Selasa, 23 April 2024

KEREN DIUNDANG DAYAK INTERNASIONAL..! Wakil Duta Besar Veronica Novoseltseva Kuliah Umum Tentang Dunia Multipolar di Universitas Mulawarman

SAMARINDA– Wakil Duta Besar Rusia, Veronica Novoseltseva memberikan kuliah umum di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman.

Kehadiran di Universitas Mulawarman, menghadiri undangan Dayak International Organization (DIO) Provinsi Kalimantan Timur, 22 – 24 Mei 2023.

Veronica Nosoveltseva didamping Ketua DIO Provinsi Kalimantan Timur, Dr Jiuhardi SE, MM, diterima Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Hadi Mulyadi, Senin malam, 22 Mei 2023.

Wakil Duta Besar Rusia, Veronica Novoseltseva memberikan kuliah umum di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman. (Ist)

Selain itu, Veronica Nosovoltseva, mengunjungi titik nol Ibu Kota Negara di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, didampingi tim dari Provinsi Kalimantan Timur.

Veronica Nosoveltseva, juga bertemu dengan komunitas Suku Dayak dan Nahdlatul Ulama di Provinsi Kalimantan Timur.

Jiuhardi mengatakan, dalam memberikan kuliah umum di Universitas Mulawarman, Samarinda, Veronica Nosoveltseva, menitikberatkan tentang dunia multipolar dan BRICS.

Dunia multipolar menghargai keberagaman, kemitraan sejajar, wujud penerimaan terhadap tradisi masyarakat beragam pada sebuah negara.

Dunia multipolar diusung Rusia dan China, dalam arti luas luas sebagai bentuk penghargan terhadap kebudayaan sebuah kawasan.

Konsep kemitraan sejajar sesuai misi BRICS, sebuah organisasi untuk menampung dan mewadahi negara-negara ambang industry yang dibentuk pada 16 Juni 2009.

Pertama kali BRICS dipakai oleh pakar ekonomi Amerika Serikat, Jim ONeal, seorang ekonom perusahaan keuangan global Goldman Sachs, pada tahun 2001.

BRIC adalah akronim dari Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa.

Pemimpin BRICS menjadi sebuah kekuatan perubahan, menjadi juru bicara negara-negara berkembang.

Negara-negara BRICS secara bersama-sama mewakili hampir seperlima dari perekonomian global.

Menurut Jiuhardi, dunia multipolar dibutuhkan untuk menciptakan perdamaian.

Konsep perdamaian di dalam dunia Multipolar antar negara bermitra sejajar, tidak boleh satu negara seenaknya mengatur dan menteror negara lain, untuk mencapai tujuan.

Perbedaan dalam sistem sosial, ideologi, dan sistem nilai yang dianut suatu bangsa jangan menjadi penghalang dalam pergaulan internasional.

Semua negeri, besar atau kecil, kuat atau lemah, kaya atau miskin, memiliki hak yang sama dalam komunitas internasional.

Tidak boleh ada pihak yang menciptakan hegemoni dan memonopoli hubungan internasional.

Keberadaan Gerakan Non-Blok sebagai “kekuatan penting yang mendukung multipolarisasi dan mendirikan tatanan internasional yang baru”.

Pertama kali BRICS dipakai oleh pakar ekonomi Amerika Serikat, Jim ONeal, seorang ekonom perusahaan keuangan global Goldman Sachs, pada tahun 2001.

Pemimpin BRICS menjadi sebuah kekuatan perubahan, menjadi juru bicara negara-negara berkembang.

Negara-negara BRICS secara bersama-sama mewakili hampir seperlima dari perekonomian global.

Sejarahnya, BRICS sekarang sejalan dengan Konsep Dasasila Bandung tahun 1955.

Dimana Presiden Indnesia, Soekarno, menggagas Asia Africa Summit, di Bandung, 18 – 24 April 1955, melahirkan Dasasila Bandung 1955, adalah sepuluh poin hasil pertemuan.

Dasasila Bandung 1955, berupa “pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerjasama dunia”.

Dasasila Bandung memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Jawaharlal Nehru.

Pertama, menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta aas-asas yang termuat di dalam Piagam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kedua, menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
Ketiga, mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil

Keempat, tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.

Kelima, menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB.

Keenam, tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain.

Ketujuh, tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara.

Kedelapan, menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.

Kesembilan, memajukan kepentingan bersama dan kerjasama

Kesepuluh, menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional.

BRICS sejalan dengan Dasasila Bandung 1955, dan dalam perkembangan kemudian lahir konsep dunia multipolar. (Apriansyah)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru