan serta bagaimana budaya dan sastra dapat menjadi perekat penduduk di kawasan untuk menjadi suatu masyarakat yang genuine,” kata Okky.
Sebagai festival sastra, ajang ini juga bertujuan memberi ruang bagi peningkatan sastra Indonesia dan ASEAN dan memberi platform bagi penulis untuk memperkenalkan karya mereka ke dunia internasional.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, selain diskusi-diskusi tersebut, untuk pertamakalinya ALF memberi ruang bagi anak sekolah berpartisipasi secara aktif dalam festival sastra ini dengan program “Jambore Nasional Sastra.” Acara ini khusus untuk anak sekolah dari SD sampai SMA dengan tujuan memperkenalkan mereka dengan sastra dan melatih mereka mencintai membaca dan menulis di tengah derasnya godaan sosial media, game dan gadget canggih. (Kanya E. Graciella)

